“Senjata” itu Bernama Buku

Standard
Novel tentang rahasia pecinta buku

Novel tentang rahasia pecinta buku

Saya memejamkan mata, mencoba lebur dalam imajinasi Libri di Luca, sebuah toko buku di Kopenhagen, Denmark. Saya melihat Luca Campelli, sang empunya toko, turun dari taksi. Bergegas membuka pintu dengan kunci hingga membuat lonceng di pintu berbunyi tak sabar.

Luca menarik nafas, mencium aroma buku yang dicintainya. Saya pun lebur ke dalamnya. Jari jemari saya meraba punggung buku, sama halnya bengan Luca. Ia menemukan sebuah buku, mengernyit, lalu mulai membaca.

Bacaan yang indah mengalun di telinga saya. Semakin indah, merdu, dan syahdu. Bagi saya itu dongeng. Luca membaca dengan suara yang keras, makin lama semakin cepat sampai akhirnya berhenti. Itu buku terakhir yang dibacanya. Buku itu membunuhnya.

Saya terus menekuri Libri di Luca. Sekalipun Luca telah pergi, masih ada John Campelli, si anak hilang, putra Luca. Libri di Luca jatuh ke tangannya. Toko buku eksotis dengan lorong-lorong lembab dan rak buku yang menjulang tinggi itu milik John kini. John sang Pengacara tak tertarik meneruskan toko buku ayahnya, sampai kemudian ia berhasil mendapati fakta, Luca dibunuh!

Ya, Luca memang mati terbunuh. Senjata yang digunakan oleh sang pembunuh adalah sebuah buku. Terkuaklah sebuah misteri Libri di Luca di depan John. Toko buku itu adalah sebuah basis perkumpulan pecinta buku. Mereka memiliki kekuatan untuk memengaruhi orang yang sedang membaca atau orang yang sedang mendengarkan pembacaan sebuah buku. Mereka adalah Lector.

Luca, yang membuat saya terpukau dengan bacaannya, adalah seorang pemancar. Ia mampu memengaruhi pikiran pembacanya untuk menggambarkan isi buku sesuai yang diinginkannya. Buku tak sekadar dua dimensi, tapi menjadi nyata di depan pembaca.

Pembunuh Luca, adalah seorang penerima. Ia mampu membawa seseorang yang membaca buku untuk mengikuti kemauannya. Pada tingkat tertentu, seorang penerima mampu memengaruhi pikirann, bahkan mendorong seseorang untuk bunuh diri. Itulah yang terjadi pada istri Luca, 20 tahun sebelumnya.

John mendapati fakta bahwa kedua orang tuanya dibunuh. Ia terlecut untuk menyingkap apa motif di balik pembunuhan itu. Tapi, ia perlu diaktifkan sebagai seorang Lector.

Di hari pengaktifannya, tersingkaplah kekuatan John sebenarnya. Ia Lector yang hebat, jauh melebihi kemampuan ayahnya. John mampu menciptakan percikan api di sekitar tubuhnya ketika melakukan pembacaan, hal yang selama ini belum pernah terjadi pada Lector manapun.

Dibantu Katherina, pegawai Libri di Luca yang uniknya menderita dyslexia, John membongkar fakta. Hidupnya terbelah dua, pagi menjadi pengacara, dan malam menjadi detektif amatiran. Tak berjalan mulus karena tak lama kemudian ia kehilangan pekerjaannya.

Satu per satu serpihan kenyataan didapati John. Perkumpulan pecinta buku Libri di Luca bukanlah satu-satunya perkumpulan Lector di dunia ini. Perkumpulan lain justru menggunakan kekuatannya untuk hal yang tak baik, termasuk untuk memengaruhi opini publik. Merekalah dalang di balik terbunuhnya Luca dan beberapa anggota perkumpulan lain.

Siapa mereka? John pun tak tahu. Ia hanya tahu bahwa penyelidikannya bersama Katherina membawanya pada bencana. Nyawa keduanya menjadi taruhan. Kekuatan John yang unik di satu sisi, dan sangat kuat di sisi lainnya, membuatnya diincar. Mereka pun terdampar di Alexandria, Mesir. Di sebuah perpustakaan paling besar sepanjang masa, Biblioteca Alexandrina.

Saya berharap lebih pada buku ini. Apa saja bisa dilakukan jika kita memiliki kekuatan seperti Luca, John, ataupun Katherina sang penerima. Namun, buku ini terjebak pada apa yang saya sebut “menggebu di awal, tapi tak sabar menyelesaikan akhir”. Akhirnya endingnya pun terburu-buru dan membuat saya kecewa.

Tetapi, saya menilai 100 untuk ide orisinal Mikkel Birkegaard untuk buku ini. Ide yang membuat saya jatuh hati ketika membaca backstory di belakang buku. Nice story, nice book!. Segera setelah membaca buku ini, saya mulai waspada terhadap orang sekitar. Adakah Lector bergentayangan di sekeliling saya dan memengaruhi saya dalam mengambil keputusan? Anda pun harus mulai waspada.

One response »

  1. Pingback: Tweets that mention “Senjata” itu Bernama Buku | Cerita Violeta -- Topsy.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s