Bad News is a Good News? NO!

Standard

Rasanya sampe mau muntah jaman kuliah denger kalimat bad news is a good news. Berita yang buruk selalu dicari. Misalnya berita pembunuhan seorang mahasiwa oleh pasangan kekasih beberapa waktu lalu, hebohnya subhanallah deh. Aku termasuk salah satu yang mengikuti dan yakin kalau dua sejoli yang membunuh itu “terinspirasi” (Naudzubillah) oleh pembunuhan Sisca Yofie yang sadis.

Bad news tentu saja tak selalu laku, tapi selalu dicari. Good news, seperti kemenangan tim Persib selalu berhasil mendongkrak oplah koran lokal sampe hampir dua kali lipat esoknya. Karena itulah, koran lokal selalu berusaha menyajikan foto paling spektakuler dan berita dari berbagai sudut pandang, plus tentu saja headline halaman 1.

Beberapa tahun lalu, saya sempat ngobrol dengan GM Radar Kediri, Pak Sholihudin. Beliau bilang teori bad news is a good news salah besar. Aku ngotot itu benar, tapi dengan kalem beliau menjawab, “Kalau bad news berhubungan dengan keluarga wartawan, atau perusahaannya, atau tim sepakbola kesayangannya, tentu saja itu bukan good news.”

Percakapan itu terhenti, aku udah lupa pula setelah sekian tahun. Sampai kemaren dan kemarennya lagi. Minggu, 16 Maret 2014, terjadi longsor di daerah Alam Sejuk (dulunya), di area warung makan Saung Wargi, Jalan Kolonel Masturi Lembang. Sudah bukan cerita lagi kalo kami lagi puasa TV, jadi liat berita tentu saja dari timeline twitter.

Najip: “Alam Sejuk longosr, satu tertimbun.”
Iko: “Ohhh…” (cuek 100 persen, udah biasa Lembang longsor, jadi ga ada empati blas sama yang tertimbun.)

Esoknya paginya…
Alvin (adekku yang kecil): “Mbak ada anak Fikom tertimbun longsor.”
Iko: “Iyo, udah takdir. aku gak kenal, udah 9 tahun lalu aku kuliah.”
Alvin: “Dia anak SMP 1 dan SMA 2, adek kelasmu pisan.”
Iko: (Panik maksimal, cari-cari berita di twitter, search namanya, dan meledaklah tangis).

See, bad news tak selalu good news. Aku tentu saja tak kenal korban. Tapi, membayangkan dia pernah berlari di lapangan yang sama, maen voli di lapangan sekolah yang sama, makan soto di kantin yang sama, antri pecel di kantin Bu Pin, dan berjalan di Plasa Fikom yang sama membuat aku merasa langsung dekat.

Tentu saja, aku akhirnya tahu dia pergi ke sana untuk “menjamu” temannya yang sengaja datang dari Surabaya. Kami dulu sering melakukan hal yang sama, semasa masih tingkat 1 dan 2. Di Bandung, ada yang namanya Ald_smada (mungkin sekarang jadi ald_kediri?), paguyuban tempat ngumpulnya alumni SMA 2 Kediri dan SMA lain (biasanya sedikit soalnya). Setahun dua tahun pertama di Bandung, kami menjadi panitia study tour (istilahnya SKAL, Studi Kenal Alam dan Lingkunga) yang berkunjung ke Yogya, Bandung, Jakarta selama seminggu penuh. Jadi, wajar kami dekat, tak hanya dengan sesama Unpad, mayoritas kuliah di ITB dan STT Telkom. Wajar juga jika korban yang tertimbun kemaren semuanya alumni SMA 2 Kediri dan ada yang dari ITB.

Anda SMADA KITA SAUDARA, begitulah slogan Ikatan Alumni SMADA (IKASMADA). Terkadang berubah jadi bercandaan ANDA SMADA KITA BERJODOH saking banyaknya yang berjodoh sesama SMADA. Kemaren saya merasakan benar betapa aku merasa dekat dengan korban, merasa sakit, dan merana karena korbannya begitu “dekat” denganku.

Aku masih terus sesenggukan sambil balesin komen-komen di FB, sampai akhirnya nonton streaming di detik.com yang menunjukkan rekaman ibu korban sedang menangis. Ya tentu, aku langsung mewek lagi. Pol-pol an. Kepikiran terus. Menebak-nebak, dia pasti anak yang baik, Allah sayang dia hingga begitu cepat mengambilnya.

Sesiangan itu kerjaanku ya BBMan sama Ajeng, sesama Fikom dan SMADA. Memastikan dia kenal, adiknya si ini atau si itu. Tapi buntu. Oh ya, karena Kediri itu kecil, biasanya adikku temenan sama adiknya temenku, begitulah seterusnya, apalagi kalau sekolahnya masih seputaran SMP 1, SMP 4, MTS 2 atau SMA 1 dan SMA 2 biasanya kenal. Alvin, adekku yang sekarang tingkat 2, otomatis sempat satu sekolah dengan korban, setidaknya 2 tahun di SMP 1 (SMAnya Alvin di Malang, jadi nggak ketemu pas SMA).

Galau mau ke TKP karena cuma 3 km dari rumah kayanya, tapi ujan. Pas sore pengen ke Unpad, masih ujan juga dan packingan setumpuk. Berhasil packing 24 paket sehari, ringsek pula rasanya badanku. Kepala pusing kebanyakan nangis pula.

Abis Maghrib, Canggih, temenku sekelas waktu SMA (kalo ga salah ya Nggih) bilang Meis, korban, adalah adik sepupunya. Dia bilang Meis anak tunggal dan anak baik. Liat kan, dia anak baik, orang baik selalu dipanggil duluan. Allah sayang kamu dhek (sambil mewek ngetiknya). Lalu Iken, temen seangkatan juga cerita kalo dia temen satu kosan adiknya (sama-sama kuliah di Unpad). Ibunya Iken sering dengar suara Meis karena sering nelpon Cyntia dan Meis ikutan urun suara. Ketika jenazah disholati di Unpad, Cyntia adik Iken nggak bisa di telpon. Ibunya panik, dan akupun semakin sedih.

Gabungan capek dan capek nangis, malem itu aku tidur nyenyak. Beberapa kali bilang ke Najip pengen dihibur, tapi sebelum dia buka mulut aku udah nebak dia bakal bilang apa.

Iko: “Hibur aku dong!” (diam sedetik) “Pasti mau bilang aku menghiburmuuuu….”
Najip: “Iya, aku menghiburmu.” (ngakak)
Trus udah gitu doang, ga ada hiburan semacam kata-kata ya udah sih kamu gak kenal atau ya udah sih semua orang pasti mati. Dasar…

Bad news not a good news, akhirnya aku tau maksudnya. Tapi, satu teori lagi, berita akan dibaca jika memiliki faktor kedekatan. Bukan cuma geografis (buktinya aku ga tertarik tuh biarpun tempat longsornya sekecamatan sama rumah), tapi kedekatan emosional. Aku ga kenal Meis, sekali lagi ga kenal, tapi aku begitu sedih dan merana (sambil mewek). Mungkin kami sempat belajar teori komunikasi yang sama, faktor kedekatan objek berita, mengubah segalanya.

Selamat jalan dhek, tenang di sana. Pokoknya doaku untukmu ya Meis, maafkan tak sempat mengenalmu. Semoga tempat barumu menyenangkan. Aminn…

*mau ngelanjutin mewek dulu di kamar mandi*

6 responses »

  1. salam kenal ya mbak..
    Ohh…aku menghiburmu….
    jangan mewek lagi yeee…

    iya ihhh…sama kejadiannya dengan berita MH370, karena ada adek satu almamater yg jadi korban…
    jadi merasa sedih banget gitu ya…
    padahal kalo ada kecelakaan pesawat di luar negeri mah, ditanggepin biasa aja..

    • halo salam kenal… iyaaa… udah ga mewek sih, tapi udah stop baca berita2nya. Sekilas ada yg share di FB jenazahnya ditutup jas almamater, udah panas lg dadaku😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s