Kamus Kata Positif

Standard

Jujur saja saya tak pernah mengikuti seminar hypnoparenting maupun seminar-seminar lain terkait parenting. Saya hanya tahu sedikit tentang hypnoparenting dan positive parenting dari hasil ubek-ubek Google, follow Twitter @keluargahypno dan sharing beberapa teman yang kebetulan sudah menjadi orangtua. Saya berkesimpulan, menjadi orangtua itu seni.

Menjadi orangtua adalah pembelajaran tanpa batas. Seperti beberapa Minggu terakhir, saya belajar bagaimana kalimat negatif itu berpengaruh besar kepada Vio. Setidaknya, ada dua kejadian yang membuat saya yakin, jauhilah kata tidak, jangan, dan kalimat negatif lainnya untuk anak Anda!

    Kejadian 1
    Vio senang naik turun tangga ke tempat jemuran, itu membuat kami khawatir. Dia gesit sekali naik tangga, tak sampai 5 menit sudah sampai di puncak. Namun ternyata, mertua saya a.k.a nenek Vio lebih takut lagi. Selain beliau sepertinya takut di atas, mungkin ngeri juga membayangkan cucunya jatuh. Dua hari Vio bermain dengan nenek, setiap mendekati tangga Nenek selalu bekata dengan kalimat template yang kurang lebih sama, “Vio jangan ke situ, jangan ke atas, ada meng (kucing).”

    Hasilnya mengejutkan saya! Butuh waktu dua sampai tiga hari bagi Vio untuk kembali segesit sebelumnya menaiki anak tangga. Oh bukan, bahkan Vio jarang sekali mendekati tangga pada hari pertama setelah Nenek pulang.

Vio terpengaruh sugesti negatif dari orang dewasa bahwa di atas ada kucing (Vio suka nunjuk-nunjuk kucing tapi takut kalau kucingnya mendekat. Kayaknya sih geuleuh ke bulu-bulunya ya, bukan takut!), nanti jatuh, dan bahaya. Vio mulai ‘normal’ naik turun setelah melihat emak-bapaknya juga naik turun ke jemuran.

    Kejadian 2
    Kira-kira umur 9 atau 10 bulan Vio mulai suka melihat ayam dari jendela, terutama ayam kecil-kecil. Sejak itu kayaknya ayam kecil-kecil sering banget nyamperin Vio sekadar main. Sekarang ayam itu sudah besar dan sering ngejar-ngejar Vio.

    Awalnya Vio cuek lho! Tapi entah lama kelamaan dia takut ke ayam dan beralih ke bebek. Aneh kan sebenarnya, ayam dan bebek itu nggak beda jauh.

    Ternyata, para tetangga seringkali menakut-nakuti Vio dengan kata-kata, “Vio jangan ke situ, ada ayam lho!” “Vio nanti dikejar ayam, lihat itu ayamnya di situ, sini-sini jangan ke situ!”

Efeknya jelas negatif! Vio yang sejak kecil suka sama ayam, tiba-tiba sekarang takut. Beruntung, saya cerita ke Najip dan ayah melakukan treatment tak takut ayam hahahaha… Akhirnya mulai deh si Vio kejar-kejar ayam lagi. Tapiiiii… Tadi sore saya dengar lagi dari dalam rumah, “Vio jangan ke situ, nanti ada ayam,” dan Vio pulang karena takut ayam.

•••
Berangkat dari dua kejadian tersebut, saya bertekat mengucapkan kata-kata positif ke Vio. Najip sih udah sering diingetin untuk mengikuti jejak saya, tapi kadang masih seriiiing keluar kalimat, “Viooooooo, itu laptop ayah! Jangan dipencet-pencet!” Akibatnya anaknya semakin rajin ganggu ayahnya di depan laptop.

Jadi, mari kita daftar kata-kata positif apa yang cocok sebagai pengganti kata-kata negatif yang mungkin berpengaruh negatif pula ke anak-anak kita. Ini kamus versi saya ya, semoga berguna dan mohon dikoreksi kalau ada salah.

Oya, inti kata-kata positifnya sebenarnya langsung ke pokok atau inti yang kita mau, misal anak lagi jalan atau lari terus kita takut jatuh seringkali yang keluar kalimat, “Awas jatuh!” Padahal kita kan pengen dia hati-hati jalan/larinya. Jadi, lebih baik bilang hati-hati atau pelan-pelan.

    Awas jatuh »» Pelan-pelan atau hati-hati

    Jangan lari »» Jalan aja, pelan-pelan

    Jangan dimakan! »» Yang dimakan ini (menunjuk sesuatu), yang itu bukan buat dimakan (masih ada kata bukan sih, belum nemu yang pas)

    Jangan diinjak (Vio suka injek buku) »» Buku buat dibaca sayang, yang diinjak itu sepatu

    Ga boleh berantakin mainan »» Kalau selesai main, diberesin lagi ya! (Belum ngerti juga Vio, jadi masih emaknya yang beres-beres mainan)

    Jangan naik motor »» hati-hati kalau di atas motor, pegangan yang kuat

    Awas kepeleset »» Kakinya di lap ke keset dulu ya, jalannya hati-hati

    Makan jangan berdiri (masih sering kejadian nih!) »» Makannya sambil duduk ya, biar nasinya diolah dengan baik di perut

    Jangan buang sampah sembarang »» Buang sampah di tempat sampah di rumah, yuk! (Tetangga sekitar kebiasaan buruk berjamaahnya adalah buang sampah sembarangan. Vio yang tadinya disiplin buang sampah di tempat sampah, sekarang jadi pe er lagi buat disiplin)

    Jangan pegang gunting/pisau »» Gunting/pisau-nya buat ibu aja ya, ini tajam (kalau lagi di dapur langsung praktek penggunaan pisau, dia langsung ngerti kegunaannya dan memang belum bisa pake pisau, jadi nggak pegang pisau lagi)

    Itu kotor, jangan dipegang »» belum nemu yang pas, sejauh ini masih teriak, “Vioooooo itu kotorrrrr!!!” Walaupun seharusnya bisa diganti, “Vio pegang yang bersih-bersih aja ya, yang kotor banyak kuman penyakitnya.” (Masih suka lupa!)

    Jangan diacak-acak dong! »» Tidak menemukan kata yang lebih cocok kecuali, “Ibu capek beres-beres, Viooooo!” Hahahaha…

Segitu saja, nanti disambung lagi kalau sudah mulai lihai berkata-kata positif. Semoga bermanfaat🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s