Malu Bertanya Sesat di Jalan

Standard

Saya pikir pepatah di atas cocok sekali menggambarkan keadaan saya. Siapa suruh saya harus malu sehingga saya tersesat?

Alkisah suatu sore yang cerah, Violeta telah siap JJS alias jalan-jalan sore. Dengan baju pink bunga-bunga serta kardigan warna senada dipadu topi fedora yang cerah menambah ceria penampilannya sore itu. Tak lupa, kaos kaki berumbai dan sepatu sandal berwarna pink pula. Emaknya? Cukup baju babu tiap hari, kaos merah bertuliskan SEJARAH serta rok dan jilbab hitam andalan.

Judulnya JJS untuk Violeta yang baru 10 hari bisa berjalan, tak banyak persiapan. Ceritanya perjalanan sore ini tak akan jauh, paling ke rumah tetangga sekitar, lapang, atau sawah yang jaraknya hanya sepandangan mata dari rumah (cieeee…). Karenanya, emak tak persiapan bawa gendongan (judulnya belajar jalan ya!), uang (biasanya bawa kalau emaknya pengen jajan), telepon seluler, air mineral atau apapun hasil peradaban manusia. Misi sore itu adalah mengajari Vio berjalan dengan alas kaki.

Tiba-tiba saja, misi emak berubah. Melihat rumah tetangga yang sepi, tukang baso yang belum hadir, serta cuaca cerah menggoda, emakpun mengajak Violeta mencari jalan tembus ke ke kompleks Pondok Hijau. Rencananya, besok jalan tembus itu akan ditunjukkan ke ayah agar tak memutar.

Nah, drama dimulai. Setelah sapa sana sini, sok ramah, sok kenal, Vio dan emak pun menyusuri jalanan kampung. Pede saja, karena toh sejauh-jauhnya kesasar pasti nyambung ke Pondok Hijau juga. Sebenernya ga malu bertanya sih, cuma pas banget ga ada yang ditanyain (ngeles). Jadi, perjalanan dilanjutkan tanpa bertanya. Sesuai pepatah, kami pun kesasar.

Ternyata oh ternyata, jalan kampung yang tembus ke Pondok Hijau amatlah sangat jauh sekali (ini pemborosan kata untuk menggantikan angka 3 kilometer :P). Tanpa persiapan, kesasar kali ini amatlah menyiksa kami berdua, terutama saya.

Bayangkan saja, berjalan sejauh 3 atau 4 kilometer, tanpa bekal apapun, menggendong bayi 8,4 kilogram (yang esok harinya diketahui telah naik 8 ons menjadi 9,2 kilogram. Pantes berat!) tanpa gendongan apapun! Belum lagi jalan yang amit-amit nanjaknya plus keinginan menggebu pengen pup. Tampaknya penderitaan sore itu lengkap sudah.

Saya ngos-ngosan tentu saja, mencoba menarik nafas di beberapa kesempatan, berharap tiba-tiba bayi 10,5 bulan ini pengen lari sendiri. Tapi ga mungkin kan ya, tampaknya Vio juga kecapekan. Sesekali memindah Vio dari tangan kanan ke tangan kiri agar pegal tangan seimbang😦.

Akhirnya saya istirahat di pinggir jalan. Di tengah istirahat itu, mencoba membujuk Vio untuk berjalan tapi gagal.
Sumpah, orang mungkin mengira saat itu saya adalah babysitter yang sedang nyulik anak majikan. Make up wajah saya udah mendukung ya, gabungan antara panik, capek, pegel, dan belum mandi. Untungnya tak ada orang iseng yang menangkap saya dan menyerahkan ke polsek terdekat! Kalau ada bisa panjang urusannya.

Pokoknya malu bertanya sesat di jalanlah! Walaupun dalam kasus saya, jadi tahu jalan tembus, jadi olahraga dan lebih sehat, serta jadi kepikiran untuk menjadikan jalan sore sebagai rutinitas. Ciyeee…

Sore tadi saya jalan-jalan sore lagi. Judulnya olahraga buat emak, jadi si bayi digendong saja. Jarak tempuh hanya sepertiga acara perdana plus kali ini bawa guide (anak tetangga). Sempet juga nyuri-nyuri pandang ke Jalan Viola, siapa tahu bisa punya rumah di situ (Aminnnnnn 100jutax100juta=…… Ambil kalkulator dulu buat ngitung ya!).

Sesuai pesan Ahmadnajip Corleone, saya bawa semua perlengkapan. “Jangan sampe heboh sampai telepon minta pulang cepet karena capek!” Begitu pesan ayah. Baiklah ayah, lain kali ikut JJS biar lemak perut luntur ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s