Renungan Kecil

Standard

Smartphone saya bergetar, pertanda ada notifikasi dari grup. Saya membuka lalu membacanya. Seketika darah seperti beku, bulu kuduk merinding. Pipi tertampar berkali-kali, lalu dada terasa sesak. Saya tertohok oleh sebuah cerita sederhana tentang pecel lele.

Sudahkah kita bersyukur terhadap apa yang kita makan setiap hari? Ayam renyah dari restoran fastfood terkenal yang hangat, pizza dengan bermacam-macam topping yang lezat, serta berbagai olahan daging lainnya sering kita kita santap. Namun, sadarkah Anda di sebuah sudut kota Anda ada sekeluarga yang hanya bisa menikmati pecel lele hanya ketika anaknya berulang tahun? Ya, hanya sebungkus pecel lele. Harganya tak sampai sepuluh ribu, tapi belum tentu sekali dalam setahun mereka menikmatinya.Kalau kita? Sudah bosan dengan pecel lele, berpikir berulang kali untuk makan pecel lele di pinggir jalan karena masalah kebersihan, minyak goreng yang dipakai ratusan kali, penyedap rasa, dan karena gengsi.

Malam itu saya baru pulang dari luar kota, karena usdah sangat lapar, saya mampir ke warung pinggir jalan yang menyediakan pecel lele dan makanan sejenisnya. Sekilas tak ada yang salah di warung itu, sampai datang seorang bapak dengan gerobaknya. Ia seorang pemulung. Dalam gerobak itu ada seorang anak kecil, berusia sekitar 11 atau 12 tahun. Sementara di samping si Bapak, ada istrinya yang membantu mendorong gerobak.
Sang Bapak masuk ke warung, lalu memesan sebungkus pecel lele, sementara saya sedang asyik dengan pecel lele di piring saya. Setelah pesanannya selesai, dengan bahagia si bapak mengangsurkan bungkusan itu ke anaknya, “Makanlah, Nak, ini hadiah untukmu di hari istimewamu. Habiskanlah makanan ini.”
Saya melirik. Anak kecil itu melahap makanannya dengan semangat sementara ibu dan bapaknya hanya memandang dan tersenyum bahagia. Saya tertampar. Mereka hanya makan pecel lele di saat yang istimewa, oh bukan mereka. Hanya anak mereka. Bagaimana dengan kita? Berapa restoran dan cafe yang kita kunjungi setiap minggu? Maka dari itu, bersyukurlah atas apa yang Tuhan berikan pada Anda.

Kurang lebih begitulah isi broadcast message dari seorang teman SMP saya. Sebuah sentilan kecil yang membuat kita kemudian merenung. Sudahkah kita bersyukur hari ini? Sudahkah kita bersyukur untuk telur ceplok hangat dan nasi yang masih mengepul asapnya? Sudahkah kita mensyukuri bahwa hari ini masih bisa mengunjungi mall meski tak membeli apa-apa? Sudahkah kita bersyukur untuk jaringan internet yang sesekali ngadat tapi tak dinikmati orang lain? Saya belum, karena saya tak sadar itu adalah sebuah kenikmatan.

***

Saya sepakat dengan tagar di twitter #bahagiaitusederhana. Memang bahagia itu sederhana, hanya kita yang tak menyadarinya. Saya bahagia ketika Vio sudah bisa mengambil gelas air putih sendiri, tak bernilai materi mungkin, tapi saya senang tak perlu melangkahkan kaki ke dapur untuknya. Saya gembira ketika mendapatkan matahari sore untuk memotret. Saya gembira ketika suami makan lahap dengan masakan yang saya masak. Saya bahagia ketika seseorang meninggalkan komentar positif di blog. Saya bahagia ketika melihat anak tetangga makan dengan sayur dan lahap. Semua tak bernilai materi, tapi kekayaan batin tersendiri.

Tak setiap hari saya bisa mendapatkan kebahagiaan, karena memang saya tak sadar itu kebahagiaan yang patut disyukuri. Bahagia itu sederhana. Bersyukurlah makan kau akan berbahagia. Saya 1000 persen sepakat, bagaimana dengan Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s