Curahan Hati Dini (2)

Standard

Aku berusaha tabah saja menghadapi ejekan orang-orang di sekitarku. Teh Tari sering membelaku jika ada yang mengejekku. Aku menuruti saran Mamah untuk bersabar jika ada yang menjelek-jelekkanku. Jika aku bisa melawan, Mamah mendorongku untuk melawan. Tapi kalau aku tidak bisa melawan, Mamah menyarankan aku pulang saja. Dan aku lebih sering pulang ke rumah di tengah keasyikan bermain karena ejekan-ejekan yang menyesakkan hati. Tak jarang aku menangis karena perlakuan teman-teman sepermainanku. Tapi kesedihanku hanya milikku saja. Aku tak mau membebani Mamah dengan segala keluh kesahku. Jika teman-teman mengolok-olokku, aku diam saja dan tak menceritakan apapun pada Mamah meskipun kadang ejekan itu sangat menyakitkan. Aku mengerti dan dapat memahami sikap orang-orang kepadaku. Keadaanku jauh berbeda dengan ketika aku masih kecil dulu. Dulu aku adalah gadis kecil yang manis. Dulu aku adalah Dini kecil yang menggemaskan. Jiwaku adalah Dini yang dulu, namun fisikku bukan lagi yang dulu. Aku tetap ceria namun kini wajahku tak seelok dulu. Aku adalah gadis dengan wajah yang rusak. Aku adalah Dini Setia Utami dengan wajah hancur karena musibah yang menimpa keluargaku, musibah yang juga merenggut nyawa kakakku, Jajat Sudrajat. Kakak yang umurnya hanya berbeda dua tahun denganku itu tak sempat kukenal lebih jauh. Tak ada yang bisa kuingat dari Aa Jajat, sama halnya dengan tak ada yang kuingat dari kemolekan wajahku saat kecil. Aku mengenal Aa Jajat dalam selembar foto kusam dalam album foto keluargaku. Ia tembem, kulitnya kecoklatan, dan matanya bulat. Ia lucu sekali dalam balutan kaos bergari-garis warna merah dan hijau. Dalam album itu pula, aku mengenang diriku sendiri di masa kanak-kanak. Anak kecil yang lucu dengan baju model balon dan topi warna hijau. Itulah aku, dulu…sebelum musibah itu menimpaku. Wajahku jelek, dengan bibir yang meleleh dan menempel ke wajah. Bahkan bisa dibilang aku tak punya bibir. Gigiku tumbuh tak beraturan di gusiku. Karena mulut dan gigiku tak sempurna, aku tak bisa berbicara dengan jelas. Suaraku terdengar seperti desisan saja. Orang yang baru kukenal tak akan bisa mengerti apa yang kuucapkan. Pipiku rusak dan tertarik ke bawah. Tarikan itu membuat mataku ikut tertarik. Aku jadi seperti setan, menakutkan. Dahiku juga hancur tak berbentuk lagi. Dahiku dihiasi luka bakar yang parah, mungkin setiap orang yang melihatku akan jijik. Aku juga tak punya leher. Seonggok daging, yang kata dokter namanya keloid, membuat wajahku menyatu dengan leher. Tentu saja aku tak bisa menengok. Jika ada yang memanggilku dari belakang, aku harus memutar seluruh badanku untuk mengetahui siapa yang memanggilku. Aku juga tak punya kelopak mata. Mataku tak pernah bisa terpejam bahkan ketika tidur. Selama lebih dari sepuluh tahun, mataku tetap terbuka, tak pernah sedetik pun terpejam. Karena itulah, kini aku tak bisa melihat dengan jelas. Semua yang kulihat dalam jarak satu meter pun tak bisa kutangkap dengan jelas. Semuanya kabur. Yang tersisa dari mataku hanyalah segaris alis tipis dan bola mata yang menjorok ke dalam. Syukurnya kekurangan penglihatanku itu masih bisa ditutupi karena pendengaranku normal. Aku masih bisa mendengar dengan jelas meskipun aku tak punya satupun daun telinga. Telingaku hanya berupa liang datar tanpa daun telinga. Seperti halnya orang lain, aku juga memiliki rambut yang hitam. Tapi rambutku tidaklah lebat. Hanya bagian atas kepalaku saja yang ditumbuhi rambut. Bagian belakang dan samping kepalaku tak ditumbuhi rambut. Aku jadi seperti orang gundul. Aku tak punya rambut yang bisa dibanggakan, padahal kata orang rambut adalah mahkota perempuan. Aku botak karena bagian belakang kepalaku tak memiliki kulit kepala, yang ada hanya batok kepala terekspos sempurna. Karena itu, setiap terkena panas, kepalaku pedih sekali. Aku seringkali mengenakan topi untuk melindungi tengkorak kepalaku. Semua itu belum seberapa. Tangan kananku penuh luka, dari ujung sampai pangkal lenganku berwarna kecoklatan. Itu semua bekas luka bakar sewaktu aku kecil dulu. Ketiak kananku menempel di badan sehingga lenganku tidak bisa diangkat ke atas. Aku tak bisa bersorak seperti para cheerleaders yang menonton pertandingan olahraga. Di siku bagian dalam tangan kananku juga tumbuh daging yang membuat tanganku tak bisa diluruskan. Lengan kananku cuma bisa digerakkan 90 derajat saja. Itu sebabnya aku kesulitan melakukan kegiatan dengan tangan kanan. Untuk makan pun terkadang susah kulakukan sendiri. Aku tak bisa melakukan banyak hal sendiri karena gerak tanganku terbatas. Menulis pun kulakukan dengan susah payah, dengan badan yang harus membungkuk. Kadangkala aku malu jika harus ke warung. Aku takut orang lain menganggapku tidak sopan karena aku membayar dengan tangan kiri. Padahal aku sama sekali tak bermaksud berbuat tidak sopan. Hal itu semata-mata karena kekurangan fisikku saja. Aku juga seringkali menerima pemberian orang dengan tangan kiri karena tangan kananku tak bisa digunakan dengan sempurna. Aku ingin punya badan yang tegap. Namun apa daya, dadaku mengerut sehingga aku tak bisa berdiri tegak. Dadaku tertarik kulit yang terbakar. Istilah kedokterannya kontraktur. Kalau berjalan pun aku kelihatan bungkuk. Dadaku juga penuh luka. Dari dada sampai perut, kulitku memang mengerut. Itulah mengapa dada dan pundakku ikut mengerut. Selain tak punya rambut yang bisa dibanggakan, aku juga tak memiliki puting payudara. Aku tak seperti perempuan lain. Hampir-hampir tak ada yang bisa dibanggakan dariku sebagai seorang perempuan. Selain bagian kepala dan dada, punggungku juga penuh luka. Pokoknya hampir tidak ada bagian kulitku yang mulus. Pendek kata, aku adalah orang catat. Fisikku tak sempurna bahkan cenderung mengerikan. Tubuhku penuh luka bakar, dari kepala sampai perut.

-bersambung-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s