My First Enphilia*

Standard

Enphilia. Nama yang unik. Entah mengapa aku pun langsung mengasosiakannya dengan ‘cantik’. Mungkin kata ‘philia’ itu yang mengantarku pada asosiasi itu. ‘Philia’ itu cinta, dan yang cantik pastilah akan dicinta. Begitu kira-kira yang berkelebat di sel kelabu otakku.

Lepas dari cantik dan cinta, aku mulai menebak-nebak arti  Enphilia ini. Dari mana asal katanya? Gabungan dari dua katakah? Apa yang diharapkan sang pemberi nama? Entahlah, yang pasti detik ini aku mulai menyerah menebak-nebak.

Pusing menebak-nebak, akupun berpaling pada Enphilia di tanganku. Eits, apa atau siapa sih Enphilia ini? Enphilia ini bukanlah siapa-siapa. Si ‘cantik’ ini hanyalah popok. Ya, popok alias celana bayi, yang fitrahnya adalah menampung pipis dan pup bayi. Tapi, Enphilia bukanlah popok biasa. Popok ini berkantung untuk memasukkan penyerap ompol. Insert istilahnya.

He he… Sebagai ibu baru (new mum bahasa kerennya), aku cuma kenal popok kain bertali. Rupanya, popok jenis itu sudah jadul. Generasi masa kini popok kain sudah berevolusi menjadi berbagai macam bentuk dari berbagai bahan kain. Motifnya pun bermacam-macam, begitupun harganya. Nah, si Enphi inilah salah satu generasi popok kain modern (menurut istilahnya modern cloth diaper, yukk!!) buatan anak negeri. Popok yang beginian nih, banyak juga yang impor.

Desain Enphilia ini unik. Bagian pinggir seperti ada sayapnya, lucu. Jadi, tak salah jika aku awalnya mengasosiakannya dengan ‘cantik’.  Yah, pendek kata aku cinta mati sama desainnya.

Namun, serta merta timbul keraguan akan kemampuan Enphilia. Aku ragu akan kemampuannya menampung pipis buah hatiku, Rahmania Violeta Corleone aka Vio si pipi tembem (2 bulan). Aku meragukan kualitas Enphi toscaku yang diklaim tidak akan bocor meskipun Vio pipis beberapa kali. Benarkah? Cekidot (check it out maksudnya hi hi…).

Penasaran, aku pun segera mencoba Enphilia. Kala itu, Vio baru berumur satu bulan delapan hari. Setelah mengikuti petunjuk pencucian prapemakaian, aku pun mengujicobakan pada Violeta. Bismillah, aku menggunakan insert handuk yang kubeli bersama Enphi. Hasilnya? Pipsnya memang tak tembus, tapi sepertinya Vio justru tersiksa karena ketebalan Enphilia plus handuknya. Padahal, si Enphi udah cukup tebal tanpa handuk. Pantat Vio pun seperti lebih tinggi dari kepalanya.

Ow ow ow… Bukan itu saja! Karena insert yang lebar, Vio pun seperti (maaf) ngangkang. Ibuku, yang dari pertama melarangku memakaikan popok sekali pakai (pospak aka pampers) karena takut cucu pertamanya jalan ngangkang, pun protes abis! “Kasian,” ujar ibuku.

Percobaan pertama kurang sukses. Tak menyerah, aku memakaikan insert handuk yang lebih tipis. Entah karena Vio yang emang pipisnya banyak (konon bahasanya heavy wetter), atau karena hal lain, tak sampai lima menit (berarti satu kali pipis nih!) Si tosca sudah bocor. Giliran Bapakku yang angkat suara, “Berarti jelek itu.” Kejam! (Crying in the heart alias menangis dalam hati, hiks…).

Dengan semangat penghormatan uang daripada harus beli pospak, aku kembali memakaikan Enphi. Kali ini untuk keluar rumah ke mbah tukang pijit. Alhasil, mbah tukang pijit bayi itu kebingungan mijit karena popoknya yang tebal. Padahal, aku sudah mengantisipasi dengan hanya memakaikan alas pipis lorek-lorek. Si tosca pun dilepas paksa. “Kalau pampers biasa sih nggak usah dilepas,” cetus si mbah.

Oh, tidak! Berarti tiga orang sudah yang kecewa dengan performa Enphilia. Itu tak terhitung ayah Vio (suamiku maksudnya) yang akhirnya melarangku memakaikan popok revolusioner ini ketika mendengar ceritaku.

Hatiku hancur! Kali ini hatiku tidak hanya menangis, tapi sudah menangis darah (huhhh, lebay mode on). Aku masih cinta Enphilia karena perkenalanku dengannya begitu bersejarah.

Berawal dari sebuah link yang diberikan seorang sahabat di BukuMuka (pesbuk), akupun tersasar di sebuah situs bernama RumahPopok. Namanya menggelitik sampai aku penasaran. Sesuai namanya, yang dijual ya seputar perpopokan. Enphilia adalah salah satu produknya.

Aku tak langsung tertarik, toh popok kain bertali masih sangat memadai untuk Vio (bohong! padahal seringkali lepas karena Violeta bayi yang tak bisa diam ha ha ha…bilang saja tak punya duit!). Beberapa kali aku cuma baca-baca saja sambil berpikir kok pospak mahal ya!

Dasar emak-emak yang gampang tergoda (meski tak hobi belanja), akhirnya tanganku tergerak untuk mengisi order form setelah sebelumnya minta izin suami. Aku memesan Enphilia dan satu popok kain lain beserta insert handuknya. Menghabiskan seratus ribu sekianlah, makanya sayang sekali kalau si Enphi gagal menjalankan tugasnya. Yukk, saya tidak mau rugi saudara!

Eh, kebetulan sekali sepupuku juga mengeluhkan anaknya (2 tahun) yang pipisnya banyak plus amat sangat sering. Akhirnya, satu popok kain berpindah ke tangannya. Tinggallah Enphilia tosca.

Enphilia tosca ini telah menempuh perjalanan jauh (halahh!) Dari Jakarta-Bandung dan Bandung-Kediri. Pertama melalui ekspedisi pengiriman, kedua dengan kereta api Mutiara Selatan (sekadar catatan, harga tiketnya 160 ribu huahaha… Teteup we perhitungan). Jadi, wajar sekali aku berharap yang terbaik darinya.

Walaupun banyak yang kecewa(ortuku, suami, tukang pijit versus aku seorang yang berharap didukung Violeta Corleoneku) kepada Enphilia, aku tetap tidak putus asa. Sebagai ibu muda yang pantang menyerah, aku terus mengekplorasi popok toscaku. Tentunya Violah korban sekaligus model ujicobaku he he… Lama kelamaan, kinerja Enphilia mulai membaik.

Seiring bertambahnya berat badan Vio serta kelihaianku memasang prepet Enphilia, si tosca mulai sangat membantuku. Setelah pulang ke Bandung, yang artinya aku sendiri saja yang mengganti popok tiap sepuluh menit sekali, Enphilia sangat membantu. Setidaknya, aku tak harus sering-sering ganti popok, alas pipis, dsb yang berarti juga mengurangi volume cucian (heran, meski ada laundry pribadi, kok tak rela juga punya banyak cucian!).

Menyinggung masalah kering, Enphilia memang tak seratus persen kering setelah kena pipis. Aku cuma berani memakaikan Enphilia ke Vio di siang hari atau sore menjelang tidur malam saja. Itu berarti tak lebih dari dua jam. Aku pun menghindari insert, cukup alas ompol sajalah. Apalagi, aku sudah menemukan alas pipis yang daya resapnya oke!

Meski tak lagi terlalu kembung buat Vio, akan lebih baik kalau Enphilia lebih tipis juga, lebih halus juga, dan lebih murah juga (motif ekonomi mode on, murah!). Jadi, biar Vio tak hanya punya satu popok kain berkantung. Biar Vio bisa benar-benar lepas dari p***ers.

Overall, aku jatuh cinta pada Enphilia pada pandangan pertama. Aku mengenal popok kain modern pun pertama kali berkat Enphilia. Dan yang paling membahayakan, berhubung sukses belanja online pertama ketika memesan Enphilia, aku jadi keranjingan belanja online ha ha… Ampun sayang!

Yah, Enphilia bagiku adalah yang pertama. My first Enphilia tentunya tak akan terlupa.

*Ditulis untuk mengikuti Enphilia Writing Contest by Rumah Popok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s