DAKON

Standard

Berakhir juga masa satu bulan tanpa menyentuh akun pribadi di FB, twitter, blog, dan Path. Rasanya, bisa kok, biasa aja. Sejujurnya karena masih buka-buka media sosial pake akun jualan, jadi nggak terlalu tersiksa. Dan hasilnya, bulan ini sudah baca 7 buku *senyum lebar*. Tujuh buku itu adalah Bliss (Kathryn Littlewood), And the Mountains Echoed (Khaled Hosseini), The Negotiator (Frederick Forsyth), N or M (Agatha Christie), Ledakan Dendam (Agatha Christie), A Dash of Magic (Kathryn Littlewood). Masih 8 buku lagi yang belum kubaca, sebagian beli lima ribuan sih :p.

Sedikit nyombong (iya kok emang pengen nyombong *dikeplak*), semua buku itu aku beli dari keuntungan jualan. Mungkin bulan ini udah abis hampir errrr sejuta. Oh ya, boros sekali, tapi aku kan butuh hiburan, dan kalau punya stok buku yang belum dibaca itu rasanya bahagia. Mungkin, ibuku di sana mengurut dada, satu-satunya orang yang sedikit menentang hobi anaknya koleksi buku ya ibuku ini. Karena apa? Karena anaknya suka kalap hehehe…

Pernah, suatu hari pas aku SMP, ibu marah karena aku beli buku Putri Huanzu (tau kan?), inget banget harganya 25 ribu. Dan akhirnya apa, buku itu hilang, lenyap, tak berbekas. Entah dicuri, entah keselip, pokoknya sampe sekarang ga ketemu. Sejak itu, ya sembunyi-sembunyi beli bukunya hehehe… Hampir semua buku Agatha Christie aku punya, sebagian mungkin masih ada di tangan temen-temen SMA yang pada minjem, ga pa pa, aku udah beli lagi wekekeke… Alhamdulillah adaaaa aja rejekinya. Buku Trio Detektif dan Lima Sekawan sudah tak karuan lagi rimbanya, tapi aku punya buanyaaaakkkk…

Waktu kuliah, ibu juga ingetin untuk ga sering belanja buku. Tapi ya gimana, jaman itu tempat paling nyaman adalah Togamas. Menjelang akhir masa kuliah, sering nulis resensi dan dapet buku gratis sih, udah gitu kalo dimuat di koran dapet 50rb dari kampus, belum lagi honor dari korannya, jadi ga berasa pake uang saku buat beli buku. Tapi yaaaa…. itu deh, kadang kan tetep besar pasak daripada tiang :p. Dulu sih, ga pake mikir yak.

Sekarang kalo beli buku pake mikir, karena satu ilmu yang dikasih sama ibu, dakon. Dakon aka congklak. Belajarnya ga langsung sih, tapi bener-bener berguna buatku yang ga punya penghasilan tetap ini. Liat aja gimana ibu menerapkan ilmu dakonnya selama ini.

Tau kan permainan dakon aka congklak? Kita ambil di satu lubang lalu disebar ke lubang-lubang lain termasuk satu lubang besar yang disebut lumbung. Lumbung itu artinya tabungan, sedangkan lubang-lubang kecil itu artinya kewajiban kita yang harus diisi. Boleh ga lumbungnya ga diisi? BOLEH banget, tapi jarang kan yang ga ngisi lumbung karena pasti kalah maennya😀.

Di kehidupan sebenernya, kehidupan pedagang kayak aku dan ibuku, ilmu dakon ini bisa diterapkan. Kalo dagang kan ada supplier, ada sales, ada pembeli, ada hutang, ada piutang, dan lain sebagainya. Semua poin itu adalah lubang kecil, sedangkan keuntungannya adalah lumbung.

Misal, tanggal 1 ibu saya gajian, artinya dapet duit (yang ga seberapa karena udah dipotong sana sini) tapi juga harus bayar tagihan koperasi. Di saat yang sama ibu harus beli telur bebek mentah buat bikin telur asin, atau harus belanja paku, karbit, atau semen karena stok di toko habis. Di saat yang bersamaan pula, anaknya yang no. 2 waktunya bayar kos, anaknya yang no. 3 minta jatah mingguan. Kalau duitnya banyak sih ga usah pusing, tapi kalau duitnya pas-pasan, dakon ini jawabannya.

Gimana cara ibuku mengakalinya? Ga tau pasti sih, aku cuma kira-kira aja ya. Pertama, orang yang pada bayar koperasi duitnya dipake dulu buat beli telur bebek karena jatuh tempo bayar koperasi biasanya tanggal 10 (kalo ga salah) sementara orang-orang kan bayar setelah gajian. Ada range waktu sekitar semingguan. Sebagian dari uang itu dikirim ke anak-anaknya. Telur asin yang sudah jadi dijual, sebagian buat bayar koperasi (nyicil) dan sebagian lagi buat belanja dagangan buat toko. Uang dari toko ini buat beli kebutuhan sehari-hari (seringnya kurang sih, apalagi kalo aku mudik, ransum buat Vio gede hahah…). Gaji ibu yang sedikit itu, dipake buat kulakan krupuk mentah (buat digoreng lalu dijual atau dijual mentahan). Untungnya ga gede, tapi bisa buat nyicil dagangan ke bulik. Selama 28 tahun aku hidup, menyaksikan jatuh bangunnya ibu ngatur duit kayak gitu, mau ga mau akhirnya bisa juga (terpaksa).

Kasusku, sedikit lebih sederhana karena anak baru satu. Aku punya 3 rekening yang menerima transferan dari customer, satu rekening itu atas nama Vio dan ada limit penarikan karena produk tabungannya taplus anak. Di rekening itulah aku nabung, biasanya yang transfer ke situ diendapkan alias ga diambil-ambil. Jumlahnya ga banyak karena memang bank bersangkutan jarang yang pake. Paling pol, sebulan lalu lintas transfer ke rekening itu cuma 5 jutaan. Marilah rekening Vio itu kita sebut lumbung.

Dua rekening lain, lalu lintasnya padat. Keluar dan ke dalam sama-sama lancarnya hahaha… maksudnya kadang sering kosong gitu loh. Pernah saldo BCA 15ribu saja, dan itu bikin aku nangis bombay, miris :p. Dua rekening inilah yang disebut lubang-lubang kecil dalam congklak, diisi untuk diambil kembali.

Bulan ini, kepala lumayan pusing karena dakon. Ada duit sekian lalu dibayarin ke sana, ada duit segini, lalu dibayarin ke sini. Udah PO ramekin ke pabrik belasan juta, ternyata lagi ada ramekin sisa ekspor yang murah meriah, jadilah kepala pengen pecah rasanya *lebay*. Lagi PO jam dinding rustic, tiba-tiba supplier lain nawarin jam telor ceplok yang lebih laku. Pusing pemirsa, akhirnya memang duit yang masuk itu ga pernah istirahat dengan tenang dan damai hahaha…

Detilnya apa yang aku kerjakan buat dakon? Sehari ini fokus jualan dan packing, setelah uangnya ngumpul lumayan, aku pesen jam dinding telor ceplok, satu masalah selesai. Ehhh… pabrik nagih DP ramekin, yak karena duit di rekening lain sudah ludes, jadi harus buka lumbung, rekening tabungan boleh kok dibobol wkwkwk… Besoknya harus bayar PO jam dinding rustic, marilah kita jualan dulu biar bisa bayar. Sehari ini posting beberapa foto untuk mengumpulkan uang biar bisa transfer tagihan jam dinding rustic. Lalu nasib ramekin sisa ekspor gimana? Dia baik-baik saja, sudah diamankan dengan sisa keuntungan yang telah dibayar ke sana-sini. Sampai gesek kartu debit dua biar tetep bisa bayar, saldonya seminim mungkin.

Selesai? Belum. Tiba-tiba sales buku sms mau nganter buku pesenan. Saldo nol, kewajiban masih ada. Jadi mari jualan lagi, share foto sesekali, bales-balesin komen, posting foto baru dan potret-potret barang yang belum sempat difoto. Alhamdulillah kalo masih ada waktu edit-edit foto.

Mak, nulisnya aja ngos-ngosan. Semuanya dipikirin sendiri, suami bantuin ngambil barang dan packing sesekali. Persis seperti ibuku, bapak bantuin juga masalah kirim-kirim dan transfer-transfer ke anak-anaknya, nyuci telor, ambil telor, nganter belanja. Bagian duit semua urusan ibu. Mengingat kompleksnya variabel keuangan yang diurusin ibuku, jadi aku usahakan ga mengeluh (tapi susahhhhh ya cyin…). Pusing-pusing ya dibawa enjoy aja. Kalo udah mulai pengen istirahat, ya mari kita tidur, kalo pengennya baca buku, ya mari kita baca buku. Dalam kondisi begini, biasanya males kalo tiba-tiba ditanyain tentang dagangan, jadi jauh-jauh dari hp atau matiin wifi :p.

Jadi pedagang itu ga gampang, bener kan? Aku baru menyadari setelah terjun sendiri hihihi… Selama ini ga ngerti jungkir baliknya ibuku. Cuma mengamati dari luar saja bagaimana ibuku lebih cepat menua. Makanya kadang aku sebel to the max kalau ada yang bilang, “Kamu enak ibumu pegawai negeri punya toko pula, masih jualan telor asin yang laris manis pula,” atau, “Mbak sih enak pelanggannya udah banyak, jadi posting apapun laku,” atau kalimat santai dari seorang teman di sosial media yang dengan entengnya bilang, “Ika sekarang bukan Ika yang dulu tapi Ika yang omsetnya 40juta.” Itu jadi pedang yang menusuk ulu hati, mematikan. Itulah yang membuatku akhirnya puasa sosmed untuk akun pribadi hehehe…

Sesungguhnya, selalu ada kesulitan yang tak perlu orang lain tau, bahkan tak perlu diceritakan kepada orang lain. Semua bagian dari proses perjuangan. Tak banyak yang tau, sebelum punya Dapur Hangus, aku udah punya dua usaha yang kolaps. Tapi kolapsnya usaha itu menjadi pelajaran berharga. Semoga ga kejadian lagi. Ketika usaha itu tutup, aku bahkan tak bisa beli satupun buku. Jadi, ketika sekarang aku bisa beli buku dengan nominal ratusan ribu dari keuntungan Dapur Hangus, jangan iri. Untuk bisa membeli buku lagi, ada kerja keras, air mata, doa, letih, dan keringat yang menghiasi dua tahun terakhir. Tapi, masih panjang jalan menuju kesuksesan. Apalagi kalau sukses versi teman-teman MLM, tinggal ongkang-ongkang kaki, wahhh…jalannya masih terjal.

Bagiku, ibuku orang sukses. Setiap orang sukses, pasti punya cerita. Bagaimana Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan P. K. Ojong berjuang. Bagaimana Aburizal Bakrie, Harry Tanoe, dan Surya Paloh bisa punya usaha yang menggurita seperti sekarang. Kebanyakan hanya mengritik ketika Facebook semakin matre atau ketika Harry Tanoe semakin narsis atau ketika Aburizal Bakrie memeluk boneka Teddy Bear atau ketika Kompas menutup Majalah Sekar. Bacalah biografi, bacalah buku, dan jadilah orang yang berbeda sesudah membacanya.

Dari N or M-nya Agatha Christie, aku belajar satu hal yang penting sekali. Di masa perang, perkataan tidak akan menyakitimu. Anggaplah saat ini masa perang aka perjuangan, hanya bom atom yang menyakitimu. Jadi, cuekinlah kalo ada yang komen-komen negatif, ga usah dibaca, skip ke komen positif aja. CATET!

Belajarlah untuk belajar. Dan satu hal yang aku pelajari dari ibuku adalah “dakon” yang sesungguhnya, bukan sekadar dakon alias congklak. Dakon itu ga mudah, Jenderal!

Peace, Love, and Gaul!

12 responses »

  1. inspiratif. aku jualan kue karena pengen punya dana operasional sendiri buat biayai kegiatan sosial aku, supaya gak ganggu cash flow dana rumahtangga. walupun kadang ada bolong-bolong dikit dan terpaksa bobok lumbung juga sesekali tapi punya komitmen kudu dibalikin secepatnya.

  2. Weeeeh yg punya blog baruuu.gak undang2 niiih.baru tau* basi yak. Yess yess.aq suka ilmu congklak alias dakon. I adore u mbak.awalnya sebel sih,klo minta diskon suka dijutekin,mulai dari komen nyinyir,pedes setajam silet. Untung skrg tau deh kesininya,trnyata mbk Ika sungguh keren. Apalagi gak suka menye2 di sosmed. Haha. Jd pedagang itu kudu punya hati besar dan kuat. Aq buyer yg tak suka pedagang cengeng* hihi. Sadiiis dan sarkas ya pernyataan saya. Catet!

  3. aku belum punya lumbungnya. mestinya bikin rekening satu lagi buat nabung. hahaha, selama ini lancar jaya keluar masuk aja. lancar keluarnya dan lancar masuknya. inspiratif ka sukaaa

  4. Wwwwwaaaw baru tau, filsafat dakon ini. Bsk ajak anak2 main dakon ah…. Sambil ngajarin beginian.
    Ika, makin love you deEh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s