Selamat Datang Prajurit ke Empat

Standard
    Prajurit ke empat telah datang menggenapi tiga prajurit terdahulu. Setelah ini serangan akan semakin masif, gencar, dan kuat. Daging akan dicabik dan dihancurkan tanpa ampun.

•••
Drama. Drama. Drama.

Cerita gigi Violeta memang penuh drama. Gigi pertama muncul ketika Vio sudah 14,5 bulan alias 1 tahun lebih dua bulan setengah. Saat itu teman-teman seusianya sudah memiliki 2, 3, atau empat gigi. Bahkan ada yang gigi susunya sudah lengkap.

Di usia tepat 1 tahun, Vio sempat mengonsumsi vitamin tinggi kalsium. Hasilnya? Diare dan gigi tak juga nongol. Sebisa mungkin setiap hari saya mengusahakan Vio mengudap makanan kaya kalsium seperti keju, teri, brokoli, dan yoghurt. Hasilnya? Nihil!

Saya sempat berdiskusi dengan seorang sahabat melalui fitur percakapan di Facebook. Berawal dari diskusi gigi, berujung pada unfriend. Tentu saja saya tak terima ketika dia berkata, “Makanya jangan belanja saja, perhatikan perkembangan anak!”

Bagai sekam kering yang disulut api, tentu saja emosi saya tersulut mendengar kalimat itu. Saya berpegang pada teori ‘masih normal bila gigi belum muncul sampai 18 bulan’ tetapi teman itu menanggapi, “Tapi kamu jangan cuek dan nunggu sampai Vio 18 bulan.”

Ow ow ow… Gigi tidak bisa dipaksa untuk muncul begitu saja. Tak bisa ditarik kan? Hahaha… Apalagi dalam kasus Vio, sedikit banyak gen pertumbuhan gigi saya menurun padanya. Gigi geraham belakang saya baru tumbuh setelah Vio lahir! Saya tidak cuek, ada usaha meski belum ada hasil. Adegan dalam percakapan itu kemudian membuat saya memproklamasikan ‘Permusuhan dengan Peri Gigi’. Huhhh!

Lalu tiba-tiba gigi pertama muncul. Kami meraba kefanaannya pertama kali di BEC. Ya, Bandung Electronic Center menjadi tempat bersejarah bagi kami. Di foodcourt BEC-lah pertama kali kami merasakan kehadiran gigi. Hari itu Minggu, dan hujan. Kami menyambut sang gigi perdana dengan suka cita. Bendera perang dengan Peri Gigi pun diturunkan. Tak lama berselang, gigi ke dua muncul bersebelahan.

Drama tak berhenti. Butuh waktu nyaris dua bulan untuk melihat gigi ke tiga. Muncul setelah Lebaran ketika mudik ke Kediri, Uti bilang, “Gigi produk Kediri.” Anehnya bukan gigi atas yang sejajar dengan dua gigi bawah yang muncul, justru gigi atas samping, mendekati taring. Lagi-lagi berbeda dengan yang sewajarnya. Lagi-lagi drama!

Sore kemarin, hari cerah. Kami memutuskan berjalan-jalan ke sawah, melihat beberapa bocah bermain merpati, balap sepeda di jalan perumahan, serta bermain sepak bola. Ketika capek, kami mengaso di pos ronda. Di situlah skuad ke empat teraba. Selamat datang prajurit ke empat! Setelah ini Vio tak akan memberi ampun pada daging ayam dan daging sapi. Semua akan dilahap habis, tanpa sisa, tanpa ampas. Semoga!

4 responses »

  1. Hihihi.. ada2 aja.. santay aja jeng kalo numbuh giginya lambat, kan masih normal. Gpp, aku jg demen belanja, tapi anakku 13m2w blm lancar jalan.. kekekek.. Vioooo selamat yaaaaa… *etapi anakku giginya 6 kadang2 tetep berampas loh kalo makan daging sapi.

  2. Horeeeee sudah gigi keempat ya..
    Setelah gigi pertama cepet juga yah bermunculan gigi2 lainnya. Selamat latihan makan daging ya Vio.. Lumat habis yaah..
    Keinan lama nih segitu2 aja giginya nggak nambah2 lagi. Tapi akhirnya Kei bisa jalan (15 bulan)..
    Pertumbuhan bayi memang ajaib.. Setiap ibu pasti ingin yg sempurna, tapi Allah yang paling tahu saat yang sempurna untuk menyempurnakan anak kita🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s