Sambal Tumpang Lamirah (1)

Standard

Sambal tumpang adalah makanan khas Kediri. Selain di Kediri, jarang sekali dijumpai makanan yang dibuat dari tempe busuk ini. Ya, karena dibuat dari tempe busuk, banyak yang tak tega menelannya.

Sambal tumpang favorit saya adalah sambal tumpang Lamirah. Lamirah, atau Mbah Rah, atau Mbokde Rah sudah lebih dari 35 tahun berjualan nasi tumpang di Pasar Gringging. Pasar Gringging ini berseberangan dengan rumah saya.

Lapak Mbah Lamirah berada di daerah timur, bagian belakang. Dulu, daerah ini merupakan tempat berkumpulnya penjual sepeda, ayam kampung hidup, dan pakaian bekas (rombeng). Karena berjualan di dekat tukang baju rombeng, banyak pula yang menyebutnya tumpang rombengan, termasuk saya.

Sejak kecil, saya menjadi pelanggan Mbah Lamirah. Tak bisa saya ingat sekitat tahun berapa saya mengenalnya. Sejauh saya ingat, harganya ketika itu 150 per bungkus. Sekarang harganya paling tidak telah berlipat menjadi 12 kali. Kini satu bungkus atau pincuk (ukuran porsi yang tidak tertutup, menggunakan daun pisang) seharga 2000 atau 2500 rupiah.

Debut saya adalah nasi peyek, tanpa sambal tumpang. Lalu grade saya meningkat dengan nasi peyek plus setetes sambal. Karena ompong, saya lebih suka jika sambal tumpang dituangkan di atas peyek, bukan nasinya. Namanya pun peyek siram. Karena peyek siram ini jugalah Mbah Lamirah hafal dengan saya. “Mbak Iko, peyeknya siram,” begitu katanya.

Sampai sekarang saya masih setia dengan peyek siram. Bedanya dengan ketika kecil, saya minta bonus sambal tumpang plus-plus. Plus peyeknya, plus pula sambalnya. Oh ya, plus satu lagi, plus satu porsi tambahan. Mantap!

Bagaimana rasanya? Tumpang rombengan ini “ganas” pedasnya. Efek yang biasa terjadi adalah diare. Saya tahan pedasnya, jarang sekali diare hanya karena makan tumpang ini. Yang biasa terjadi adalah sakit badan seperti masuk angin dan sakit punggung jika tingkat pedas yang saya konsumsi berlebih. Hanya karena dua porsi sambal tumpang seharga lima ribu, saya harus membayar tukang pijit minimal 10 ribu. Tekor.

Suatu pagi saya membeli tumpang Mbah Rah. Saya bertemu dengan seorang ibu setengah baya yang datang bersama dua anaknya, salah satunya polisi bertugas di Bali. “Saya sering menyuruh orang untuk membeli di sini. Ongkos bisnya saja 8ribu, padahal nasinya cuma 2.500.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s