Toko Buku Budaya dalam Kenangan

Standard

Masih jelas dalam ingatan saya cat pintunya, krem kusam. Sama kusamnya dengan tembok yang tak putih lagi. Masih menari-nari dalam benak saya ubinnya yang abu-abu.

Meja kasirnya dari kayu, berwarna coklat. Letaknya di ujung toko. Bentuknya melengkung, kira-kira setinggi satu meter. Di baliknya ada perempuan setengah baya, seringkali melayani dengan masam.

Di belakang meja kasir terdapat satu ruangan yang tak terlalu luas, mungkin berukuran 4×5 meter persegi. Sebelum memasuki ruangan itu, tas harus dititipkan.

Setidaknya itulah gambaran saya tentang sebuah toko buku. Toko buku Budaya namanya. Letaknya persis di jantung keramaian Kota Kediri, Jalan Dhoho. Toko buku kecil itu terdesak jejeran toko pakaian dan sepatu.

Banyak sekali kenangan saya di Toko buku Budaya. Bagi saya yang senang membaca, Budaya adalah surga. Toko kecil itu hanya satu-satunya toko buku yang menjual buku nonpelajaran dan nonkitab. Ada novel, ada komik, pokoknya yang berbau fiksi.

Kala SD, saya sering mengunjungi toko ini diakhir caturwulan. Bapak menghadiahi saya satu atau dua buku ketika saya menyabet juara kelas. Pilihan saya selalu jatuh pada dongeng nusantara atau kisah Enyd Blyton. Pernah saya memilih komik, tapi tak berlanjut karena saya tak suka.

Kelas V SD, saya mengikuti bimbingan belajar di Jalan Brawijaya. Saya jadi intens mengunjungi toko ini seorang diri tanpa orang tua. Saya menyengajakan datang lebih awal dengan mengorbankan waktu tidur siang agar bisa mengunjungi Budaya. Oh ya, saya juga sering memesan kartu nama dan stiker kartu nama di situ.

Yang paling saya ingat, saya membeli buku Harry Potter juga di toko ini. Saat itu, HP belum se-boom-ing sekarang, belum banyak orang tahu. Saya juga membeli buku Putri Huan Tzu di sini, harganya 25 ribu.

Koleksi buku Lima Sekawan dan Trio Detektif saya beli di sini. Di toko inilah saya berkenalan dengan karya-karya Agatha Christie, penulis favorit saya hingga detik ini.

Hanya satu yang belum kesampaian saya beli di sini, buku kumpulan dongeng Hans Christian Andersen. Buku itu bersampu putih hard cover dan dipajang di etalase. Saya ingat betul, harganya 30ribu.

Mudik tahun ini, saya ingin sekali mengunjungi Budaya. Ingin mengenang masa-masa saya mengunjungi toko buku. Mengenang saat ketika Ibu saya marah-marah ketika saya membeli buku lagi dan lagi.

Sayangnya, Budaya hanya kenangan belaka. Toko itu telah berubah fungsi menjadi toko peralatan listrik atau apa, saya tak terlalu memperhatikan. Saya sudah kadung kecewa tak sempat mengabadikannya dalam bidikan lensa.

Tentu saya sedih. Sedih sekali! Padahal saya belum sempat membeli buku kumpulan dongeng itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s