Membeli Kenangan

Standard

Romantisme adalah mencintai masa lalu. Namun romantis mengalami pergeseran makna menjadi segala sesuatu yang indah dalam hubungan percintaan, pacaran atau suami istri. Tak masalah! Apakah Anda salah satu orang yang romantis? Kalau saya iya, tapi romantis golongan pertama, menyukai kenangan masa lalu.

Sadarkah Anda, kenangan itu mahal harganya. Bukan masalah uang. Tak ada uang yang bisa membelinya, tak ada alat yang bisa membuatnya kembali terulang, dan tidak ada satupun manusia yang mau menjual kenangan.

Sayapun tak ingin menjual kenangan. Tapi saya menyimpannya, menceritakannya, lalu menuliskannya. Seluruh indera saya ajak bekerja sama melakukannya. Dengan begitu, saya menyerap kebahagian-kebahagiaan kecil ketika kenangan itu terjadi.

Suami saya misalnya, dia juga menyimpan satu kenangan di lidahnya. Sambal buatan neneknya yang sudah almarhum ia tiru kembali. Untuk itu dia menyimpan seplastik penyedap rasa merk sasa agar rasa sambalnya menyerupai buatan neneknya. Saya tak melarangnya, dan menyimpan penyedap rasa ber-MSG itu baik-baik di dapur. Itulah caranya ‘membeli’ kenangan tentang sambal dan neneknya.

Seorang teman saya menyimpan kenangan di hidungnya. Setiap mencium bau yang familiar, sel kelabu otaknya akan memroses sebuah gambaran kenangan. Lalu ia akan bercerita tentang kenangannya.

Saya juga sangat sensitif terhadap suara tukang kue putu. Dulu waktu kecil suara desisan uap berbunyi ‘nging’ selalu kami nantikan setelah Magrib menjelang. Kue dari beras itu favorit saya, lidah saya merasakan, tapi teling saya menyimpannya. Itulah cara saya ‘membeli’ kenangan.

Sayangnya, saya juga menyimpan ‘baik-baik’ kenangan buruk. Bagaimana orang lain berlaku buruk pada saya, bagaimana orang lain merendahkan saya, dan segala yang jelek-jelek. Secara tak sadar, itu tersimpan dalam memori saya.

Seperti suatu ketika kelas 6 SD, saya mengikuti lomba siswa teladan tingkat Jawa Timur di Surabaya. Guru pendamping membawa saya ke warung nasi Padang yang jarang dijumpai di Kediri. Beliau memperkenalkan sebuah menu yang membuat saya tak mau makan. Hanya pedas dan tak enak. Itulah pertama kalinya saya mengenal rendang. Bukan pengalaman yang membahagiakan.

Sampai 7 tahun setelahnya, ketika kuliah di Jatinangor, saya tak pernah menyentuh masakan Padang. Pernah mengunjungi warnas Padang bersama 3 orang teman, tapi saya hanya minum jus. Ya, cuma jus saja, yang bisa ditemui di warnas lainnya.

Bagi beberapa teman saya, masakan Padang adalah sebuah keajaiban dunia, penemuan resep paling mutakhir sepanjang masa. Beberapa yang lain menganggapnya rekreasi lidah melepas lelah setelah UAS. Namun bagi saya ketika itu, masakan Padang adalah bencana. Saya tak sadar menyimpan kenangan buruk terhadap rendang. Syukurlah sekarang saya ketagihan rendang, tak lagi antipati dengan makanan terenak sedunia itu.

Sekali lagi, kenangan itu tak terbeli. Tapi kita selalu berusaha mengulangnya kembali, karena itu anak mas selalu saja dicari😀

Bagaimana Anda menyimpan kenangan?
Please visit my blog
http://www.rahmadanrahma.wordpress.com
http://www.dapurhangus.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s