Curahan Hati Dini (1)

Standard

Launching buku

Namaku Dini Setia Utami. Orang-orang biasa memanggilku Dini. Aku lahir di Bandung, 24 Juni 1993. Aku adalah anak ke empat alias anak bungsu dari empat bersaudara. Bapakku bernama Surahmat, asli Hegarmanah, Cidadap, Kota Bandung. Sedangkan ibuku bernama Lilis Siti Maesaroh, perempuan asal Lembang, Bandung. Sebenarnya keluarga besar ibuku berasal dari Desa Leles, Garut.

Sebelum aku lahir, rumah tangga orangtuaku telah diramaikan oleh tiga kakakku. Mereka adalah Indra Permana yang biasa kupanggil Aa dan Sri Lestari yang sering kupanggil Teteh. Kakak ke tigaku adalah Jajat Sudrajat, namun aku lupa memanggilnya apa, mungkin Aa. Aku tak bisa mengingatnya. Kami berpisah ketika aku masih terlalu dini untuk mengingat.

Sehari-hari aku tinggal bersama keluargaku di rumah kecil kami. Rumah kami hanya terdiri dari tiga ruangan, dua kamar dan satu ruang tamu sempit berukuran 3×2 meter. Kamar depan ditempati Aa, sementara kamar belakang adalah tempatku menonton televisi setiap harinya. Kadang aku tidur bersama teteh di kamar itu.

Meski kecil, rumahku cukup nyaman. Rumah itu adalah tempat bermain dan tempat berlindungku. Rumah di Jalan Hegarmanah Cikendi No. 14 /166 A RT 04 RW 03 adalah cangkang kenyamananku. Di situlah aku menghabiskan hampir seluruh hidupku. Aku belajar banyak hal di rumah itu. Aku pernah merasa sedih, dan aku pun pernah merasakan bahagia.

Dulu rumah kami bercat putih, tapi kini bercat hijau cerah. Aku yang memilih warnanya karena aku suka warna-warna yang cerah. Warna yang paling kusukai adalah pink. Pintu rumahku dihiasi korden warna pink, bajuku pun banyak yang berwarna pink.

Kami tak memiliki kamar mandi sendiri. Bisa dibilang, kamar mandi yang sehari-hari kupakai adalah kamar mandi umum. Ukuran kamar mandi kami tak besar, hanya 1 x 1,5 meter saja. Setiap akan mandi, biasanya kami harus enimba air terlebih dahulu.

Dulu, ada banyak keluarga yang bersama-sama menggunakan kamar mandi yang bersatu dengan sumur timba itu. Tapi sekarang hanya keluargaku dan keluarga Uyut saja yang memakainya. Tetanggaku banyak yang sudah memiliki kamar mandi sendiri di dalam rumah mereka.

Kalau Hari Raya Idul Fitri tiba, kamar mandi itu jadi penuh sesak. Banyak sekali yang antri memakainya. Kami biasanya mengantisipasi dengan mandi paling pagi agar tidak berebut ketika tetangga-tetanggaku yang lain sudah bangun dan ingin mandi.

Sebenarnya tak ada yang istimewa dalam hidupku seperti halnya anak-anak lain. Aku lahir normal, tak ada kesulitan berarti yang dihadapi ibuku ketika aku lahir. Aku yakin orangutaku pasti bahagia ketika aku lahir, sama bahagianya menyambut kelahiran kakak-kakakku.

Mamah, begitu aku biasa memanggil ibuku, mengenangku sebagai bayi kecil yang imut dan cantik. Kulitku putih, pipiku tembem, dan mataku lebar. Semua orang bilang aku akan tumbuh menjadi gadis yang cantik nantinya. Aku mudah bergaul, banyak yang menyukai perangaiku.

Kecuali hidup keluarga kami yang pas-pasan, semua berjalan normal, setidaknya sampai aku berumur dua tahun. Seperti layaknya anak yang sedang tumbuh dan berkembang, aku senang bermain dan berlarian ke sana kemari. Kata Mamah, aku anak yang lincah dan cerewet. Semua orang menyukai keceriaan dan kelincahanku. Setiap orang yang melihatku pasti akan gemes untuk mencubit pipiku yang  putih.

Aku yang selalu ceria tentu belum mengerti kesulitan yang dihadapi keluargaku. Gaji bapakku sebagai satpam di rumah seorang ekspatriat asal Finlandia tak cukup membiayai hidup kami berenam. Apalagi Bapak hanya satpam kontrak yang bisa setiap saat diberhentikan jika sang majikan pulang ke negara asalnya. Belum lagi, dua kakakku sudah mulai menginjak usia sekolah. Untuk makan saja susah, belum lagi untuk biaya sekolah dua kakakku.

Tapi keceriaan dan kerianganku itu hanya cerita masa lalu, ketika aku masih kecil. Ketika aku beranjak besar, semua orang menjauhiku. Ibu-ibu di lingkungan rumahku pun melarangku bermain dengan anak-anaknya. Aku juga tak diizinkan ikut lomba 17 Agustus. Mereka takut anak-anak yang lain takut dan tak mau ikut lomba jika aku ikut.

Sebagian temanku menjulukiku monster. Ada pula yang menyebutku hantu. Mereka tak mau bermain denganku. Tak jarang yang memanggilku robot atau monyet. Sedikit sekali yang mau dekat-dekat denganku. Aku hampir tak punya teman bermain.

-bersambung-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s