“Memasak” Filsafat ala Jostein Gaarder

Standard

Apa yang terbayang dalam benak kita jika mendengar kata filsafat? Rumit, ribet, membuat kening berkerut, dan membuat otak bekerja semakin keras untuk berpikir. Sebagai the mother of knowledge, filsafat memang merupakan ilmu yang menyeluruh. Mendalami filsafat menuntut kita untuk tahu banyak sekaligus banyak tahu.

Segala gambaran “seram” tentang filsafat seketika hilang di tangan seorang penulis Norwegia, Jostein Gaarder. Melalui sebuah novel berjudul Sophie’s World, Gaarder mengolah filsafat yang berat dan sulit dipelajari menjadi kue yang renyah dan lezat untuk dinikmati. Novel yang ditulis Jostei Gaarder pada 1991 ini merupaka sebuah pemenuhan ambisi pribadi Gaarder yang ingin sekali menulis sebuah tulisan populer tentang filsafat sebagai wujud kecintaannya pada filsafat.

Sophie’s World mungkin merupakan novel filsafat  pertama di dunia yang bisa dibilang komprehensif membahas sejarah filsafat. Meski berwujud novel, buku ini pantas dijadika rujukan awal untuk belajar filsafat. Tak heran jika novel yang dalam edisi bahasa Indonesia berjudul Dunia Sophie ini laris manis. Sophie’s World telah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa dan telah terjual lebih dari 30 ribu eksemplar. Pada 1995, buku ini bahkan menjadi buku fiksi terlaris di dunia.

Pendeknya, Sophie’s World menjadi tiket ganda bagi Gaarder. Selain menjadi alat pemenuhan ambisinya, keberhasilan novel ini ikut melambungkan nama Gaarder di seluruh dunia sebagai penulis handal. Sebelum menjadi penulis, Gaarder adalah seorang guru filsafat untuk tingkat sekolah menengah yang telah mengajar lebih dari sebelas tahun. Keberhasilan Sophie’s World ini jugalah yang memantapkan Gaarder untuk berhenti mengajar dan menjadi seorang penulis full time.

Sebenarnya Sophie’s World bukanlah karya pertama seorang Jostein Gaarder. Penulis yang lahir di Oslo  pada 1952 mulai berkarir di dunia tulis menulis pada 1986 dengan menulis sebuah kumpulan cerita. Kumpulan cerita pertama itu kemudian disusul dua novel remaja. Ia bahkan telah menerima penghargaan dari Norwegian Literacy Critics dan hadiah sastra dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk bukunya yang berjudul The Solitaire Mystery. Selain Sophie’s World dan  Solitaire Mystery Gaarder telah menulis beberapa bukudi antaranya Trough a Glass (1993), Darkly (1993), Maya (1999), The Ringmasters Daughter (2001), The Orange Girl (2003), dan juga Vita Brevis. Bersama Klaus Hagerup, Gaarder juga menulis tentang dunia literasi yang edisi bahasa Indonesianya berjudul Perpustakaan Bibbi Boken.

Apa sih kelebihan dari karya Jostein Gaarder? Yang jelas, Gaarder menggabungkan cerita dan filsafat menjadi satu adonan yang tak terpisahkan sekaligus tidak saling memengaruhi. Pada Sophie’s World kelihaian Gaarder membungkus pelajaran filsafat dalam surat-surat panjang membuat novel ini bisa dinikmatai dengan dua cara. Bila Anda ingin belajar sejarah filsafat,maka bacalah surat-surat misterius yang diterima Sophie. Namun bila ingin tahu cerita novel ini maka lewati saja surat-surat misterius itu. Antara surat dan cerita memang bersatu, namun menikmati masing-masig saja tak akan mengurangi kelezatan karya Jostein Gaarder kok!

Gaya tulisan pada Sophie’s World ini mirip dengan gaya menulis Gaarder  pada buku The Orange Girl (edisi bahasa Indonesia berjudul Gadis Jeruk) dan The Solitaire Mystery (Misteri Soliter). The Orange Girl malahan mengangkat tema cinta pula. Meski tak setebal Sophie’s World, bahasan The Orange Girl justru lebih variatif. Secara tidak langsung, The Orange Girl juga mengajarkan cukup banyak pengetahuan tentang astronomi kepada pembaca. Sementara itu The Solitaire Mystery mengangkat dunia paralel yang berujung pada penemuan jati diri. Keduanya membawa kita menjelajahi alam semesta dan alam imajinasi sekaligus menemukan jawaban atas filosofi hidup manusia.

Dalam setiap novelnya Gaarder memang selalu menyisipkan benang merah yang mengantar kita pada satu pertanyaan besar, apakah makna dan tujuan hidup? Hal ini menjadi ciri khas Jostein Gaarder dalam dunia kepenulisan. Dari setiap novelnya, suami Siri Danevig ini tak lupa juga menggiring pembaca untuk terus meikmati sajiannya sampai gigitan terakhir. Gaarder bisa dibilang lihai memanfaatkan rasa ingin tahu manusia. Dalam Sophie’s World misalnya, teka teki pengirim surat misterius kepada Sophie baru akan kita ketahui di akhir cerita. Kejutan-kejutan kecil di setiap bagian menambah lezat kue filsafat yang diolah Gaarder dan saya pun menyukainya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s