Acta Diurna, Koran Pertama di Dunia

Standard

Siapa tak kenal Julius Caesar? Ia tak hanya dikenal sebagai panglima perang ulung tetapi juga politikus sukses, orator memesona, serta playboy nomor satu. Gaius Julius Caesar juga seorang penulis hebat yang ikut memperkaya kesusastraan klasik melalui karya berjudul De bello Gallico. Ia orang terpenting yang meruntuhkan Republik Romawi. Nama Caesar pun kemudian diadopsi menjadi kaisar, kaiser, dan czar yang merupakan sebutan hormat untuk raja. Mengingat prestasi dan perannya dalam sejarah. tak heran jika ia menduduki tangga ke-65 dari daftar seratus tokoh paling berpengaruh dalam sejarah versi Michael H. Hart.

Namun sayangnya, ada satu peran Caesar yang seringkali terlupakan. Ia adalah pelopor jurnalisme pertama di dunia. Pada tahun 59 SM, Julius Caesar membuat terobosan baru dengan mengumumkan hasil rapat senator melalui papan pengumuman secara rutin. Papan pengumuman itu dipasang di tempat umum agar diketahui orang banyak. Papan-papan pengumuman itu selanjutnya disebut Acta Diurna. Acta Diurna diakui sebagai koran generasi pertama di dunia.

Secara harfiah Acta Diurna berarti catatan harian. Karena saat itu belum dikenal teknologi cetak dan kertas, Acta Diurna ditulis dengan cara dipahat pada batu atau logam. Dalam keseharian warga Romawi Kuno, papan-papan pengumuman itu seringkali disebut acta saja. Kadang Acta Diurna juga disebut Acta Popidi atau Acta Publica.

Pendahulu Acta Diurna adalah Acta Senatus. Acta Senatus ini merupakan catatan rapat senat yang tidak pernah dipublikasikan kepada masyarakat luas dan menjadi rahasia negara. Dengan adanya Acta Diurna, Kerajaan Romawi ingin menerapkan prinsip ketersediaan informasi bagi publik. Kelahiran Acta Diurna sendiri sekaligus menjadi penanda peradaban dunia berbasis teks. Selain itu, Acta Diurna juga bisa disebut proses pendokumentasian pertama dalam sejarah peradaban manusia.

Pada perkembangannya, Acta Diurna juga berisi berita ringan seputar kelahiran, kematian, dan pernikahan. Acta Diurna juga berisi peringatan militer, peraturan-peraturan baru ataupun peringatan-peringatan untuk membayar pajak. Tak hanya hasil rapat, dalam Acta Diurna juga dimuat hasil sidang perkara, rencana kegiatan, serta profil pemimpin. Kendati isinya semakin beragam, papan pengumuman ini tetaplah alat propaganda pemerintah. Pendek kata, Acta Diurna menjadi alat komunikasi sekaligus alat propaganda yang penting di Romawi Kuno kala itu.

Setiap dua hari sekali, informasi Acta Diurna diperbarui dengan cara menurunkan batu atau logam dari tiang penyangga dan diganti dengan yang baru. Salinan dari papan yang sudah diturunkan ini kemudian dikirimkan ke pejabat provinsi sebagai arsip. Kegiatan inilah yang kemudian menjadi titik munculnya kegiatan pengarsipan seperti yang kita kenal sekarang.

Sayang sekali sejarah Acta Diurna harus berakhir ketika pemerintahan Romawi dipindahkan ke Konstantinopel. Papan-papan pengumuman itu diawasi sedemikian rupa oleh pemerintah, kondisi yang pada masa kini kita sebut sensor. Ujung cerita, Acta Diurna tak lagi dipasang sebagai bentuk kontrol pemerintah.

Jelas sekali bahwa Acta Diurna adalah alat komunikasi massa pertama. Papan pengumuman ini sekaligus mengawali kegiatan pengarsipan dan pendokumentasian dalam bentuk tertulis. Meski bentuk Acta Diurna masih sederhana, tak diragukan lagi peran Julius Caesar dalam dunia jurnalistik sangatlah besar. Jika ditilik dari definisi jurnalis yaitu mengumpulkan, menulis, dan menyebarkan informasi, Caesar bisa disebut jurnalis pertama di dunia. Menjadi pelopor jurnalisme dunia bukanlah peran yang begitu saja bisa dilupakan.

diurna, Bicara Menembus Bingkai

Semasa kuliah, saya sempat aktif di pers kampus. Mulai dari dJatinangor yang ada di fakultas sampai pers milik himpunan, diurna. Apa kabar diurna sekarang? Saya kangen menulis lagi untuk diurna.

Tulisan di atas  hanya satu dari sekian banyak coret moret saya semasa kuliah. Coretan yang tidak penting, terispirasi dari diurna yang menjadi tempat saya belajar menjadi pemimpin redaksi.

Oh… setidaknya saya sudah pernah menjadi pemimpin redaksi, walaupun hati ini sudah tak ingin lagi berkecimpung di dunia itu, dunia jurnalistik. Saya hanya ingin menjadi ibu yang baik untuk calon pemimpin redaksi masa depan, Violeta. Lihat saja gayanya ketika membaca koran he he…

Melihat gayanya, saya semakin percaya, Violeta anak kami, para mantan pemimpin redaksi he he…

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s