Karena Medhok adalah Indonesia

Standard

Anda asli Jawa? Tinggal di daerah lain yang mayoritas berbahasa Indonesia atau bahasa daerah lain, lalu Anda medhok? Beuhhh, kita nggak temenan yeee *sombong*. Tenang aja teman-teman, Anda temennya Pak SBY dan menteri-menteri yang medhok lainnya. Cieeee..keren banget temennya. Saya orang Jawa, tapi sori dori mori saya ga medhok dong…

Kok bisa? Saya dulu tertampar oleh paparan seorang dosen di kampus ketika semester awal kuliah. Beliau orang Jawa, tapi fasih berbahasa Sunda. “Mahasiswa komunikasi harus fasih berbahasa apapun, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Medhok? Nggak lah ya,” begitu kata Bu Dosen. Saya mencerna kata-kata tersebut, dalam hati, “Malu dong sama kucing di kantin yang suka makan lotek hahaha..binatang aja semudah itu beradaptasi :p.”

Ketika pertama kali indekos, saya supersetres ditanya, “Bade, neng? Sabaraha?” Padahal itu kosakata Sunda paling mendasar dan masih mirip-miriplah dengan bahasa Jawa. Lalu, saya mulai belajar bahasa Sunda dan berlatih menghilangkan medhok. prosesnya tidak mudah. Beradaptasi dengan lingkungan orang Jawa Barat aja butuh waktu, belum lagi harus terbiasa jauh dari orangtua, hanya bertemu ketika libur dengan menempuh perjalanan semalaman. Menghilangkan medhok? Boro-boro deh, apalagi belajar bahasa Sunda. Nol besar!

Pendeknya, belajar bahasa Sunda selama 4 masa kuliah di Jatinangor cuma menghasilkan kosakata geuleuh, buuk hapeuk (ala Irfan Fitrat), bengeut goreng, dan kosakata yang entah artinya apa ala trio Anggi, Emma, Deka. Gagal total! Saya belajar bahasa Sunda setelah menikah dan tinggal di Lembang. Mau nggak mau ya harus belajar, kalau nggak, bisa berabe deh belanja ga ngerti ini apa itu apa. Untung juga punya suami yang meskipun ga seganteng Matt damon, tapi baik hati dan suka ngasih duit aheyyy.

Menghilangkan medhok? Berhasil dong pastinya *bangga*. Agak lama memang, tapi ya pokoknya berhasil. Setelah hampir setahun, saya nyaris bisa menghilangkan aksen Jawa setiap kali ngomong. Entah ini bawaan dari lahir yang superkeren atau memang karena keinginan kuat dari hati paling dalam *tsssaaahhh*. Ada dua hal yang lucu terkait proses menghilangkan medhok ini.

Pertama, ketika awal-awal kuliah, saya masih sering main ke kosan temen-temen sekampung di Siliwangi. Sering rapat SKAL, semacam studytour untuk adik-adik SMA gitu deh. Wajar ya kalau ketemu temen trus ngomongnya bahasa daerah. Saya pun begitu. Kalau rapat, yang terdengar ya bahasa bilingual ga jelas gitu, mau bahasa Indonesia kok medhok mau bahasa Jawa tapi kok ya ngomongnya Indonesia, mau bahasa Inggris wes yo ra mungkin banget hahaha… Nah, tiap kali rapat sama mereka, kemedhokan saya otomatis muncul. Ya, semacam pakai remote control gitu, tapi nggak tau deh siapa yang ngontrol. dalam hati sih pengen ketawa sendiri, akhirnya saya ya ngomong pake bahasa Jawa aja, nanggung sih.

Kejadian ini berlangsung sampai dua tahun lebih, tiap ketemua mereka dan ngomong bahasa Indonesia, medhok pasti deh keluar. Lama-lama semakin jarang juga berinteraksi sma mereka karena sibuk, akhirnya semakin lama bisa menyesuaikan juga. Berarti bisa ditarik kesimpulan kalau mau menghilangkan medhok ya jangan terlalu sering gaul sama orang Jawa lagi.

Kedua, saya nggak medhok tapi kalau dengerin rekaman suara sendiri pasti de medhok-medhok juga. Kok bisa tau? Ya, dulu kan sering wawancara trus direkam pakai tape recorder, jadi pas bikin transkrip, ketauan deh medhoknya hahahaha *ngakak sendiri.

Satu kejadian paling memalukan tapi orang lain nggak tau sampai sekarang adalah saya pernah ngerekam suara sendiri di kamar kos nyanyi lagunya Ungu yang judulnya Demi Waktu. Maklum ya, waktu itu belum musim tempat karaoke jaman sekarang, apalagi ga ada mol di Jatinangor, boro-boro deh mau ke karaoke. Jadi, pengen dengerin suara merdu sendiri gitu deh ceritanya ehem, tapi yang ada malah ketawa sendiri ppas dengerin hasilnya, medhoknya ga ketulungan.

***
Setelah menikah, suami saya sering bilang si A medhok, si B juga medhok. Yang dimaksud medhok oleh suami saya ya pasti orang Jawa, rata-rata udah tua hihihi *maap yang ngerasa*. Tapi, sebenarnya ada aja teman seumuran yang medhok, kadang malah bangga dengan medhoknya. Rata-rata mengidentifikasi dirinya medhok karena Jawa dan itu wajar. Pak SBY kalau ga medhok, mungkin tak akan bisa jadi presiden lho! Bener, Indonesia masih Jawasentris kan, itu ga bisa dielakkan harus diakui. Bisa saja, mungkin ya, kalau Pak SBY ga medhok, yang menang dan jadi Presiden adalah JK, misalnya *cieeeee sok analisis banget sihhh*. Kalau selain orang Jawa, memandang medhok itu negatif, setidaknya begitulah orang-orang yang saya kenal.

Tentu saja saya semakin sukses menghilangkan kemedhokan saya setelah makin bergaul dengan para rahayat di tanah Sunda. Sampai ketika wawancara buat skripsi di Surabaya, beneran dikira orang Sunda lho, padahal via telepon wawancaranya *bangga lagi, kesandung deh ;p*. Justru sekarang kalau ngomong bahasa Indonesia pas mudik harus pura-pura medhok aja biar orang-orang ga aneh hihihi..

Tapiiii, saya masih memandang medhok bukan dosa. Medhok itu sooooo Indonesia, lihat saja kasus Pak SBY tadi. Masih malu untuk medhok? Jangan dong! Karena medhok itu Indonesia sekali hihiii…

10 responses »

  1. Bapak saya tinggal di Bandung sejak tahun 1957, tapi sampai sekarang tetap medhok kalau ngomong …😀. Malah aneh kalau ngomong pakai bahasa sunda ….

    Saya sendiri bahasanya campur2, walau gak medhok ..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s