Ternyata Kami (Saya) Bisa

Standard

Ternyata kami, saya dan Violeta, bisa! Ternyata saya bisa. Ternyata saya boleh bangga pada diri saya sendiri untuk satu hal ini.

Apa sih yang mau saya ceritakan di postingan ini? Tentang perjalanan pertama saya berdua saja dengan Violeta. Oh ya, saya ingatkan sebelum membaca! Postingan ini adalah postingan pencitraan bahwa saya adalah supermom (hiyaaaaa… Ngaku-ngaku). Jadi bagi yang risih, tak usahlah melanjutkan membaca😛 (pokeLei, sesama supermom).

Perjalanan pertama saya hanya berdua dengan Violeta terjadi 25 Maret 2011, tepat sehari sebelum Vio berulang tahun. Kami menempuh perjalanan panjang dari Bandung-Kediri (sebenarnya turun Stasiun Kertosono) kurang lebih 13 jam dengan kereta api. Kereta api Argo Wilis jadi saksi bisu perjalan kami yang saya nilai sukses.

Bolehlah saya menilai SEMBILAN untuk kesuksesan perjalanan kami (maaf ya, ini ga objektif tentunya hehehe…). Mengapa harus 9? Karena ini perjalanan ujicoba sekaligus pembuktian bahwa melakukan perjalanan dengan bayi/anak itu tak sulit.

Perjalanan kami nyaris tanpa persiapan. Selain ketidakjelasan hari H, saya justru menghabiskan waktu berdebar-debar tanpa tahu apa yang harus saya persiapkan. Sedikit titik terang datang dari Gamma. Atas permintaan saya, Gamma posting tips dan trik melakukan perjalanan bersama Farzan dengan bumbu hypnoparenting.

Namun kondisi saya-Vio berbeda jauh dengan Gamma-Farzan. Perjalanan Gamma-Farzan terjadi ketika Farzan belum bisa berjalan, sementara Vio mulai berjalan di usia 9+. Tentu saja, durasi perjalan saya-Vio juga lebih panjang dibanding perjalanan Gamma-Farzan (Bandung-Jogja). Yang paling parah, saya tak mengerti hypnoparenting yang sukses diterapkan Gamma ke Farzan hehehe… Tak pede sama sekali karena saya takut pilow talk yang saya sampaikan salah arah.

Jadi, sementara saya bermodal nekat dulu, tanpa hypnoparenting dan pillow talk. Saya akhirnya berpikir dan terus menanamkan pikiran bahwa saya bisa. Perjalanan dengan Argo Wilis (eksekutif) bersama bayi yang berusia hampir satu tahun tidaklah lebih susah daripada berdiri di Kahuripan (kereta ekonomi) yang penuh sesak karena musim mudik Pemilihan Umum Presiden 2004 sementara saya harus berdiri dari Bandung sampai Jogja. Perjalanan dengan Vio juga tak seberat duduk selama 24 jam di gerbong restorasi Kahuripan tanpa berdiri sedetik pun karena sesaknya kereta. Berbekal pengalaman di Kahuripan Ekspress itu, saya yakin saya bisa.

Mungkin saya nekat, tapi berdua saja dengan Vio untuk mudik artinya menghemat nyaris setengah juta. Itu sangat berarti bagi kami karena jika dikonversi dalam satuan rim kertas (maklum saya tukang fotokopi) berarti 20 rim kertas A4 hehehe… Setengah juta dalam satuan rim kertas lebih berarti bagi kami karena akan menghasilkan setengah juta lain (semoga ga bingung ya! :)).

Kembali ke laptop! Gamma menyarankan perjalanan lebih baik dilakukan malam hari karena anak bisa tidur di kereta. Kuncinya, menurut Gamma, buat si anak secapek mungkin hingga tak cukup tenaga untuk membuka mata ketika dalam perjalanan. Dan ternyata, saya justru memilih perjalanan pagi. Hmmm… Idenya dari bapak saya, biar tak mengganggu penumpang lain dan tentu karena tiket pagi lebih murah.

•••
Jumat itu, 25 Maret 2011, akhirnya saya berhasil mengalahkan ketakutan saya sendiri. Pagi itu, saya menekan kekhawatiran saya di depan suami agar dia yakin saya bisa. Tak terbayang bagaimana dag dig dug nya jantung saya ketika pertama duduk di kereta. Ditambah lagi, teman seperjalanan saya kurang bersahabat.

Suami saya, saya yakin, tak tega melepaskan kami (semoga ga ge er ya!). Jangankan perjalanan 13 jam, perjalanan yang lebih singkat saja pasti saya isi dengan tidur. Dia terlalu paranoid anaknya jatuh ketika saya tidur atau ada yang mengambil barang karena saya sibuk mengurus anak. Suami saya juga pasti membayangkan betapa repotnya ketika saya ingin ke toilet.

Cukup sekian postingan saya ini, semoga pencitraan saya sebagai supermom berhasil hahaaha… (Ga mungkin lah ya, masa supermom deg-degan :)). Postingan nirpencitraan tentang perjalanan ini segera berlanjut besok.

5 responses »

  1. Pingback: Ternyata Kami (Saya) Bisa (2) | Cerita Violeta

  2. Ih supermom ko motivasinya kepepet sih? Hrsnya krn nilai keibuan yg hakiki dong yg mengisnpirasi keberanian *nyolot* hahaha.. Baca lanjutannya dl ah, siapa tau ga sekeren yg diiklanin :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s