Belajar Falsafah Hidup dari Jeruk

Standard

Tak ada satupun jeruk di dunia ini yang sama persis. Ada yang kecil, ada besar. Ada segar, ada busuk. Ada oranye dan ada pula yang kuning. Ada yang manis serta pasti ada pula yang asam. Begitu besarnya kuasa Tuhan dalam penciptaan hingga tak ada dua jeruk yang benar-benar sama persis.

Begitulah pelajaran berharga yang bisa kita dapat dari buku ini. Artinya, dunia ini diciptakan beragam. Ada yang kaya, ada yang jahat, ada yang pintar, ada yang sempurna, ada yang hitam, dan sebagainya.Tuhan telah mendesain segala hal di alam semesta ini sedemikian rupa agar dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk manusia.

Buku kecil ini berkisah tentang Georg Roed. Cowok 15 tahun ini mendapatkan surat dari ayahnya yang telah meninggal. Surat-surat tersebut ditulis sang ayah menjelang wafat ketika Georg berusia empat tahun. Wajar kiranya jika Georg nyaris tak punya kenangan yang berarti dengan ayahnya karena ia masih begitu kecil ketika ayahnya meninggal. Surat wasiat ayahnya itulah yang membuat Georg merasa melakukan “interaksi” langsung dengan sang ayah.

Dengan bantuan ayahnya—melalui surat tentunya—Georg pun mulai menulis buku. Surat itupun membuat Georg sanggup membuka kata sandi komputer tua ayahnya. Padahal kata kunci itu telah sebelas tahun lamanya menjadi misteri bagi ibu nya sekalipun.

Di sepanjang suratnya tersebut, ayah Georg menceritakan kisah cintanya dengan seorang gadis misterius bermantel oranye. Gadis yang seringkali membawa sekantong besar jeruk. Ayahnya menamai gadis itu si Gadis Jeruk. Demi cintanya ini, sang ayah pun rela pergi ke Spanyol, tempat jeruk-jeruk itu tumbuh. Siapa sebenarnya Gadis Jeruk itu? Teka-teki inilah yang akan terus menyertai kita sampai akhir buku ini.

Tapi, surat ayah Georg tak melulu berisi kisah cinta. Sang ayah juga menanyakan kabar Teleskop Ruang Angkasa Hubble di halaman pertama. Suatu kebetulan yang luar biasa karena Georg baru saja menyelesaikan tulisan tentang teleskop itu untuk tugas sekolah. Tulisan Georg itu mendapat pujian dari guru pelajarannya. “Sukses sebagai astronom amatir,” begitu tulis gurunya. Georg menduga ayahnya bisa membaca pikiran karena kebetulan mengenai Teleskop Hubble itu.

Penulis buku ini, Jostein Gaarder, memang penulis cerdas. Penulis asal Swedia ini selalu saja menyisipkan hal-hal yang membuat pembacanya berpikir lebih dalam tentang arti hidup. Di halaman-halaman buku ini misalnya, Gaarder tak hanya mengajak kita untuk menikmati kisah cinta, tapi juga untuk tahu lebih jauh tentang ruang angkasa. Tentang gambar-gambar yang diambil oleh Teleskop Hubble, yang sanggup membongkar teka-teki luar angkasa. Semuanya mengerucut pada kekuasaan suatu zat pengendali alam semesta, Tuhan.

Secara tidak langsung, Gadis Jeruk mengajarkan cukup banyak pengetahuan tentang astronomi kepada pembaca. Buku ini sekaligus membawa kita menjelajahi alam semesta dan alam imajinasi sekaligus menemukan jawaban atas filosofi hidup manusia. Gadis Jeruk juga mengajak kita untuk menjaga mimpi, mimpi yang disebut Georg dengan “sebuah harapan”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s