Buta Membaca, Gagap Menulis

Standard

Menulis adalah saudara kembar membaca, begitu kata Hernowo dalam Quantum Writing. Minat baca dan menulis itu timbal balik, seperti dua sisi mata uang. Rasanya kalimat tersebut tak berlebihan. Tanpa membaca, kita tak akan sanggup menulis. Ibaratnya, jika kita buta membaca, maka otomatis kita pun akan gagap dalam menulis.

Sejatinya, belajar membaca itu sama mudahnya dengan belajar berbicara. Malah sebenarnya lebih mudah. Menurut Gleen Doman hal tersebut karena kemampuan melihat telah terbentuk sebelum kemampuan berbicara. Namun apakah jadinya jika kemampuan melihat tak difungsikan untuk membaca? Sama saja dengan buta.

Buta membaca memang menjangkiti masyarakat kita. Apalagi masyarakat kita telah begitu lekat dengan budaya lisan. Buktinya? Ambil saja contoh perbandingan surat kabar dengan pembaca. Di Indonesia, satu surat kabar dibaca 42 orang. Jumlah tersebut jauh dibanding rasio di Malaysia, yaitu 1:8, Filipina, 1:15, dan Singapura 1:2,9. Jangan jauh-jauh membandingkan dengan Jepang yang memang luar biasa. Lima surat kabar terbitan ”Negeri Matahari Terbit” itu bahkan menempati daftar teratas sirkulasi surat kabar di dunia. Tiras surat kabar terbesar di Jepang bahkan masih lebih besar dibanding total tiras surat kabar di Indonesia.

Jakob Oetama dalam prakata Bukuku Kakiku mengungkapkan salah seorang editor penerbit buku Gramedia pada suatu hari bertutur, “Buku terjemahan Harry Potter jilid pertama dicetak 15 ribu eksemplar. Cetak ulang kedua dalam waktu satu bulan 15 ribu eksemplar, dan hingga saat ini sudah mencapai cetak ulang ke-14. Padahal novel popouler biasanya dicetak lima ribu eksemplar.”

Tiba-tiba editor tersebut menambahkan keterangannya, “Di Thailand, cetakan pertama Harry Potter 100 ribu eksemplar, padahal buku biasa dicetak lima ribu eksemplar saja. Di Taiwan, setelah cetak ulang berkali-kali—cetak ulang pertama 22 ribu eksemplar—Harry Potter dicetak 300 ribu eksemplar. “

Menurut Jakob Oetama, dibandingkan dengan jumlah penduduk, buku Harry Potter yang berhasil dijual di Indonesia tentunya tidak sebanding dengan Thailand dan Taiwan. Apalagi jika dibandingkan dengan Jepang. Bisa kita simpulkan betapa masih rendahnya minat baca masyarakat kita.

Fakta tersebut memang cukup mengkhawatirkan. Minat baca yang rendah berarti akses terhadap informasi rendah. Padahal membaca adalah salah satu cara untuk mendapatkan informasi. Seperti diungkapkan Nobert Wiener, kecukupan informasi itulah yang membuat seseorang dapat hidup efektif. Selain itu, membaca juga berarti menjelajahi sekat ruang dan waktu. Tak heran pula jika dengan membaca, perilaku seseorang bisa berubah seperti apa yang diungkapkan Francis Dwyer.

Kesimpulannya, membaca memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan individu. Namun, menulis memiliki pengaruh yang lebih besar lagi. Menulis tidak hanya merupakan kepentingan individu dan personal. Banyak hasil penelitian yang menyebutkan bahwa menulis adalah cara melepaskan stres. Menulis juga menjernihkan pikiran dan bahkan bisa mengatasi trauma psikologis. Dr. Stephen D. Krashen menyebutkan jika menulis membantu kita menyelesaikan masalah dan membuat kita semakin cerdas. Yang mendasar dari menulis, menurut Hernowo, adalah mengenali diri sendiri.

Bagi masyarakat, menulis adalah perjalanan panjang menuju peradaban. Bagaimana dialektika dalam peradaban umat manusia direkam dalam tulisan-tulisan. Tak akan ada teori evolusi jika Charles Darwin tak menuliskan hasil observasinya di Kepulauan Galapagos. Tak akan ada pula counter attack terhadap The Origin of  Species bila Harun Yahya tak menulis buku-bukunnya.

Semakin tinggi minat baca suatu masyarakat, maka semakin banyak penulis dalam masyarakat tersebut. Semakin banyak penulis, semakin banyak pula buku yang diterbitkan. Marilah kembali kita bandingkan Indonesia dengan negara-negara lain. Jumlah buku yang terbit di Indonesia sekitar 3000 judul per tahun. di Jepang lebih dari 40 ribu judul (hampir setengahnya terjemahan). Sementara itu di Amerika Serikat sekitar seratus ribu judul dan di Inggris 60 ribu judul. Fakta itu mengindikasikan bahwa jumlah penulis di Indonesia masih sedikit.

tulisan ini pernah dimuat di Harian Seputar Indonesia, Jumat, 7 Maret 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s