Pencitraan Oh Pencitraan

Standard

Aku pertama kali mendengar kata pencitraan ketika kuliah semester 1 di Fikom Unpad. Ya, disitulah pertama kali dijejali teori-teori komunikasi yang tak terkira banyaknya. Harold Laswell, Littlejohn berkelebatan di berbagai buku yang aku beli di Pasar Buku Palasari. Dibaca? Tentu tidak! Hahaha…bangga gini ga baca. Bukan bangga sih, tapi semua sebenarnya sudah terangkum dalam buku Pengantar Ilmu Komunikasi-nya Profesor Deddy Mulyana. Jadi, setelah muter-muter, ya di buku Pengantar Ilmu Komunikasi itulah pertama kali mndengar kata pencitraan. Saat itu, 2003, aku masih muda tentunya, pencitraan belum sengetop sekarang.

Sekarang, jamannya social media, sehari ga twitteran rasanya kayak lupa minum obat. Sejam ga ngecek notifikasi Facebook, kayak kucing ilang buntutnya. Ya, aku juga sih termasuk yang ketagihan main-main di socmed, kadang cuma mengamati, kadang komen sana sini, kadang cuma update lalu dibiarkan begitu saja. Katanya sih, socmed itu media buat pencitraan. Benarkah?

Ya, kalau versiku sih pasti bener ya. Walaupun kadang twit atau statusku suka ga pengen sama kayak yang lain, antimainstream gitu ceritanya, semua tetap pencitraan. Misal, aku paling ga tahan kalau ada yang bilang masak dengan cinta. Mengapa? Heloooo, aku masak pakai kompor lho hahaha… Bahkan bumbunya ga ada tuh yang namanya cinta, ada juga jahe, lengkuas, sereh, garem, merica, gula. Plakkk! itu cuma kiasan kali Ika. Oiya ya…

Lalu selanjutnya kalau lagi nonton Masterchef, orang-orang di twitter suka pada komen Chef Juna yang lebay kan, tapi aku sih malah update status kalau rebutan Juna sama Vio. Hihihi… Jujur, sebenernya ga ngefans sama Juna segitunya, itu cuma pencitraan antimainstream aja. Katanya Juna itu superdrama dan lebay, kalau nggak suka sih gak usah nonton ya, tapi orang kan berhak komentar. (Buru-buru masuk dalam karung biar ga dilabrak Juna haters).

Sebenarnya lagi, ngefans sama Juna adalah bukti rivalitas dalam rumah tangga, biar Najip yang ngefans sama farah QUinn ada penyeimbangnya gitu. Kan ga seru aja kalau suami ngefans Farah Quinn yang cantik dan seksi, lalu istrinya ngefans Rudy Choiruddin. Cuma biar sejalan dan seimbang gitulah hahaha…

Pencitraanku yang lain lagi, kalau lagi posting di Dapur Hangus suka bilang-bilang Kitchen Aid kan, padahal sebenernya aku pengen mixer Bosch. Loh kok? Ya soalnya kalao aku bilang Bosch di Dapur Hangus, ga lucu aja kalau ada yang nggak ngerti. Emang bor bisa buat bikin adonan roti? Hahaha… Ya kan ga semua orang tau kalau Bosch juga ngeluarin mixer, selain bor warna ijo yang berat dan keren itu. Kalau Kitchen Aid, nah wajar ya kayaknya semua orang paham (belum tentu tahu) kalau itu alat dapur, ada kitchen-kitchen gitu kan.

Jadi, kalau suatu waktu aku update status seperti di bawah ini, cuma biar lucu aja sih. Ga pengen juga sebenarnya, tapi kalau ada yang beliin sih ga nolak *suka gratisan*.

Ngelus-elus KA Artisan merah, semoga dia cepet inget jalan ke rumah. Aminnn…:))

Kok suka Bosch sih, Ka? Alasannya ga mendasar sih. Cuma karena aku suka banget sama trilogi Jason Bourne, salah satu adegannya dia ngintip gitu di tulisan BOSCH, ceritanya si Bourne ini lagi kabur ke Jerman. Gitu doang? Nggak sih, sebelumnya Najip dipinjemin ibuku bor Bosch, udah bahagia aja kirain dikasih, eh ternyata diminta lagi. Makanya kalau liat yang merk BOsch tuh suka klepek-klepek. Jujur aja sebenernya baru tau kalau Bosch juga ngeluarin produk mixer, tapi aku ga bilang-bilang, namanya juga pencitraan hahaha… crot!

Yang paling seru sih emang sejak punya blog di Dapur Hangus, banyak yang ngira aku suka masak atau pinter masak. Salah besar! Bikin mie goreng aja masih sering keasinan kok :p, kalau ga percaya tanya ke Najip atau Vio deh. Ya tapi aku sih pede aja, asli cuma modal pede karena kalau modal duit ga punya juga hihihi…

Selain itu, jadi sering banyak yang nanya kalau masak ini gimana caranya, masak itu gimana caranya. Kalau udah pernah masaknya sih ya dijawab sebisanya. Tau ga sih, sebelum jawab pertanyaan itu aku googling dulu hihihi *langsung hancur pencitraan*. Takutnya kan salah juga udah ngasih saran ini itu tapi ga bener, dosa nggak sih? mending tidur kan daripada gitu, ngiler juga ga dosa. Cuma ya kasian aja sih bantalnya bau iler hiiii…

Karena belajar komunikasi, kadang aku jadi sensitif kalau baca bahasa tulisan. Ini entah bawaan orok atau karena bacaan waktu ABG, atau entah karena kebanyakan baca buku komunikasi jadinya tiap ada yang ngetwit A, aku langsung bisa mengira-ngira sebenarnya ga A. Misal nih, ada yang bilang anaknya makan banyak, aku ga langsung percaya. Banyak kan relatif, kali aja anaknya makan sampai 20 suap tapi pake sendok mini. Beda aja sama tetanggaku yang ngasih makan anaknya umur 2 tahun pakai sendok makan orang dewasa. Mungkin kuantitasnya sama banyaknya, tapi yang pake sendok makan cuma 5 suap, yang pakai sendok teh 20 suap.

Heiii..ibu-ibu yang di sana, jujur aja deh, suka pada terintimidasi kan kalau ada yang bilang anak orang lain makannya banyak (sambil ngaca). Aku juga kok, bawaannya setres kan kalau anak ga mau makan trus orang lain bilang anakku hari ini makan banyak? Tenang, inget-inget perbandingan sendok itu aja hihihi…

Ada lagi yang suka posting foto-foto makanan di Facebook atau Twitter. Fotonya bagus-bagus, semua orang suka, likenya puluhan bahkan ratusan. Tujuannya? Ya pencitraan biar dibilang bisa masak dong! Atau biar dibilang bisa motret *ngaca lagi, ternyata masih ada belek, eh :p*. Untungnya aku insyaf ya ga posting-posting foto makanan di Facebook dan twitter, takut aja orang serangan jantung pas liat kenyataan aku sama Vio kurus padahal suka posting foto makanan. Namanya aku nyadar pencitraan ga sesuai.

Tapi kok posting di blog? Sebisa mungkin di blog aku tetap jujur kalau bikin ini itu, masak tiap hari itu susah. Ya emang bener kan? Masak itu susah-susah gampang, salut deh sama yang tiap hari klutekan di dapur, masih sempet poto-poto masakannya, trus ga gendut-gendut juga *ngaca lagi, ternyata aku cantik juga hahahaha*. Coba aja deh, kalau ada yang bilang bisa masakin anaknya macem-macem, tapi anaknya tetep kurus, orang pasti ga percaya dia bener-bener masak. Itulah mengapa para ibu berjuang agar anaknya gendut, makanya modisco dan nabeez ramai banget dibahas. Padahal, kalau kurus ya kurus aja, bawaan bayi, turunan gen kan bisa juga. Udah mulai nglantur deh bahasannya.

Pencitraanku apa lagi ya? Oya, aku ga bilang di twitter atau Facebook kalau aku ngajarin Vio kalau pup Vio bau pup ibu wangi kan. Si Vio tiap pup pasti deh bilang pup siapa yang wangi dan pup siapa yang bau. Tapi kan aku ga pernah cerita aja, bisa ancur deh pencitraan kalau di socmed ngomongin pup. Lah, kok sekarang cerita? Keceplosan :p.

10 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s