Karma

Standard

Saya terbiasa menulis berputar sebelum sampai pada inti yang saya mau. Setidaknya, saya menilai mata kuliah Jurnalisme Sastrawi berhasil merasuk dalam diri saya karena kemampuan itu.

Baiklah, mari kita membahas tentang karma. Karma-nya Cokelat adalah lagu pop favorit saya pertama kali. Favorit saya sendiri dalam arti tidak dipengaruhi oleh tiga kakak sepupu saya. Saya dibelikan CD lagu itu oleh Bapak saya, kemudian diputar di komputer. Itu sepuluh tahun yang lalu.

Saya tak percaya karma, tak terlalu percaya tepatnya. Hanya saja, saya percaya kalau orang berbuat, pastilah ada balasannya suatu saat nanti. Tapi, bagi saya, itu bukan karma. Yah, itu sudah sewajarnya terjadi di dunia ini. Siapa berbuat, siapa bertanggung jawab. Siapa menanam, dia pula yang memetik hasilnya.

Pada akhirnya, saya dipaksa percaya pada karma. Saya mengalaminya, lebih parah dari apa yang saya perbuat di masa lalu, 25 tahun yang lalu. Dan kini, saya percaya, benar-benar percaya karma itu ada.

Bapak saya bilang, “Semua dibayar kontan, bahkan lebih.” Itulah komentar Kung-nya Vio melihat pose nenen cucunya yang super duper ajaib. Ya, 25 tahun yang lalu, saya juga melakukan hal yang sama pada ibu saya. Bedanya, saya melakukan akrobat ketika menyusu setelah berusia lebih dari setahun, tetapi Vio melakukannya ketika berusia 7bulan.

Pose nenen Vio memang ajaib. Semakin hari, posenya semakin ajaib. Suami saya sampai heran. Sebagai gambaran, ketika saya berbaring, dia akan berbaring posisi telentang di atas tubuh saya dengan mulut masih nyedot.

Susah membayangkan, mari saya berikan contoh yang lebih gampang! Saya berbaring telentang, Vio nenen sambil duduk kemudian kakinya mendorong badan saya menjauh. Dalam waktu yang bersamaan, ada bagian tubuh saya yang terdorong, dan tentunya ada pula yang tertarik oleh mulut mungil Vio. Terbyang nyerinya kan?

Pose favorit lain adalah saya berbaring sejajar tembok, sementara Vio membentuk sudut siku dengan tembok, berbaring juga telentang ke atas. Susah menjelaskan, silahkan dibayangkan saja.

Yang mungkin biasa dialami ibu-ibu menyusi yang lain adalah nenen sambil berdiri. Saya berbaring lalu Vio berdiri sambil tetep latch on. Awalnya cuma begitu saja, tapi akhir-akhir ini disertai adegan menyeberang dari satu sisi ke sisi lainnya. Mungkin maksud Vio agar bervariasi dan tak membosankan!

Lalu, masih ada pose melawan arus yang lagi-lagi susah dijelaskan. Mertua saya yang mengunjungi kami minggu lalu sampai takjub.

Dari semua pose menyusui itu, saya cuma mau menarik kesimpulan bahwa karma itu ada. Selanjutnya apakah posting ini lebih cocok diberi judul pose menyusu favorit Violeta, itu terserah saya saja.

2 responses »

  1. Pingback: Si “Mas” yang Mengganggu Hidup Saya | Cerita Violeta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s