Memotret Einstein dari Sisi yang Berbeda

Standard

Ya ya ya, saya merinding ketika membaca halaman awal buku ini. Ya ya ya, saya menemukan sensasi yang berbeda dari buku ini. Mungkin sedikit lebay, tapi begitulah adanya. Semua karena satu nama, Albert Einstein, manusia yang diklaim paling cerdas sepanjang masa.

Dalam periode hidup saya, ada masa ketika saya begitu menggandrungi Einstein. Saya membaca kisah hidupnya, menyintai perjuangannya, dan membeli buku-buku tentang Einstein. Semua buku yang saya beli pasti berhubungan dengan sains dan teori relativitas. Tapi kali ini, sebuah novel, tebal dan menggoda.

The Einstein Girl, hmmm… Judulnya saja menggambarkan sebuah skandal. Einstein dikenal sebagai ilmuwan, terhormat, dan jauh dari masalah perempuan. Buku ini kemudian memotret sisi lain, cinta!

Saya akui, rangkuman cerita di sampul belakang turut andil memengaruhi saya memasukkan buku ini ke keranjang belanjaan. Menggigit, lengkap, dan menyentil penasaran. Tapi, boleh dong saya kecewa ketika isi buku tak seindah untaian kata dari penerbit!

Setidaknya, kenyataan dalam cerita tak sesensasional cerita sampul belakang itu. Padahal kalimat itu yang membuat saya mengambil keputusan, “Beli!” Buku apa? Itu pertanyaan besar yang menggantung di benak saya. Tikungan kuantum apa? Lalu saya menanyakan itu.

The Einstein Girl adalah kisah cinta seorang psikiater, Martin Kirsch dan pasiennya, Mariya. Mariya ditemukan tanpa busana di hutan luar Kota Berlin. Tak ada identitas, hanya secarik kertas berisi pemberitahuan kuliah umum Albert Einstein. Serta merta nama Gadis Einstein melekat kepadanya.

Ketika tersadar, Mariya tak pernah ingat siapa dirinya. Kirsch yang sudah bertunangan malah menerjunkan diri ke dalam masa lalu Mariya. Cintanya kepada Mariya pun semakin dalam. Di akhir cerita, tak ada kisah tentang tunangan Kirsch yang mendominasi awal cerita.

Menggebu-gebu di awal dan melempem di akhir. Saya kecewa :(! Padahal di tengah-tengah, saya benar-benar mabuk Einstein. Tertampar dan terlongo ketika berbagai persamaan dan teori Fisika mendominasi. Saya sempat memuji ‘kecantikan’ buku ini. Tapi ketika selesai, selesai sudahlah ‘keelokan’ ceritanya. Tak ada jejak di hati saya. Rasa gemetar di awal memegang buku ini tak berguna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s