Cucu Ibu Saya

Standard
Cucu Ibu Saya

Cucu Ibu Saya

Bayi itu menangis keras, membuka tangannya lebar, dan merengek minta gendong ibu saya. Oh ya, perkenalkan nama bayi itu, Rahmania Violeta Corleone. Dia cucu pertama ibu saya. Benar-benar cucu ibu saya.

Sejak di perut, ibu saya paling “heboh” menyambut. Ibu rajin mengadakan syukuran untuk calon cucu pertamanya yang masih di perut, pastinya perut saya.

Syukuran si calon bayi ketika di perut berlangsung dua kali. Pertama ketika calon bayi berusia empat bulan. Waktu itu mengundang tetangga-tetangga. Kemudian ketika tujuh bulan, mengundang teman-teman pengajian ibu saya.

Setelah mbrojol, bayi itu masih juga bikin heboh. Syukuran lagi ketika dia berusia lima hari (sepasar dalam Jawa). Cukup heboh juga, mengirim masakan ke saudara dan tetangga.

Paling heboh tentunya syukuran selapan (36 hari) sekaligus aqiqah. Meski lahir cewek, bayi itu mendapat jatah dua kambing, padahal seharusnya cukup satu.

Acara aqiqah si bayi malah sampe tiga hari tiga malam dengan rangakain acara yang berbeda. Mulai dari arisan bapak-bapak, mengundang anak yatim, sampai mengundang grup rebana. Semua karena dia cucu ibu saya. Hmmm…

Terakhir, ketika si bayi sudah 7 lapan, ibu saya kembali heboh. Tapi kehebohan ini berhasil saya rem karena ibu pasti pusing sendiri. Makanya, tidak diadakan syukuran tedak siten alias turun tanah seperti layaknya adat Jawa. Ibu cuma membuat iwel-iwel (kue tradisional).

Ehh, bayi itu memang cucu ibu saya. Bayi itu kebetulan juga anak saya. Kalau saya yang menyusui, wajar saja karena bayi itu anak saya. Tapi, ibu saya juga sering menyusui bayi itu, menyusui cucunya.

Menyusui Cucu
Berawal dari iseng-iseng, ibu saya jadi sering menyusui cucunya. Tentunya cuma sekadar buat ngempeng, tak serius menyusui.

Hasilnya? Si cucu jadi lengket seperti perangko dengan Uti-nya. Pernah suatu siang bayi itu menangis tak mau diam karena sang Uti belum pulang mengajar. Biasanya, jam 11 siang ibu saya sudah pulang dan langsung menyapa cucunya, berganti baju, lalu menggendongnya.

Suatu ketika lagi, si bayi tak mau tidur ketika saya susui. Ia berbalik dan memilih disusui Uti-nya. Ajaib, bayi itu tidur pulas dikelonin Uti, plus dinenenin. Cape dehhhh….

Ketika malam terbangun, dia juga akan mencari Utinya. Tentu saja pengecualian jika si bayi merasa haus, dia baru akan mencari saya. Ahhh, Violeta, kamu memang cucu ibu saya. Saya percaya itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s