Ga Magnum, Ga Gaul Kalee…

Standard

Perempuan itu berambut keriting. Bajunya sederhana berwarna hijau tosca. Dia tak cantik, tapi dia begitu istimewa. Karena apa? Karena es krim di tangannya.

Magnum. Es krim itulah yang membuat perempuan itu menjadi mempesona. Mendapat tempat duduk khusus di trem, dikipasi, dan dilirik orang-orang di sekitarnya. Yang paling ekstrim, dia menjadi ratu dan dielu-elukan jutaan rakyatnya. Foto dirinya (lengkap dengan Magnum) dipasang besar-besar.

Ya, begitulah iklan Magnum di televisi. Sebuah iklan yang biasa, namun dilengkapi dengan sound effect yang menggoda, serta narasi yang mengundang tanya. Misalnya ketika si perempuan menggigit lapisan coklatnya, sound effect-nya “nendang” untuk menggambarkan kerenyahan si Belgian Chocolate ini.

Namun, iklan yang menggoda itu hanya salah satu faktor boomingnya Magnum di pasaran. Yang tak kalah pentingnya adalah peluncuran besar-besaran di Senayan City bertajuk Magnum Royal Fame. Ada pesta es krim dan kembang api. Pesta yang meriah tentunya.

Lalu, social network seperti Twitter dan Facebook turut pula mempengaruhi. Para net advocate menggiring follower mereka untuk penasaran dengan Magnum. Net advocate itu bisa artis, politisi, atau para blogger berpengaruh. Mereka sengaja mem-buzz Magnum sebagai topic pembicaraan sehingga mengundang tanya follower-nya.

Komunikasi dua tahapnya (two step flow) sukses besar. Magnum menjadi bahan perbincangan di Twitter dan Facebook. Di Twitter, berseliweran tagar (hastag/#) Belgian Chocholate, Magnum, Magnum Classic, dan sebagainya. Di Facebook kemudian muncul Magnumize Your Friend. Magnum Indonesia juga membuat fan page khusus, lebih dari 20 ribu orang menyukai (like) halaman tersebut. Hasilnya, Magnum menjadi es krim paling diincar di negeri ini.

Langka
Entah termasuk salah satu strategi pemasaran yang disengaja atau bukan, kelangkaan Magnum membuatnya semakin dicari. Sesuai sekali dengan hukum ekonomi.

Terkait kelangkaan Magnum, kemungkinan ada dua sebab. Pertama, jaringan pemasaran yang letoy sehingga Magnum tidak tersebar merata, bisa jadi juga karena produksi yang belum maksimal. Penyebab ke dua, racun Magnum begitu kuasa sehingga banyak dicari, banyak diborong, dan banyak pula yang tak kebagian.

Dua sebab di atas memiliki kemungkinan sama besar. Yang jelas, kelangkaan ini banyak diperbincangkan kembali di Twitter sehingga membuat orang semakin penasaran. Mungkin lagu “High Promises Low Delivery” sedang dinyanyikan oleh produsen Magnum.

Minggu ini, gejolak Magnum sudah cukup reda. Rasa penasaran yang telah sirna ditambah stok Magnum yang mulai merata membuatnya sudah tak menggoda lagi. Tapi, beberapa yang baru mendapatkannya mulai ‘berkicau’ dan memborong.

Jadilah Magnum sebagai ikon gaul. Ga Magnum, ga gaul. Sudahkah Anda ber-Magnum hari ini?

Dapat dibaca pula di iyadong.com

Inilah salah satu korban Magnum.

Tak cuma icip-icip, tapi sampai belepotan

Tak cuma icip-icip, tapi sampai belepotan

7 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s