Duka di Kabaena (3)

Standard

Kamis, 9 Mei 1996, senja baru menyapa Pulau Kabaena ketika suara adzan Maghrib berkumandang. Indra dan Tari bergegas menuju tempat mengaji. Surahmat pun turut bersiap untuk mengikuti pengajian malam Jumat di desa tetangga. Pengajian yang diikuti Surahmat memang digelar rutin setiap malam Jumat, tempatnya berpindah dari satu rumah ke rumah lain. Biasanya mereka membaca Surah Yasin bersama-sama.

Bersama sekelompok bapak-bapak sesama transmigran, Surahmat berjalan menuju tempat digelarnya pengajian. Tak sampai 50 meter dari rumahnya, langkah Surahmat dan rekan-rekannya terhenti. Teriakan ”Tolong, tolong” dari para tetangganya membuat Surahmat dan rekan-rekannya berbalik menuju tempat yang ditunjuk-tunjuk oleh para tetangganya.

Tak disangka, Surahmat malah mendapati rumahnya sendiri terbakar. Ia kemudian pingsan menyadari istri dan dua anaknya yang masih kecil berada di rumah itu. Surahmat baru tersadar ketika sesepuh Desa Tedubara menguatkannya dengan nasihat-nasihat bijak. Dalam keadaan masih shock, Surahmat menguatkan hati agar bisa mengurus segala sesuatu terkait musibah yang menimpa keluarganya, termasuk memastikan istri dan dua anaknya mendapatkan perawatan yang memadai.

”Kalau bukan kita sendiri yang mengurusi, nggak akan ada lagi yang mengurus kan? Makanya saya kuat-kuatin, demi keluarga,” ungkap Surahmat pedih.

Surahmat mengenang kembali kejadian pahit yang menimpa keluarganya itu. Istrinya dan dua anaknya menderita luka bakar parah. Lilis menderita luka bakar di kedua kakinya. Kaki Lilis melepuh, tangannya pun terluka. Namun luka Lilis itu tak seberapa dibandingkan luka yang diderita dua buah hatinya yang masih balita.

Dua anak Lilis mengalami luka bakar yang lebih parah lagi. Luka bakar Jajat meliputi dada dan punggung, begitupun Dini. Di dada Jajat terdapat noda hitam seperti lebam.

Yang memprihatinkan, keadaan Dini kecil lebih parah dari kakaknya. Selain dada dan punggung, Dini juga harus kehilangan kecantikan wajah kecilnya karena jilatan api. Bibirnya meleleh, matanya melepuh, daun telinganya pun leleh dilalap api. Wajah Dini menempel dengan leher, dagunya tak berbentuk lagi. Tangan kanannya Dini kecil juga terluka cukup parah. Kulit yang dulunya putih itu kini melepuh di mana-mana.

Tanpa beban, Lilis kembali mengenang musibah tak terduga yang menimpanya bersama dua anaknya yang masih kecil. Ketika sang suami dan dua anaknya yang sudah besar keluar rumah, ia mulai menyalakan lampu tempel sebagai penerangan rumah. Lampu yang digunakan Lilis untuk penerangan adalah lampu yang lazim digunakan di kapal.

Lampu tempel warna biru itu adalah lampu yang disediakan pemerintah karena listrik belum mengaliri Desa Tedubara. Rumah- rumah para transmigran memang biasa menggunakan lampu seperti itu.

Setelah menyalakan lampu di bagian belakang, Lilis menyalakan lampu di bagian tengah. Lampu  di tengah itu sedianya untuk menerangi teras dan ruang tamu. Dini dan Jajat yang saat itu masing-masing berusia 3 dan 5 tahun mengerubungi ibunya yang sedang menyalakan lampu, keingintahuan khas anak kecil. Tiba-tiba saja lampu itu meledak dan api serta merta menjilati tubuh ketiganya.

Nggak tahu minyaknya kosong atau gimana, tiba-tiba lampunya meledak aja,” kenang Lilis.

Anak-anaknya berlarian ke segala arah sambil berteriak, sementara Lilis berlari ke luar rumah. Sebelum pingsan, Lilis sempat melihat tubuh anak-anaknya membara ditingkahi api. Teras depan rumahnya hangus dilalap api. Dunia seketika gelap bagi Lilis. Ketika tersadar, ia telah berada di Puskesmas Temokole dan mendapati dua buah hatinya tergolek di atas seprai putih dengan luka bakar yang parah.

Jarak antarrumah di Tedubara memang cukup jauh. Setiap rumah setidaknya dipisahkan oleh lahan pertanian yang cukup luas. Oleh sebab itu, para tetangga tak sempat membantu Lilis, Jajat, dan Dini. Tubuh mereka bertiga keburu dilalap si jago merah.

Meski dinding-dindingnya terbuat dari kayu, rumah di Jalan Kamboja nomor 5 itu tak sampai habis terbakar. Rumah kecil itu masih kokoh berdiri. Hanya bagian depan dan ruang tamu saja yang menghitam karena gosong. Bagian belakang masih utuh karena tetangga-tetangga Surahmat dengan sigap bahu membahu memadamkan api yang membara.

Terkadang, Surahmat mengaku menyesal meninggalkan Lilis bersama dua anaknya di rumah. Ia juga menyesal tak memeriksa bahan bakar untuk penerangan di rumahnya ketika itu sehingga istri dan anak-anaknya harus menjadi korban. Namun, penyesalan memang tak pernah datang di awal. Penyesalan datang terlambat, setelah semua terjadi.

Menurut Surahmat, ledakan lampu tempel itu diduga karena minyak tanahnya bercampur dengan bensin. Penjual minyak tanah di Tedubara ketika itu juga menjual bensin. Dua bahan bakar itu disimpan dalam tong yang bentuknya sama persis.

”Mungkin tong minyak tanahnya bekas menyimpan bensin atau malah yang diberikan pada kami memang bensin karena bentuk tongnya sama. Penjualnya kemungkinan tidak menyadari. Itu di luar kesengajaan,” tutur Surahmat sambil termenung.

Dalam musibah itu, puluhan ekor ayam yang dikandangkan Surahmat di bawah kolong lantai teras ikut habis terbakar. Usahanya selama sembilan bulan di Pulau Kabaena ikut habis bersama  musibah yang menimpa keluarganya. Mimpi-mimpi sukses sebagai transmigran pun ikut musnah bersama kebakaran Maghrib itu.

-bersambung-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s