Drama Nongolnya Violeta (2)

Standard

Percaya atau tidak, Upin dan Ipin ikut hadir ketika Violeta lahir. Bagaimana ceritanya? Ikuti kisahnya…

Lirikan mataku, menarik hati...

Saya bersyukur melahirkan dengan lancar. Hanya sekitar satu setengah jam setelah merasakan kontraksi bertubi-tubi, Violeta lahir. Kebahagiaan saya semakin lengkap karena Violeta lahir sempurna, punya rambut dan tak gundul seperti Ipin Upin.

Sakitnya melahirkan itu memang cuma kerasa kalau kontraksi saja. Di luar itu, saya masih bisa bercanda seperti percakapan berikut:
Bapak: Ayo Ik, nyanyi Abang Tukang Bakso! (Lagu favorit saya waktu kecil).
Saya: Ga mau ahh, baksonya murahan. (Dalam lagu itu disebutkan kalau baksonya harga 200 perak. Emang bener murahan kan?).

Atau seperti percakapan berikut ini:
Budhe: Ayo, terus, ngeden lagi, bentar lagi keluar!
Saya: aduhh, udah ga kuat budhe! Udah capek.
Budhe: Itu loh udah keliatan, dikit lagi!
Saya : Masa sih budhe, ada rambutnya ga? Kalau ada rambutnya berarti Upin, kalau ga ada berarti Ipin (waktu itu saya dan suami lagi demen sama Upin Ipin).

Ketika melahirkan itu, saya pasti teriak-teriak. Mau gimana lagi, rasanya kan sakit, jadi saya teriak-teriak, biar seru! Budhe saya dengan entengnya komentar, “Jangan teriak, nanti tetangga-tetangga bangun!” Saya pun seketika diam, ga cuma seribu bahasa tapi dua ribu.

Budhe saya bilang, “Ayo sedikit lagi, terus, agak didorong!” Mendengar perintahnya, saya semangat aja ngeden! Saking semangatnya, saya ga nyadar kalau bayinya udah lahir (bayinya ga langsung nangis, baru beberapa detik kemudian). Konyolnya, saya komentar, “Loh, budhe, kok cepet banget keluarnya! Saya baru mau ngeden lagi padahal!”

Semua yang berada di ruangan lega karena bayi saya sudah nongol. Waktunya IMD alias Inisiasi Menyusui Dini. Dalam kasus saya namanya IMV alias Inisiasi Menyusui Violeta (anak saya namanya bukan Dini kan?).

Oh ya, setelah tahu cucunya cewek, Bapak saya bilang, “Wah, aku ga ada temen nonton bola ini!” Sambil ngeloyor pergi nonton bola sampai lupa adzan dan iqomatin cucunya. Kakek yang aneh kan? Itu Bapak saya.

Bayi sudah dibersihkan, pakai baju baru, dan siap-siap tidur. Saya pun sudah kenyang makan disuapin Ibu. Berhubung sudah kenyang, saya bilang ke Bapak, “Langsung pulang, Pap?” Padahal waktu itu jam 3 pagi *kebiasaan SMP*.

Eniwei, Violeta lahir dengan berat 2,8 kilogram dan panjanh 48 cm. Putri pertama saya lahir setengah dua pagi (lebih lima menit). Dia menemukan puting ibunya setelah 45 menit. Violeta lahir pada Jumat Pon. Itulah mengapa kami terkadang memanggilnya Jumadi Poniyem he he…

5 responses »

  1. Pingback: Ada Apa dengan The Urban Mama? | Cerita Violeta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s