The Tourist

Standard

Saya mengikuti perjalanan Angelina Jolie dan Johny Deep di sebuah kereta menuju Venesia. Sang pria berambut panjang, membaca novel spionase sedangkan si perempuan sangat seksi. Mereka duduk berdua menikmati makan malam, sementara saya berdiri.
Tentu saja, saya tak benar-benar berada di kereta itu. Saya berdiri di deretan kursi XXI paling atas, dengan gerakan khas seorang ibu yang menidurkan bayinya. Di samping saya, berjarak satu tempat duduk, suami saya yang dengan muka khawatir mengawasi saya dan bayi di gendongan.

Malam itu kami menyambangi bioskop lagi setelah terakhir menonton bioskop 7 bulan lalu. Berbeda dengan pengalaman pertama, saya lebih santai. Kalau si bayi nangis, ya tinggal keluar saja. Beres!

Tapi, suami justru tegang. Dulu, Violeta belum bisa apa-apa. Sekarang sudah pandai berteriak dan menangis keras takut mengganggu yang lain.

Kami terlambat masuk bioskop. Urusan makan dengan bayi ber-BLW yang butuh kesabaran ekstra, plus beres-beres ekstra juga tentunya. Saya tak tahu berapa lama kami ketinggalan. Yah, tiba-tiba saja Angelina Jolie eh, Elise Ward muncul di stasiun.

Violeta masuk bioskop dalam keadaan mata masih 100% melek. Begitu duduk, ia mengamati wajah saya, juga ayahnya. Memastikan ia mengenal kami. Dia meraba pipi saya, dan menjulurkan tangan ke arah wajah ayahnya. “Ini Ibu, itu ayah,” itu yang saya bilang. Sayan melihat sebaris senyum yang menandakan dia yakin mengenal kami.

Tibalah sesi menyusui! Layar lebar menunjukkan Elise yang berjalan di koridor kereta, mencari sesosok pria yang mirip kekasihnya. Jatuhlah pilihan pada seorang guru Matematika, Frank Tupelo.

Lalu sesi makan malam, dan saya harus berdiri agar tuan putri bisa nenen dengan tenang. Ditambah gerakan goyang-goyang agar kantuk cepat membekap bayi 10 bulan saya. Tepat ketika film menyentuh klimaks, saya mulai bisa duduk.

Saya menilai sendiri performa saya kemarin, 90 untuk keberanian mengajak bayi yang hobi berteriak masuk bioskop dan 85 karena berani memaksa suami membeli tiket. Oh ya, kami nyaris gagal membeli tiket karena suami ragu dan harus menunggu 2 jam untuk show yang kami inginkan.

Berbekal nilai yang bagus itu, saya berani memberi tips bagi orangtua yang ingin mengajak bayi menonton.
1. Pilihlah waktu show yang sesuai dengan jam tidur bayi.
2. Pilih kursi paling atas agar tak menggangu orang lain jika harus berdiri. Pesan tempat duduk paling pinggir untuk memudahkan evakuasi jika byi menangis.
3. Siapkan camilan bayi jika perlu.
4. Senjata utama saya adalah Sleepy Wrap yang benar-benar bikin bayi so sleepy.
5. Jaket dan segala rupa yang membuat si kecil hangat juga disiapkan mengingat ruang bioskop yang ber-AC. Dalam kasus saya ini tidak berlaku karena Vio justru keringetan di bioskop.

Untung saja The Tourist ini ga terlalu lama, hanya sekitar 1 jam 20 menit. Jadi penderitaan saya dalam bioskop dengan ikatan Sleepy Wrap yang bikin sesak nafas serta bayi 8,5 kilogram dalam gendongan juga tak terlalu lama.

Ditambah pula, banyak sekali kejutan dalam film ini. Tak terlalu banyak adegan ‘syur’ ataupun adegan kekerasan. Yang ada adegan romantis dengan panorama Venesia dan gondola-gondolanya. Saya semakin puas aja menonton.

Tak seperti film lainnya, saya tak bisa menebak kejutan-kejutan yang disajikan. Mungkin, saya tak berkonsentrasi penuh, mungkin juga insting detektif yang saya asah bersama Sherlock Holmes dan Hercule Poirot sudah tumpul karena jarang digunakan.

Bukan berarti film ini bagus juga. Akting Deep dan Jolie saya nilai standar. Ekspresi Jolie kok ya begitu-begitu saja. Mungkin itu juga yang membuat saya tak bisa menebak kalau Elise Ward adalah …. (Dilarang membocorkan kejutan!). Kekakuan Alexander Pearce *eh* Deep sebagai guru terasa sempurna tapi aneh.

Saya pun mengambil beberapa hikmah dan kesimpulan dari film ini.
1. Ternyata Jolie juga rambutnya bisa acak-acakan ketika tertiup angin, tak seperti Asmirandah yang rambutnya selalu rapi meskipun habis berlari-lari mengejar Kak Fadil *edisi sinetron*
2. Naik gondola di Venesia itu romantis sekali *edisi pengen hanimun*
3. Kalau mau operasi plastik, jangan pilih muka Johny Deep. Menurut Jolie, Deep itu tak seganteng Pitt, dan saya sependapat. Bagi saya, suami saya paling ganteng biarpun sedang sakit gigi *edisi sayang pasangan*
4. Kalau mau nyolong, ambil aja duit mafia atau penjahat, jangan uang rakyat *edisi sebel sama Gayus*
5. Jangan lupa bayar pajak, pencuri aja bayar pajak kok! *edisi apa kata dunia?*
6. Tak perlu operasi plastik seharga 200 juta untuk jadi bermuka jelek seperti Johny Deep *edisi miskin*

Maaf kalau tulisan ini tak sesuai harapan. Saya memang tak bertujuan meresensi filmnya, hanya ingin berbagi kalau menjadi orangtua itu tak mudah, tapi bukan berarti tak bisa dinikmati. Saya bisa menonton The Tourist dengan hati bahagia adalah salah satu contohnya.

Akhir kata, The tourist, memang the perfect trip, the perfect trap bagi saya. Dan Trip Trap seperti akan jadi high chair impian yang tak mungkin dibeli. *nglantur*

2 responses »

  1. hebat! saya baru berani ngajak Bintang ke bioskop setelah dia 2,5 tahun (ya, bbrp minggu lalu :D). Dan ternyata gak terlalu ribet, ya. Tergantung kesiapan ortu. Thanks for sharingnya. Penting.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s