Menggali Inspirasi

Standard

Beberapa waktu lalu saya kehabisan ide untuk menulis di blog. Buntu, tak bisa memulai menulis. Setidaknya ada dua sebab. Pertama, saya bukan orang yang bisa menulis langsung di depan layar komputer. Saya tipe orang yang harus menulis dulu beberapa kata di kertas baru kemudian mengetiknya kembali di atas keyboard. Kata suami saya waktu pacaran dulu, “Kamu seperti Tan Malaka, selalu menulis di buku catatan,”
(Itu dulu versi pacaran, kalau versi sekarang ya, “Ngapain sih minjem-minjem bolpoin buat coret-coret, mending di laptop tuh, dipinjemin.”)

Sebab ke dua, saya tentu saja kehabisan bahan bakar untuk menulis. Saya kehabisan ide karena otak tak diberi makan. Selain itu, saya tak punya waktu untuk sendiri, untuk menggali inspirasi. Sedikit-sedikit harus ‘melayani’ bos kecil, mandiin, ambil sendok, ambil minum, nemenin main, anter jalan-jalan ke sawah, dan sebagainya. Waktu saya habis untuk membuat rumah sedikit layak untuk ditempati dan tak seperti kapal pecah. Pendeknya, saya tak ada waktu untuk menggali inspirasi.

Bahkan, saya sudah lupa lho bagaimana saya mendapatkan ide-ide untuk menulis ketika masih kuliah dulu. Waktu masih muda, rasanya ide selalu mengalir deras. Kadang satu belum selesai ditulis, satu lagi sudah muncul. Karena itu, kadang saya menuliskan beberapa poin ide di sebuah buku saku yang saya bawa ke mana-mana (tentu kalau rajin ya).

Bagaimana Anda mendapatkan ide untuk menulis?

Seorang teman saya harus menyalakan rokok lalu memainkan rokok itu di tangannya agar ide mengalir deras. Ada juga orang yang harus menyendiri, masuk gua mungkin, agar tulisannya selesai seperti yang diharapkan.

Orang lain mungkin harus duduk merenung di atas genteng agar kepalanya dipenuhi lampu-lampu seperti di film kartun. Ibu saya harus bangun pagi-pagi buta agar bisa menulis dengan tenang (dalam kasus ibu, menulis soal ujian karena beliau guru).

Ada juga yang harus shopping habis-habisan agar bisa memulai menulis. Ada pula yang mendapat ide setelah makan, setelah olahraga, atau setelah berkebun. Yang paling beruntung tentu saja orang yang bisa mendapatkan ide ciamik hanya dengan menghadap komputer.

Seseorang bisa saja terinspirasi senja, matahari terbit, bulan purnama, atau air yang mengalir. Individu lain bisa jadi berbeda. Inspirasinya hilang ketika matahari mengintip di ufuk timur. Bagian yang manakah Anda?

Bertahun-tahun tak menulis membuat saya lupa bagaimana cara saya menggali inspirasi. Kalau hanya tentang anak, tentang Vio, setiap hari saya bisa menulis sebaris dua baris kalimat. Bagaimana dengan hal lain? Saya berjuang untuk mendapatkan cara tepat mendapatkan ide.

Dulu, ke manapun saya pergi selalu naik motor sendiri. Saat itulah biasanya ide-ide segar bermunculan. Angin yang menerpa wajah, tangan yang berkonsentrasi pada stang, serta mata yang lurus menatap jalanan justru membuat otak bekerja dengan baik. Mengapa sekarang tak bisa? Karena saya ke mana-mana naik motor dengan Vio di gendongan. Mau tak mau, yang utama buat saya adalah keselamatan kami sampai tujuan, tak sempat memikirkan yang lain.

Selain di atas motor, ide-ide akan muncul ketika saya berlama-lama di kamar mandi. Menikmati wanginya lulus, harumnya shampo, serta menyusun tumpukan sikat gigi. Hal-hal tak penting tapi bisa membangkitkan ide.

Saat ini? Semua tak mungkin. Jangankan bisa berlama-lama di kamar mandi dan memikirkan ide tulisan, bisa mandi sehari sekali saja sudah menjadi prestasi besar yang layak diganjar medali emas (sebuah eufemisme untuk errrr males mandi hahaha). Makanya jangan heran kalau blog ini sepi postingan, percayalah itu berbanding lurus dengan kerajinan saya mandi. Semakin sering mandi, semakin banyak waktu saya untuk memikirkan ide-ide yang berlompatan di kepala dan begitu pula sebaliknya (jorok dot kom).

Kebetulan sekali, postingan ini saya buat ketika saya selesai mandi dan meratapi mengapa blog ini sepi posting. Alhamdulillah saya punya sedikit waktu melipir di kamar merangkai kata di atas keyboard smartphone. Angkat topi untuk blogger-blogger perempuan yang rajin sekali memublikasikan tulisan dan membalas komentar satu per satu. Saya, sayangnya, belum mampu untuk saat ini. Semangat!

6 responses »

  1. Jika blog kita isinya campur-campur seperti BlogCamp yang saya miliki untuk menggali dan mendapatkan ide sungguh mudah. Apa yang kita lihat,kita dengar,kita rasakan dan kita alami bisa dijadikan bahan tulisan. Bahkan ide itu bisa kita dapatkan dari tubuh kita sendiri, katakanlah 9 lubang yang ada pada tubuh kita bisa menjadi inspoirasi untuk menulis.

    Saya ambil contoh : ketika anak kecil menangis maka kita bisa membuat artikel berjudul “Beberapa faktor yang menyebabkan si kecil menangis “. Anda tinggal membuat point-point : Sebab anak menangis , cara mengatasinya.

    Sekarang silahkan masuk ke kamar mandi, lihat kiri-kanan. Nah anda bisa membuat artikel berjudul : “Cara memilih sikat gigi yang tepat ” atau ” Cara mencegah kamar mandi bau tak sedap”

    Menjelang Ramadhan andapun dapat menulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan puasa, persiapan lebaran, tips mudik dengan aman dan nyaman, masakan untuk berbuka puasa dan lain sebagainya.

    Ketika jeng melihat TV bisa membuat resensi sinetron, tips mencegah anak keranjingan nonton TV, dll

    Sekarang perhatikan mata anda, lalu buat tulisan : tips memliih kacamata, cara mencegah kelelahan mata ketika ngeblog, dan lain-lainnya

    Ketika melihat bputra-putri anda pulang dari sekolah, anda juga bisa membuat artikel berjudul ” Pentingnya anak sekolah berpakaian seragam, bukan.

    Demikian jeng cara kita menggali ide yang jumlahnya jutaan dabn tersebar disekeliling kita.

    Semoga bermanfaat.

    Salam hangat dari Surabaya

    • Pakdheee…. komen Njenengan dihadang akismet, tiap posting link di warung blogger, pasti yang komen masuknya ke spam, kenapa ya? Terima kasih saran-sarannya, lagi mecut diri sendiri biar lebih rajin mengasah panca indera ini. Matur suwun sanget😀

  2. menulis itu menurut saya itu ibarat mengasah pisau.. semakin diasah semakin tajam, jarang diasah lama-lama bisa tumpul atau malah karatan.

    Tapi saya yakin kok kalau mbak Rahma emang punya latar belakang dan bakat menulis, pisau itu akan cepat tajam lagi kok.

    salam kenal mbak

    • Salam kenal jugaaaa…🙂. Yups, pisau! postingan di blog ini senin kemis, senin kalau ga lupa, kemis kalau ga males. Terima kasih sudah menyempatkan komen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s