Duka di Kabaena (4)

Standard

Tak mudah mencapai Temokole. Hanya ada satu mobil angkutan umum yang bisa membawa penumpang ke Temokole. Akses jalan menuju Temokole pun tak bisa dibilang baik, berkerikil serta berbatu. Perjalanan itu juga harus melewati hutan-hutan belantara.

Malam itu Surahmat hendak membawa Lilis dan dua anaknya ke Temokole. Mereka harus mendapat pertolongan pertama di Puskesmas Temokole. Puskesmas itu berjarak 20 km dari Desa Tedubara. Jalan yang tak mulus ditambah perjalanan yang dilakukan di malam hari menambah rintangan perjalanan malam itu.

Tak banyak kendaraan yang bisa membawa penumpang ke Temokole. Hanya menuju Temokole dari Tedubara hanya ada satu kendaraan umum. Perlu waktu cukup lama untuk menunggui angkutan umum semata wayang itu, apalagi ketika malam sudah tiba. Padahal malam itu, luka bakar Lilis, Jajat, dan Dini sama sekali tak bisa menunggu.

Lilis dan dua anaknya harus rela menahan sakit sampai mendapat pertolongan pertama dari petugas medis di Puskesmas Temokole. Ketiganya tak sadarkan diri.

Puskesmas Temokole yang kecil itu seketika sibuk karena menerima tiga pasien luka bakar sekaligus di malam hari. Meski tak sanggup menangani, Puskesmas Temokole tetap berusaha memberikan pertolongan pertama pada tiga orang pasiennya malam itu.

Sayangnya, segala peralatan medis sangat terbatas di puskesmas kecil itu. Hanya ada satu tabung infus, sementara ada tiga orang pasien yang semuanya membutuhkan infus. Dengan pertimbangan Dini masih kecil namun luka bakarnya paling parah, maka petugas medis di Puskesmas Temokole memberikan infus pada Dini.

Rupanya Allah berkehendak lain. Dini tak sempat mengenal sang kakak lebih jauh. Jajat meninggal karena tidak mendapat pertolongan medis yang memadai. Padahal, luka bakar Jajat tak separah Dini.

Keterbatasan peralatan di Temokole membuat Jajat tak dapat bertahan hidup lebih lama. Dokter menduga Jajat kecil shock dengan kejadian yang menimpanya. Ia meninggal karena luka dalam tubuh, bukan karena luka fisik. Pembuluh darah Jajat mengalami trauma. Noda hitam di dada Jajatlah yang mengindikasikan trauma itu.

Keesokan harinya, tepat pukul satu siang, Jajat dimakamkan di Tedubara. Makam Jajat itu menjadi satu lagi kenangan buruk yang sering menghantui keluarga Surahmat hingga kini. Setiap membicarakan makam, Lilis seolah memandang monumen luka keluarganya.

Tak ingin Dini menyusul kakaknya ke alam sana, Surahmat meminta anak dan istrinya dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Hanya semalam di Puskesmas Temokole, Dini dan Lilis dipindahkan ke Rumah Sakit Kabupaten Temokole.

Di rumah sakit tingkat kabupaten ini, Lilis dan Dini hanya transit untuk pemeriksaan serta penggantian perban saja. Kendalanya sama, rumah sakit tak memiliki peralatan dan obat yang lengkap untuk merawat kedua pasien luka bakar itu.

Dini dan ibunya kemudian menempuh perjalanan panjang menuju Rumah Sakit Provinsi di Kendari. Menyeberangi laut dan menempuh perjalanan darat yang berat dengan menahan segala luka di tubuhnya, Lilis rela demi menyelamatkan Dini.

Sebelum melakukan perjalanan, Lilis dan Surahmat sempat bersitegang dengan masyarakat setempat. Masyarakat di Pulau Kabaena masih percaya takhayul sehingga setiap melakukan perjalanan jauh harus didahului dengan ritual-ritual dan syarat-syarat tertentu. Apalagi perjalanan yang akan mereka lakukan menyeberangi lautan serta membawa orang yang sedang sakit. Namun, karena mengkhawatirkan keselamatan sang anak, Lilis nekat menabrak rambu-rambu ritual itu.

”Pokoknya waktu itu saya ngeyel, nggak peduli dengan ritual-ritual dan syarat-syarat sebelum melakukan perjalanan. Saya memaksa langsung berangkat. Yang terpenting Dini harus mendapat perawatan yang memadai agar bisa selamat. Saya percaya sama Allah, bukan sama ritual,” ujar Lilis tegas.

Luka yang diderita Dini kecil begitu parah. Selama hampir tiga bulan, Dini tak sadarkan diri. Dalam keadaan koma seperti itu, Dini tak merespon apapun ketika luka-lukanya dibersihkan maupun ketika perbannya diganti. Dini kecil hanya terbujur kaku di ranjang rumah sakit. Tubuh kecil nan rapuh itu melemah karena kulit yang melepuh di wajah, punggung, serta dadanya.

”Dini nyaris tiga bulan tidak sadar, bahkan dokter di Rumah Sakit Kendari menyebut harapan hidup Dini nol persen. Tapi Allah berkehendak lain, Dini sadar dan keadaannya terus menerus membaik meskipun masih mengkhawatirkan,” jelas Lilis sambil memandangi Dini. Dini hanya tersenyum simpul.

Setelah tiga bulan, Dini baru bisa merasakan rangsangan dari luar. Lilis menuturkan bahwa putri bungsunya itu sudah mulai berteriak, menjerit, dan mengeluh ketika lukanya diobati. Hal tersebut membuat hati Lilis dan Surahmat lega di samping juga merasa tak tega dengan penderitaan gadis kecilnya yang terluka.

Meski mulai bereaksi terhadap rangsangan, bukan berarti luka bakar Dini membaik. Parahnya luka bakar itu membuat kulit Dini ikut terkelupas setiap diganti perban. Ketika berusaha bangun dari berbaring, kulit kepalanya pun terkelupas sampai tulang tengkoraknya terlihat.

Adik ke lima Surahmat, Henny Suhaenny, ketika itu ikut pula menunggui Dini. Hennylah yang membersihkan tubuh Dini selama Dini dirawat di Rumah Sakit Kendari. Ia mengenang sosok Dini kecil ketika sakit. Meskipun sering mengeluh dan menangis, Dini tetap tabah. Menurut Henny, Dini yang masih kecil jauh lebih tabah dari orang dewasa.

Henny memang tak sempat mengenal Dini lebih jauh. Ia mengaku mengingat sosok Dini kecil ketika Dini berkunjung ke Kendari. Saat itu usia Dini sekitar dua tahun.

”Anaknya ceria, lincah, cantik, dan menggemaskan,” cetus Henny jujur di depan sang keponakan.

Hennylah yag teratur mencuci alas tidur Dini. Membayangkan kulit Dini yang terkelupas dan menempel di alas tidur membuat diri Henny menderita lahir dan batin. Perasaannya campur aduk, antara tak tega sekaligus jijik. Namun rasa jijik itu terkalahkan oleh rasa sayangnya kepada sang keponakan. Henny tetap setia menunggui Dini.

”Saya yang menunggui sampai nggak doyan makan melihat penderitaan Dini. Nggak tega lihat kulit-kulit Dini yang masih begitu kecil menempel di alas tidurnya,” tutur Henny perih.

Luka Dini memang terus menerus berair karena lukanya yang parah. Di samping itu, kulit Dini masih terlalu muda, rentan luka dan sobek. Kulitnya belum setebal kulit orang dewasa. Jadi, ketika kulit Dini masih terus menerus mengelupas setelah tiga bulan terluka, dokter menilai hal tersebut sebagai hal yang wajar.

Sementara itu, Indra dan Tari malah tak ada yang mengurus karena Surahmat sibuk mengurusi Dini dan istrinya di rumah sakit. Surahmat pun membawa Indra dan Tari ke Kendari untuk tinggal bersama kakek neneknya. Sekolah mereka pun dipindahkan ke Kendari untuk sementara.

Hari demi hari keadaan Dini tak menunjukkan perkembangan berarti. Keadaan Dini yang tak membaik secara signifikan semakin membuat Lilis dan Surahmat khawatir. Apalagi pengadaan obat di Rumah Sakit Provinsi Kendari relatif susah. Rumah sakit tak selalu memiliki stok obat yang dibutuhkan Dini. Butuh waktu beberapa hari bahkan sampai satu minggu sampai Surahmat mendapatkan obat untuk Dini.

Lilis dan Surahmat kemudian memutuskan membawa Dini berobat ke Jakarta. Setelah enam bulan di Rumah Sakit Provinsi Kendari, Dini dirujuk ke rumah sakit di ibukota Jakarta. Dini kembali dibawa mengarungi samudera untuk mendapatkan secuil asa yang tersisa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s