Duka di Kabaena (2)

Standard

Pulau itu bernama Pulau Kabaena. Butuh waktu sehari penuh dari Kendari untuk mencapai pulau kecil itu. Surahmat membawa keluarganya ke pulau itu dengan harapan yang membuncah, harapan akan kehidupan yang lebih baik. Mereka rela menempuh perjalanan panjang demi harapan yang telah membayang di depan mata.

Turun dari kapal laut tak berarti sampai ke tanah impian. Surahmat dan keluarga masih harus menempuh perjalanan darat yang tidak bisa dibilang mudah. Mereka harus melewati hutan dan jalan yang bergelombang untuk sampai ke Desa Tedubara, desa yang menyimpan sejuta asa bagi mereka.

Desa Tedubara masuk termasuk ke dalam Kecamatan Sikeli. Tedubara adalah desa transmigran. Sebagian besar penduduknya adalah para peserta transmigrasi dari Pulau  Jawa. Ada pula penduduk sekitar yang sengaja mengikuti transmigrasi, namun jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Lahan pertanian di Tedubara begitu luas.

Bulan-bulan pertama di tanah transmigrasi dilalui tanpa halangan berarti. Semua fasilitas sudah disediakan pemerintah, mulai rumah sampai alat-alat pertanian. Bahkan mereka masih akan mendapat subsidi bahan makanan selama satu tahun pertama. Jatah bahan makanan itu membuat mereka tak pernah kekurangan pangan bergizi.

Setiap bulan mereka mendapatkan jatah beras, lima kilogram untuk setiap orang. Ditambah lagi dua botol kecap, lima kilogram minyak goreng, garam, ikan asin, kacang hijau, dan empat kilogram gula pasir. Jatah dari pemerintah itu lebih dari cukup untuk dimakan sekeluarga selama satu bulan.

Selain lahan di sekitar rumah, Surahmat juga mendapat jatah lahan menengah seluas 200 meter persegi. Letak lahan itu cukup jauh dari rumah. Oleh karena itu, Surahmat menanam tanaman yang bernilai ekonomi tinggi seperti kopi, coklat, dan kacang mede.

Masih ada juga lahan jauh yang letaknya sangat jauh  dari pemukiman. Biasanya lahan jauh ini ditanami tanaman keras. Lahan jauh milik Surahmat sama sekali belum tersentuh karena ia cukup kewalahan mengurusi lahan pekarangan dan lahan menengah.

Tiga bulan di Tedubara sudah membuat mereka bisa tersenyum. Surahmat mengerjakan lahan menengah, sedangkan sang istri membantu mengurus lahan pekarangan mereka. Tentu saja Lilis mengurus lahan ketika selesai mengurus anak atau jika tak ada pengunjung salon. Mereka sudah mulai memanen padi dan ubi.

Hasil panen mereka  lumayan. Apalagi  pemerintah memberinya  kebebasan menjual hasil ladangnya ke koperasi maupun menjualnya sendiri ke pengepul. Begitupun hasil ternak ayam mereka, mulai gemuk dan bisa dipotong. Surahmat juga diperbolehkan memasarkan sendiri hasil ternak tersebut.

Tak salah kiranya jika keberuntungan menaungi pasangan suami istri itu. Keduanya memang telah mempersiapkan keikutsertaan mereka dalam transmigrasi ini dengan matang.

Selain Surahmat yang mendapatkan pelatihan khusus dari Departemen Transmigrasi, Lilis pun tak mau kalah. Ia mengikuti kursus rias pengantin dan memotong rambut sebagai bekal bertransmigrasi. Lilis bahkan juga membawa semua keperluan salon sebelum berangkat ke Sulawesi Tenggara. Ia membeli semua keperluan salonnya senilai dua juta.

”Waktu itu belanja dua juta sudah dapat banyak, semua sudah lengkap, termasuk beberapa pasang baju pengantin. Kalau sekarang sih paling-paling cuma dapat gunting saja,” ujar Lilis sambil tertawa lebar.

Selain panen yang berlimpah, penghasilan salon Lilis juga lebih dari cukup untuk menambah biaya menghidupi empat anak mereka. Apalagi selain memotong rambut, Lilis juga piawai melulur dan melakukan creambath serta merias pengantin. Di samping itu, salon Lilis juga memiliki peralatan lengkap yang dibawa dari Bandung. Jadilah salon Lilis semakin terkenal di kampung transmigrasi itu.

Meski berhawa panas Desa Tedubara tidak berdebu. Udaranya pun cenderung lengket. Tanah merahnya membawa berkah tersendiri bagi mereka yang bercocok tanam.

Keempat anak mereka juga sudah mulai kerasan tinggal di desa, jauh dari keramaian seperti di Bandung. Kekhawatiran mereka akan harimau atau binatang buas lain akan menyambangi rumah mereka sirna sirna sudah seiring bergantinya waktu.

Anak-anak mereka jauh lebih sehat dibandingkan ketika masih di Bandung. Mereka mendapatkan gizi dan makan yang cukup. Indra dan Tari yang sudah beranjak besar pun sudah mulai bisa menjaga adik-adiknya ketika Surahmat dan Lilis bekerja.

Mungkin hanya satu yang sedikit mengganggu. Desa Tedubara belum dialiri listrik. Karenanya tak ada hiburan seperti televisi, radio, maupun radiotape. Hiburan bagi anak-anak adalah bermain lepas di sekitar rumah tanpa takut terlanggar mobil atau motor.

Wajar jika penerangan pun tak ada. Untuk penerangan rumah sehari-hari, mereka menggunakan lampu yang berbahan bakar minyak. Meski tak mencukupi untuk mengurangi kesenyapan malam harri di Kabaena, lampu itu cukup membantu.

Selain anak-anak yang berubah kebiasaan, Lilis pun punya hobi baru selama di Tedubara. Hobi Lilis adalah mengolah ikan menjadi ikan asin. Desa Tedubara memang tak jauh dari laut, hanya sekitar 14 kilometer. Tak heran jika Lilis bisa mendapatkan ikan laut dengan harga sangat murah. Ikan pari dengan ukuran sedang saja hanya 500 rupiah. Kadang Surahmat pulang membawa satu ember udang seharga seribu rupiah.

Bila orang Bandung menyukai ikan asin sepat, lain halnya dengan penduduk Tedubara. Ikan sepat justru tak disentuh sekalipun, apalagi dijadikan ikan asin. Mengingat di Bandung ikan sepat lumayan mahal, Lilis pun sayang membuang ikan rawa tersebut. Hobinya mengasin ikan pun mulai menemukan bahan baku yang tepat.

”Sayangnya nggak ada yang mau makan ikan asin. Tiap bulan setiap keluarga kan sudah dapat lima kilo, jadi hobi saya sia-sia saja,” jelas Lilis memecah tawa keluarganya di ruang tamu sempit rumahnya di Hegarmanah, Cidadap.

Sembilan bulan di tanah transmigrasi dilalui tanpa hambatan berarti. Perlahan-lahan, kehidupan yang lebih baik pun menghampiri keluarga sederhana itu. Surahmat dan Lilis mulai merasa keputusan mengikuti transmigrasi adalah pilihan tepat ketimbang terus mengadu nasib yang tak kunjung membaik di Paris van Java.

Namun malang tak dapat dicegah. Semua rencana yang sudah disusun pasangan suami istri ini tiba-tiba buyar. Musibah tak terduga menimpa Surahmat dan keluarganya. Jadilah rumah mungil nan nyaman di Jalan Kamboja nomor 5 itu meninggalkan luka mendalam bagi keluarga Surahmat, terutama bagi si kecil, Dini Setia Utami.

-bersambung-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s