Mimpi Itu

Standard

Mimpi itu begitu jelas. Saya masih bisa mengingatnya. Saya berada di sebuah distro kecil, rasa-rasanya mirip dengan tokonya Ouval.

Banyak baju dipajang, tapi hanya satu yang menarik hati. Baju itu berwarna biru, hanya satu, modelnya pun bukan saya banget. Bukan model baju longgar yang biasa saya sukai. Pokoknya bukan saya bangetlah, bingung juga mendeskripsikannya. Entah mengapa, saya ngotot saja membeli baju itu. Bungkus!

Esoknya, saya menceritakan mimpi itu kepada ibu saya. Kebetulan ketika itu sedang libur semester. Ibu saya bilang, “Mungkin kamu akan pacaran sama orang yang baru kenal, bukan teman SMA atau teman kuliah,” begitu kata ibu saya. Saya senyum-senyum saja.

Oke, saya bukan orang yang percaya pada tafsir mimpi. Oh ya, tafsir mimpi itu ada ilmunya sendiri dalam psikologi. Saya sempat membaca bukunya yang tebal dan tak tahu mengapa saya memilih membaca buku itu dibanding Elemen-elemen Jurnalisme.

Meskipun asli Jawa, saya juga tak percaya primbon. Rasanya primbon memudar di generasi ibu saya, dan semakin hilang pada generasi saya. Ketika kecil, saya sering disuruh Budhe meminjam buku primbon ke tetangga. Jadi, hanya itu saja interaksi saya dengan sang primbon.

Saya lebih percaya ibu saya memiliki insting kuat sebagai seorang ibu. Dan itu terbukti jauh lebih tepat dibanding primbon ataupun buku tafsir mimpi. Inilah salah satu buktinya. Sembilan bulan setelah bermimpi, saya menikah dengan orang yang bukan teman SMA ataupun teman kuliah, the man on the street.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s