Dua Malam di Kota Malang

Standard

Malang menjadi kota ke empat yang paling lama saya tinggali setelah Kediri, Bandung, dan Jakarta. Namun, dibandingkan Jakarta, Malang jauh lebih berkesan. Makanan yang murah, penduduk yang ramah, serta kota yang bersahabat membuat saya jatuh cinta pada ‘Ngalam’.

Delapan tahun lalu saya jatuh cinta pada Kota Malang. Dalam kurun waktu 8 tahun itu, saya kembali mengunjunginya 3 kali. Terakhir, minggu lalu saya kembali ke kota yang konon dingin ini. Dan di mata saya, Malang sudah jauh berubah. Malang tak lagi sejuk, tapi panas sekali😦.

Kedatangan saya ke Malang kali ini untuk reuni keluarga. Dua adik saya masing-masing kuliah di Universitas Brawijaya dan sekolah di SMA 10 Malang. Saya pergi ke Malang bersama bapak (selaku sopir), ibu, adik paling kecil, dan Violeta tentu saja.

Mengapa reuni keluarga harus ke Malang? Saya terakhir kali bertemu adik saya yang SMA Lebaran tahun lalu. Padahal saya setelah Lebaran, saya sudah 3x mudik ke Kediri. Adik saya itu, Alvin Faizah, sekolah dengan beasiswa dari Sampoerna Foundation. Dia tinggal di asrama sehingga tak bisa sewaktu-waktu pulang. Parahnya, ketika ada waktu pulang, kadang Ia tak bisa karena ada kegiatan OSIS atau apalah. Jadi, saya ngalahi pergi ke Malang.

Di Malang, saya sempat bertemu dengan Veen yang saya kenal lewat TUM. Kami mengunjungi rumahnya. Bapak saya yang sempat 7 tahun tinggal di Malang berperan sebagai penunjuk jalan.

Yang membuat saya senang, saya sempat bertemu dengan teman semasa SMP, Rika Dinasti. Setidaknya 8 atau 9 tahun lalu saya bertemu dengannya. Rika ini sahabat saya, tinggal di perumahan Wilis Indah yang berbatasan langsung dengan pemakaman Cina. Di sanalah dulu kami belajar bersama Hellen Paramitha. Hihi… Masih ingat ketika kami lari terbirit-birit menjauhi makam karena tiba-tiba angin besar menerbangkan buku-buku kami. Kala itu kami belajar di sebuah nisan besar di depan krematorium. *lagian belajar kok di kuburan*.

Saya ngobrol ngalor ngidul dengan Rika. Dia kini menjadi perawat di sebuah rumah sakit di Malang. Saya sempat konsultasi tentang imunisasi pula hehehe… Mumpung gratis!

Esoknya, kami mengunjungi Batu Night Spectacular. Mengecewakan, mahal, dan hujan pula! Jadilah dua adik saya yang bersenang-senang. Vio cuma dua kali naik wahana, bioskop 4D yang membuat saya takut Vio jatuh dan kuda-kudaan ala odong-odong depan rumah.

•••
Ternyata waktu berjalan begitu cepat! Saya tak merasa tua, tapi ternyata adik-adik saya sudah besar. Alvin, yang dulu ketika kecil sering main “suping-supingan” sudah menjadi ABG dan tumbuh paling besar di antara kami. Saya paling kecil dong tentunya, dan awet muda. *maunya hahaha…*

Wilda, kini sudah semester VI, sudah 21 tahun. Tak terasa, padahal saya ingat betul bagaimana dia sering menangis tanpa henti kalau keinginannya tak dipenuhi.

Khansa, tak banyak yang saya ingat darinya. Kini sudah kelas II SMP. Jangkung, kurus, dan pandai dandan. Dia paling cewek!

Dua malam di Kota Malang membuat saya sadar bahwa saya makin tua. Apa yang sudah saya lakukan? Belum ada!

One response »

  1. great story mbak. ini membuat saya melambungkan angan, sekarang saya masih di malang dan asli dari kediri. kalau Allah masih memberi kesempatan, akankah 3, 8, atau bertahun2 yang akan datang aku mengenang malang begitu indah seperti mbak ini. sumpah nyenttuh banget tulisannya.. .😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s