Ternyata Kami (Saya) Bisa (2)

Standard

Setelah posting pencitraan supermom yang ini (tetep ya…), mari kita lanjutkan postingan yang nggak ada pencitraannya sama sekali. Apa yang kami persiapkan? Apa yang terjadi selama di perjalanan? Semoga saja ada yang ingin tahu hehehe…

Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 06.00 karena kereta saya akan bertolak dari Stasiun Hall, Bandung, tepat pukul 07.00. Mampir dulu ke Hokben buat sarapan dan bekal makan siang, lalu menuju ke kereta sesaat sebelum berangkat.

Oya, malam sebelumnya saya membuat kue keju kismis dan cornflakes keju untuk Violeta. Biasanya dia suka sekali kue ini. Saya juga mempersiapkan 3 kotak Mimi Vanila, corn flakes, roti sobek, serta sebungkus kismis untuk camilan selama perjalanan. Belajar dari pengalaman selama ini jika distraksi terbaik untuk Vio adalah cemilan dan lagu (langsung joget deh! :P).

Saya sengaja berpesan pada suami saya agar membeli tiket yang dekat jendela agar Vio bisa melihat pemandangan dari kaca. Eh, tapi saya mendapati tempat duduk saya sudah ditempati. Bak seorang pahlawan, suami saya meminta orang itu pindah dari kursi saya.

Yah, sayangnya teman seperjalanan saya ini kurang menyenangkan. Dia enggan berpindah, “Sama saja,” katanya. Kami beralasan saya membawa bayi, butuh tempat dekat jendela bla bla bla. Setelah cukup alot, dia bersedia pindah tapi meninggalkan barang bawaannya di bawah kaki saya. Hmmm… Perjalanan terlihat tak akan menyenangkan pada pandangan pertama.

Kereta pun berangkat dan Vio dadadada ke ayahnya yang mau mewek karena ditinggal sendiri hahaha… (ga mungkin juga sih mewek!). Saya dag dig dug saja di awal karena takut Vio menangis. Ternyata oh ternyata, tak butuh waktu lama bagi Vio untuk penyesuain. Dalam hitungan detik, Vio udah nyolek-nyolek penumpang di belakang saya. Sepasang muda mudi itu sukses membuat Vio tergelak sampai sekitar setengah jam kemudian.

Lalu, drama pertama dimulai. Penumpang di seberang kursi saya membuka makanan dari Hokben yang dipaket dengan Teh Botol (kotak). Vio merengek meminta Teh Botol itu. Haduhhh… Sukseslah emaknya malu, tapi akhirnya dapet Teh Botol sih hihihi.. (jatah emak tentu saja).

Hanya satu jam saja betah di kursi, dan Vio mulai pengen jalan-jalan. Awalnya prosesi jalan-jalan digendong saja, lama-lama dia bosan dan melorot dari Sleepy Wrap. Ohya, saya memilih memakai Sleepy Wrap karena tak perlu lepas pasang sepanjang perjalanan, jadi less ribet. Pakai di rumah Bandung, lepas di rumah Kediri hihi… Pertimbangan lain, saya perlu mengawasi Vio jalan-jalan sehingga akan sangat mengganggu kalau butuh lepas-pasang gendongan. Pun jika gendongan nglawer-nglawer di badan saya, pasti saya tak sigap mengejar si bayi energizer ini.

Selama jalan-jalan bolak balik di koridor kereta, Vio menghampiri beberapa penumpang kemudian diajak bersalaman plus cium tangan. Ada juga yang memberi roti atau minuman kemasan, mungkin karena gemes sama emaknya ya. Lho?😀

Sampai si Vio menemukan sosok yang berbeda, BULE. Si bocah langsung terdiam, kehilangan senyum, dan maunya nempel emaknya. Tangisnya pecah ketika si bule Belanda ini gemes pengen foto bareng Vio hahaha… Aduh, anak saya ini rada ndeso juga ternyata. Ketakutan pada bule ini berlanjut sampai akhir perjalanan lho! Tiap lewat kursi ibu bule, Vio langsung mengkerut.

Capek, Vio pun tidur. Tentunya harus nenen dulu dengan posisi akrobatiknya. Untung masih ada kursi kosong, jadi saya bisa tiduran dan Vio nenen. Saya sengaja memboyong Trunki berisi peralatan Vio ke dekat kursi kosong. Oke, saya bisa tidur sejenak. Tips saya, usahakan tidur ketika si kecil tidur karena itu sangat berharga. Sayangnya ketika kereta berhenti sejenak di Tasikmalaya, empunya kursi kosong ini datang😦. Saya pun tergusur dan kembali ke kursi sendiri dengan memboyong bayi yang tidur dan Trunki.

Adegan berlanjut dengan ngemil dan main cilukba dengan penumpang belakang. Lalu bermain-main botol aqua, dadadada sawah, nunjuk-nunjuk gunung, dan terakhir colek-colek teman sebelah. Bosan, perjalanan dengan menyusuri koridor berulang. Adegannya masih sama, salaman, lalu manjat kursi atau pijakan kaki, lalu pergi. Berhenti sejenak jika mendekati bule, lalu minta gendong. Sesekali saya ajak Vio berdiri di sambungan kereta sambil memeragakan pintu yang terbuka-tutup otomatis. Dan ini kesalahan besar!

Tak butuh waktu lama untuk mengalihkan perhatian Vio ke pintu itu. Dia tak betah duduk, pengennya dekat pintu, buka pintu, keluar, masuk lagi dan begitu seterusnya. Huffft, rasanya ingin cepat sampai! Apalagi pinggang sudah tak kuat, pundak sudah sakit.

Saya makan siang dengan menu Hokben lagi, Vio ikut icip-icip nasinya saja. Makan siang ini berlangsung tiga sesi karena Vio selalu mengganggu. Selesai makan siang, tidurlah dia sebentar. Sekitar pukul 02.00, selepas Jogja, tempat duduk mulai longgar, saya bisa tiduran juga. Lega (sedikit) karena kemudian sampai Solo Balapan banyak penumpang yang naik untuk ke Surabaya, kebetulan hari Jumat, banyak yang mudik.

Solo-Madiun Vio main-main di kursi sambil sesekali main petak umpet dengan tiga pasang penumpang setengah baya. Ketiga pasangan itu bergantian bermain dengan Vio. Gemes dan ingat cucu mungkin. Vio digendong, lalu salaman-cium tangan, dada, cium jauh, cilukba begitu seterusnya. Sampai Madiun, tempat duduk kembali penuh tapi untunglah Vio tidur lagi.

Saya sudah mulai santai karena sejam lagi sampai. Akhirnyaaaaa… Saya bisa!

Sampai rumah, saya mandi lalu tidur dan tidur saja. Malas rasanya mau berkegiatan. Vio langsung ditangani Utinya sementara saya menikmati pijitan Mbok Dami. Sabtu itu persiapan ultah Vio keesokan harinya, jadi saya belum puas tidur. Hasrat tidur terpuaskan di hari Senin. Bangun siang-tidur-tidur siang-tidur sore-tidur lagi dan besoknya saya fresh!

Horeee… Kami bisa ternyata! Tapi ini baru pertama, masih banyak perjalanan Bandung-Kediri atau sebaliknya. Perjalanan terdekat adalah perjalanan kembali ke Bandung. Akankah kami memilih kereta malam atau kembali ke selera asal dengan kereta pagi? Saya mulai deg-degan lagi🙂

10 responses »

  1. wiuuw,go vio go vio..perjalanan kediri-bdg nanti cari ransum tetangga lg yaa *curiga emg program hypnotravelling nya sang emak* :p kapan balik bdg??ku tunggu postingan nyaa..pastinya vio dah makin puinterr unthul2nya *kasi tisu ke emak*😀

    cihuy bgt,ka! next challenge : ama piyo pk kereta ekonomi kediri-bdg!huahaa..*kejam* *nyiapin trophy supermom bwt iko*

    • Demi trophy supermom, aku rela hahaha…

      Eh, nggak ding! Keenakan suamiku dong, kemurahan beliin tiketnya. Mohon petunjuk hypnotravelling berikutnya, kali aja ada tips ngasih duit ato reksadana gitu?😛

  2. Ternyata kereeeeennn.. Astaga dragon gw ga kebayang uy entertain dan dampingin bocah penasaran selama berjam2 (udh jelaslah yah secara gw supermom gadungan). Hebat ih kalian! Sukses jg utk perjalanan kediri-bdg yah! Mending malem deh bu, ga ada mbok dami n Uti kaaan kl di bdg?

    • Kl malem takutnya aku bobo Lei, ntar Vio unthul-unthul ga ada yang nemenin. Trus kalo udah tidur, suka ga kebangun gitu deh zzzzz… Ada yg salah dikit sama instalasi insting keibuanku deh😛. Loh, aku jd deg2an.

  3. Akhirnyaaaaaa kejadian sebenarnya diungkap secara terperinci dan terpercaya, haahhahaha..
    Bener banget Ko, tak amini, ngasih liat pintu otomatis itu kesalahan terbesar…Itu sama aja kaya nyodori tiket terusan ke Dufan selama 1 bulan full😛
    Tapi…suksesss kan🙂 Berarti bisa mulai merancang tujuan selanjutnya dongggg (jangan perjalan kediri-bandung lagi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s