Curahan Hati Dini (3)

Standard

Melihat penampilanku, wajar saja semua orang menjauhiku. Pertama kali melihatku, banyak yang terkaget-kaget. Sebagian kemudian kasihan melihatku, sebagian lagi mengejekku. Kadangkala aku menjadi bahan tontonan orang-orang di sekitarku. Tak jarang anak-anak kecil di sekitarku mencemoohku juga, seperti halnya ibu-ibu mereka. Karena kondisi fisikku, aku jadi jarang keluar rumah. Kadang aku malu dan minder dengan teman-temanku yang normal. Sehari-hari, aku menghabiskan waktu dengan menonton televisi dan membaca buku pelajaran. Aku paling suka menonton program berita dan infotainment. Dengan mengikuti program berita, aku bisa tahu perkembangan dunia. Kalau menonton infotainment lain lagi. Dari acara itu aku bisa tahu perkembangan dan berita-berita dari band pujaanku, Peterpan dan The Titans. Aku selalu menunggu-nunggu berita dari dua band idolaku itu. Kadang-kadang aku juga membantu Mamah memasak atau mencuci piring. Bersama Teh Tari, biasanya aku mengobrol sampai jauh malam. Kami sering menghabiskan malam hari dengan bermain kartu remi atau gaple. Biasanya Mamah juga ikut bermain bersama kami. Untuk urusan main kartu, Teh Tari yang paling jago. Tak jarang juga kami memasak bersama. Selera makanan kami sama, pedas dan superpedas. Semua masakan akan enak kalau pedasnya pas. Kata Mamah, masakanku enak. Hmm…tapi Mamah lebih sering mengomel karena semua masakanku pedas. Aku tak pernah mengenyam bangku sekolah. Ketika aku berusia tujuh tahun, Mamah pernah berniat mendaftarkanku ke sebuah sekolah di dekat rumahku. Tapi sayang, sang Kepala Sekolah malah menyarankan agar aku belajar di rumah. “Kasihan kalau diejek teman-temannya,” begitu cerita Mamahku mengutip kepala sekolah waktu itu. Jadilah aku tak pernah sekalipun mengenakan seragam sekolah. Aku belajar di rumah, tapi bukan berarti aku mengikuti program homeschooling seperti yang dilakukan para selebritas. Aku hanya belajar di rumah, membaca buku-buku yang ada. Kadang aku membaca buku pelajaran milik Teh Tari. Kadang Teh Tari juga ikut mengajariku. Aku seringkali menemaninya belajar dan menanyakan hal-hal yang tidak aku tahu kepadanya. Aku suka membaca buku apa saja, terutama pelajaran sejarah. Dari buku sejarah, aku jadi tahu tentang Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Tapi, aku tak suka membaca komik. Terlalu banyak gambar di komik kadang membuatku bingung dan pusing. Oh ya, aku belajar membaca dan menulis dari Mamah. Begitu menyadari aku tidak mungkin sekolah, Mamah dengan sabar mengajariku membaca dan menulis sejak aku berusia enam tahun. Kata Mamah, membaca dan menulis itu penting agar kita tidak mudah dibodohi orang lain. Berhitung juga tak kalah pentingnya, begitu kata Mamah. Meskipun Mamah cukup sabar mengajariku, tak jarang Mamah juga capek menghadapi kebandelanku. Aku sering mogok belajar. Karena itu, Mamah kemudian mencarikan guru privat untukku. Pak Kosim, nama guru privatku itu, masih tetanggaku sendiri. Terkadang, aku juga diajari tetanggaku sendiri. Mbak Ninuk namanya. Ia majikan Mamah, tempat Mamah bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Mbak Ninuk sering mangajariku banyak hal. Mbak Ninuk sudah seperti ibuku sendiri. Biasanya siang hari aku dipanggil untuk tidur siang atau makan. AnakMbak Ninuk, Dita, adalah anak yang baik. Usia kami berbeda enam tahun, namun sehari-hari Dita adalah teman mainku. Karena kesabaran Mamah dan Mbak Ninuk serta bimbingan Pak Kosim juga, aku lancar membaca dan menulis. Aku juga lancar berhitung. Cara belajarku sangat berbeda dengan teman-teman sebayaku. Aku tak pernah menerima raport. Penilaian baik dan buruk belajarku ada di tangan Mamah. Seperti guru di sekolah, Mamah juga membubuhkan nilai di buku yang telah aku tulisi. Sayang sekali aku tak bisa sekolah di sekolah umum. Padahal, aku ingin sekali menjadi dokter. Aku ingin membantu orang lain. Aku ingin bisa menyembuhkan orang yang sakit, termasuk jika Mamah dan Bapak sakit. Selama ini aku selalu merasa bahagia jika bisa membantu orang lain. Rasanya hidup lebih indah jika kita bisa berbuat untuk orang di sekitar kita. Aku juga sempat belajar mengaji. Aku pernah belajar membaca Iqro’ di Masjid Sulur dekat rumahku. Selain itu, teman mainku sekaligus tetanggaku mempunyai kakak yang sering mengajar anak-anak mengaji. Di situlah aku belajar membaca Al-Quran. Kakak temanku itu cantik, ia memakai kerudung. Aku juga ingin terlihat cantik dengan mengenakan kerudung seperti kakak itu. Namun, aku tak punya dagu. Wajahku menempel dengan leherku. Aku jadi kesulitan memakai kerudung. Setiap mengaji aku memang berkerudung, tapi kerudung itu lebih sering aku pegang dengan tangan. Aku ingin suatu saat bisa memakai kerudung tanpa harus memeganginya. Mamah adalah guruku di rumah sekaligus partnerku. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku jika tak ada Mamah. Mamah mengantarkanku ke manapun aku pergi. Mamah juga yang membelaku jika aku diejek teman-teman mainku. Aku dan Mamah adalah soulmate. Bagiku Mamah adalah segalanya, Mamah adalah wonderwoman buatku. Mamah perempuan yang kuat. Aku senang punya ibu seperti Mamah. Kalau ibuku bukan Mamah, mungkin aku sudah dibuang karena aku bukan anak yang cantik. Tapi Mamah menjagaku sampai sekarang. Oh ya, di usiaku yang baru 15 tahun, aku sudah 16 kali menjalani operasi, baik itu operasi besar maupun operasi kecil. Meski operasi itu sakit, aku tak takut dioperasi. Suatu waktu aku pun pernah bosan melakukan operasi saking seringnya masuk ruang operasi. Kadangkala tak kuat rasanya menanggung pening selepas operasi, ketika efek bius masih belum hilang. Meski aku jelek, aku tak pernah menyerah. Aku tetap menjaga harapan di hatiku agar tak padam. Aku tak berharap muluk-muluk. Asal bisa membahagiakan orangtuaku, aku bersedia melakukan apa saja. Aku ingin sembuh seperti dulu ketika masih kecil. Aku ingin bisa bergaul dengan teman-temanku layaknya gadis remaja yang lain. Aku ingin kembali menjadi Dini Setia Utami yang cantik, yang tak lagi minder dan canggung ketika bertemu dengan orang lain. Keinginanku yang utama adalah bisa menjadi kebanggaan orangtuaku. Suatu saat, aku berharap dapat mengejar cita-citaku yang sempat tertunda karena kondisi fisikku yang tak sempurna. Meski sulit, aku akan tetap berusaha semampuku. Semoga Allah memberiku kekuatan agar aku sanggup membuktikan kepada dunia bahwa aku bisa meraih apa yang aku cita-citakan.

4 responses »

  1. Two thumbs up 4 ika rahma..
    Salut buat Dini Setia Utami,atas semangatnya,atas keikhlasannya,atas pelajaran hidupnya..tak ada manusia yang sempurna,kesempurnaan hanya milik Allah SWT..mudah2an apa yang dcita2kan bisa tercapai,mudah2an apa yang dialami merupakan jalan untuk menjadi dekat dengan-Nya..
    Apapun yang terjadi,semua sudah menjadi takdir Allah,yakinlah semua akan indah pada waktuny..LOVE U🙂

  2. mba namaku ade dari majalah kartika (KARTINI grup)
    dapat tulisan ini darimana?liputan langsung / apa?
    saya sangat tertarik mengangkat kisah dini…bisa minta contactnya dini/orangtuanya mungkin?

    bisa langsung sms ke ade (08561464623)
    tq🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s