Suwidak Loro versus Suwidak Nol

Standard

Pernah mendengar cerita rakyat Suwidak Loro. Cerita itu merupakan cerita turun temurun dalam keluarga saya, setidaknya sudah tiga generasi.

Berkumpul dengan adik-adik saya minggu lalu membuat saya teringat akan cerita ini. Saya berencana menceritakannya pada Vio nanti seperti ibu saya dulu menceritakannya pada saya.

Bagi yang belum tahu, suwidak (Jawa) artinya enam puluh, sedangkan loro artinya dua. Jadi, Suwidak Loro berarti enam puluh dua. Berikut kisah Suwidak Loro sepanjang yang saya ingat, semoga tak ada yang kurang🙂.

    Alkisah di suatu masa, hiduplah seorang janda bernama Nyai Randa. Nyai Randa memiliki seorang anak perempuan buruk rupa bernama Suwidak Loro. Rambutnya hanya enam puluh (suwidak)helai sedangkan giginya cuma dua.

    Saking jeleknya sang anak, Nyai Randa selalu menyembunyikan anaknya di balik tirai. Tak ada yang tahu bagaimana wajah sesungguhnya Suwidak Loro karena tirai yang menutupinya itu. Namun, Nyai Randa sangat menyayangi putrinya. Setiap malam, janda itu menghibur anak gadisnya dengan nyanyian yang membesarkan hati.

      “Anakku Suwidak Loro sing ayu dhewe, mbesuk gedhe dadi pendampinge pangeran

    Lagu itu dinyanyikan setiap malam sampai pagi menjelang oleh Nyai Randa. Suwidak Loro bahagia meskipun ia tak berani mematut diri di depan kaca.

    Rupanya, nyanyian Nyai Randa membuat tetangga sekitarnya terganggu. Seseorang melaporkan ‘kecantikan’ Suwidak Loro kepada Raja. Raja tak percaya bahkan berniat melihat sendiri wajah Suwidak Loro.

    Datanglah utusan Raja ke kampung Suwidak Loro untuk membuktikan ‘kecantikan’ anak Nyai Randa. Nyai Randa mengizinkan Raja melihat anaknya dengan syarat membawakan semua baju dan perlengkapan dandan dari istana. Hanya Nyai Randa yang boleh mendandani anaknya.

    Selesai didandani, Suwidak Loro diangkut dengan menggunakan tandu bertirai. Nyai Randa berpesan, “Ndhuk, Suwidak Loro anakku, ojo metu soko tandu yen durung panggih Raja!”

    Nyai Randa membekali Suwidak Loro dengan makanan enak. Selama perjalanan, makanan itulah yang menjadi teman anak gadisnya. Selain makanan, doa tak henti-hentinya dari Nyai Randa turut menemani perjalanan putrinya.

    Rupanya, wangi makanan itu tercium oleh bidadari. Seorang bidadari menghampiri tandu Suwidak Loro karena menginginkan makanan itu. Suwidak Loro menawarkan pertukran makanan bekalnya dengan paras ayu sang bidadari. Bidadari itu setuju. Dalam sekejap Suwidak Loro menjadi cantik.

    Sesampai di istana Raja, kecantikan Suwidak Loro membuat banyak orang terkagum-kagum. Raja jatuh cinta kemudian hendak menikahi Suwidak Loro.

    Nyai Randa pun diundang ke istana Raja untuk menghadiri pesta pernikahan anaknya. Janda itu tak percaya jika anaknya benar-benar menjadi pendamping raja seperti yang selama ini disebutkan dalam nyanyiannya.

•••
Suwidak Nol

Berbeda dengan Nyai Randa, saya punya anak juga bernama Suwidak Nol. Rambutnya jarang (tak pernah dihitung berapa helai), dan giginya nol alias belum ada hahaha… Itulah Violeta. Oh, Peri Gigi, segeralah datang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s