Good Bye, Mister iPad!

Standard
    Steve, terimakasih telah menjadi pembimbing sekaligus teman. Terimakasih telah menunjukkan bahwa apa yang kau bangun mampu mengubah dunia. Saya akan merindukanmu.”

Itulah status yang ditulis Mark Zuckerberg dalam jejaring sosial buatannya, Facebook. Zuckerberg berduka, begitupun dunia. Steve Jobs, legenda dunia IT telah pergi karena kanker pankreas pada Rabu waktu Palo Alto (Kamis waktu Indonesia). Usianya baru 56 tahun, masih terlalu muda.

Beruntung, Jobs masih sempat melihat bagaimana dunia berubah karenanya. iPod, iPhone, dan terakhir iPad telah berhasil menggeser kebudayaan umat manusia. Tak sekadar mengubah gaya hidup, tapi juga menggeser rutinitas dan kebiasaan.

Steve Jobs mendirikan Apple bersama teman masa kecilnya, Steve Wozniak. Duo Steve ini memulai bisnisnya di sebuah garasi pada 1976 dengan modal beberapa ribu dolar. Karya perdana mereka, Apple I, dijual dengan harga USD666,66. Pada 1984 dirilis Macintosh yang menandai kecemerlangan Jobs di Apple. Saat itu cita-cita kedua Steve untuk menciptakan perubahan dunia bisa dibilang telah terwujud.

Sayang, Jobs harus hengkang dari perusahaan yang dirintisnya sendiri karena masalah internal. Ia kemudian mendirikan NeXt Computer dan Studio Pixar yang melejit karena Toy Story.

Pada 1997, ia berhasil “memaksa” bergabung kembali ke Apple yang mengakuisisi Next. Setahun kemudian, Apple meluncurkan iMac lalu disusul iPod pada 2001. Berturut-turut iPhone dan iPad lahir dari inovasinya. Semuanya membawa perubahan yang sangat besar bagi dunia. Namanya seringkali disejajarkan dengan Thomas Alfa Edison. Pantaslah bila kepergiannya meninggalkan duka.

•••
Steven Paul Jobs lahir di San Fransisco, Amerika Serikat, 25 Februari 1955. Ia diadopsi oleh pasangan Jobs, Paul dan Clara. Masa remaja Jobs hampir dihabiskan di California.

Dua puluh satu tahun setelah kelahirannya, ia sudah merintis kariernya sebagai inovator. Masih cukup muda bukan? Bandingkan dengan kita di sini, 21 tahun rata-rata mungkin masih tingkat III di perguruan tinggi, masih bergantung pada orangtua atau sama sekali tak ada bayangan untuk berwirausaha.

Cita-citanya mengubah dunia melalui perusahaan yang dirintisnya memang tak sia-sia. Dimulai di usia yang masih muda, perkembangan Apple sempat pasang surut. Ketika masuk kembali ke Apple pada 1997, Apple sedang menghadapi masa suram. Steve Jobs datang bagai Dewa Penyelamat.

Bill Gates, bos besar Microsoft, menyatakan duka mendalam. Gates merasa kehilangan rival sekaligus sahabat yang visioner. Apple dan Microsoft boleh saja bersaing ketat, tapi tak urung Gates pun berduka. “Saya akan sangat merindukan Steve.”

Seperti Zuckerberg dan Bill Gates, saya pun berduka. Bukan apa-apa, cuma saya belum sempat membeli karyanya (penting! :p). Selamat jalan, Steve Jobs! Good bye, Mister iPad! Damai di sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s