Duka di Kabaena (1)

Standard

Surahmat menerawang mengenang rumahnya di seberang lautan. Rumah di Jalan Kamboja nomor 5 itu tidak besar, hanya berukuran 6 x 7 meter. Di dalam rumah itu terdapat dua kamar tidur. Lantainya tanah, dindingnya seluruhnya terbuat dari kayu, dan atapnya seng. Meski atap seng membuat udara di dalam rumah semakin panas, namun rumah itu cukup nyaman.

Rumah itu dikelilingi lahan pertanian seluas 200 meter persegi. Surahmat dan istrinya, Lilis, menanam sayur mayur, ubi, dan padi di lahan itu. Ada sawi, kacang panjang, kangkung, dan macam- macam sayuran lain. Mau masak, tinggal petik tanaman hasil sendiri.

Selain tempat istirahat ketika penat menyerang, rumah mungil itu juga menjadi ladang ”penghasilan” bagi Surahmat dan keluarganya. Kolong teras rumah yang berupa  panggung dimanfaatkan Surahmat untuk beternak ayam. Sang istri pun tak ketinggalan membuka salon di ruang tamu.

Semua yang ada di rumah itu sudah lengkap, termasuk perabot dan segala perlengkapan rumah tangga. Surahmat dan keluarganya hanya tinggal menempati rumah yang disediakan pemerintah untuk para transmigran itu.

Ya, dengan motivasi tinggi untuk mencari kehidupan yang lebih baik, Surahmat mendaftarkan diri sebagai salah satu peserta transmigrasi pada. Surahmat terinspirasi oleh keberhasilan ayahnya yang mengikuti transmigrasi pada tahun 1980-an.

Kedua orangtua Surahmat berangkat ke Kendari, Sulawesi Tenggara, ketika ia masih sekolah. Kala itu, Surahmat pun ikut. Ia sempat enam bulan tinggal di Kendari. Merasa tak betah, Surahmat pun memutuskan kembali dan mencari pekerjaan di Bandung.

Pada 1995, ibunda Surahmat datang menjenguk cucu-cucunya. Ketika kembali ke Kendari, sang ibu membawa serta dua cucunya, Indra dan Tari yang saat itu sudah mulai sekolah.

Sang ibu menyarankan agar Surahmat pindah ke Kendari mengikuti orangtuanya. Surahmat sempat menolak saran ibunya, namun ia akhirnya memutuskan menyusul ke Kendari. Ia lebih memilih mengikuti program transmigrasi pemerintah daripada berangkat langsung ke Kendari.

Sebelum berangkat, Surahmat mendapatkan pelatihan khusus dari Departemen Transmigrasi di Banjarsari. Pelatihan selama dua minggu itu adalah bekal keterampilan bertani dan kecakapan hidup lain untuk menempuh hidup di tanah transmigrasi.

Pada Juni 1995, Surahmat dan istri beserta dua anaknya yang masih balita menyusul ke Sulawesi Tenggara. Surahmat dan keluarganya berangkat ke Sulawesi Tenggara dengan kapal laut melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Setelah berhari-hari kapal yang mereka tumpangi terombang ambing ombak di laut, mereka masih harus menempuh perjalanan darat yang cukup lama untuk sampai di tanah transmigrasi. Tujuan mereka bukan ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara, melainkan sebuah pulau di selatan Pulau Sulawesi.

-bersambung-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s