Sepak Terjang The Queen of Crime

Standard

Anda penggemar novel detektif? Jika iya, maka nama Agatha Christie  pasti sudah tak asing lagi di telinga. Karena kepiawaiannya menulis cerita detektif, Agatha Christie pun mendapat gelar The Queen of Crime. Sebanyak 83 novel detektifnya pun menjadi pembuktian bahwa ia layak mendapat  gelar itu sebagai “ratu criminal”.

Agatha Christie tercatat sebagai salah satu penulis fiksi terlaris sepanjang masa versi Guinnes Book of Record.  Sampai 2003, bukunya telah terjual lebih dari dua miliar eksemplar dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 45 bahasa. Di Indonesia, setiap judul bukunya rata-rata sudah dicetak ulang. Prestasi besar penulis kelahiran Torquay, Devon, Inggris itu kerapkali dikatakan sebagai rekor terbesar setelah penjualan karya Shakespeare. Yang terbaru, penerbit Herper Collins melansir delapan karya Agatha Christie dalam bentuk komik sejak pertengahan Agustus 2007 lalu.

Bisa dibilang, ia adalah perempuan yang berhasil mengeruk uang dari pembunuhan. Ya, pembunuhan! Memang itulah jualan terlaris Agatha Christie. Pembunuhan versi penulis kelahiran 15 September 1890 ini adalah “pembunuhan elit” dengan sedikit darah. Kebanyakan pembunuhan dalam novel Agatha Christie dilakukan dengan racun, seperti halnya nikotin, sianida, dan arsenik. Tak mengherankan mengingat pada masa Perang Dunia II, Agatha Christie bekerja sebagai apoteker.

Selain cerita detektif, Agatha Christie juga menulis enam novel roman dengan nama samaran Mary Wesmacott. Peraih Dame of the British Empire pada 1971 ini juga menulis empat buku nonfiksi termasuk Agatha Christie an Autobiography dan buku-buku tentang ekspedisi arkeologi yang dijalaninya bersama suami ke duanya, Sir Max Mallowan. Ia juga menulis cerita pendek dan drama, termasuk The Mousetrap yang setelah 21 tahun masih juga dipentaskan di London. Beberapa karya Agatha Christie juga telah difilmkan oleh MGM.

Agatha Christie pertama kali menulis pada 1920 berkat dorongan seorang penulis drama dari Devonshire. Debut pertamanya berjudul The Mysterious Affair at Styles (Misteri di Styles). Di buku perdana itulah ia menciptakan tokoh Hercule Poirot, seorang detektif berkebangsaan Belgia yang  kemudian menjadi terkenal. Hercule Poirot digambarkan sebagai detektif dingin berkepala bulat telur dan kumis tipis. Tokoh eksentrik karangan Agatha Christie ini kemudian menangguk ketenaran sama besar dengan tokoh detektif ciptaaan Sir Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes.

Karya puncak Agatha Cristhie adalah Pembunuhan atas Roger Ackroyd yang terbit pada 1926. Novel ini terkenal karena ending-nya yang mengejutkan. Cerita akhir yang mengejutkan memang menjadi ciri khas dan keistimewaan penulis bertangan dingin ini. Setidaknya dalam Sepuluh Anak Negro dan Buku Catatan Josephine, keistimewaan itu terbukti. Ia seringkali mempersulit kisahnya dengan berbagai teka-teki yang lain daripada yang lain.

Agatha Christie menantang pembacanya untuk ikut memecahkan misteri dengan memberikan petunjuk-petunjuk kecil dan fakta-fakta yang mengecoh di sana sini. Ia pun pandai mempermainkan pembaca yang ingin menebak pelaku pembunuhan dan selalu penasaran akan akhir cerita. Hasilnya cerita-ceritanya sangat menegangkan sekaligus sulit ditebak.

Novel-novel karya Agatha Chistie juga terkenal kaya deskripsi. Ia jago dalam menjelaskan deskripsi tokoh dan tempat. Agatha Christie adalah penulis yang peduli detil tokoh. Selain Hercule Poirot, tokoh-tokoh detektif lain hasil imajinasinya juga digambarkan dengan apik. Miss Jane Marple misalnya, digambarkan sebagai seorang perawan tua dari desa kecil, St Mary Mead. Penampilannya sederhana, khas perawan tua dari desa. Keahlian Miss Marple adalah mendengar dan menghubungkan kasus dengan pengalaman. Masih ada juga Mr. Parker Pyne, pria gemuk yang ramah, menyediakan layanan konsultasi dan penyelidikan yang dijamin memuaskan. Ia memasang iklan di koran bagi orang-orang yang ingin bahagia.

Gaya menulis Agatha Christie adalah bentuk penulisan deskriptif yang sempurna. Ia mengambil seting di daerah kelahirannya, Devon. Pengalaman berkeliling di daerah Timur Tengah pun memperkaya deskripsinya. Seting yang berasal dari pengalaman pribadi penulis itu membuat pembaca bisa dengan mudah membangun imajinasi sendiri tentang tempat kejadian.

Buku terakhir yang ditulis Agatha Chistie adalah Postern of Fate (Gerbang Nasib). Namun buku yang terakhir diterbitkan adalah dua naskah yang sudah dipersiapkan sejak 1940-an, Curtain: Poirot`s Last Case (Tirai) dan Sleeping Murder (Pembunuhan Terpendam). Tirai menceritakan kasus pembunuhan terakhir dan terbesar yang dibongkar oleh Poirot sedangkan dan Pembunuhan Terpendam merupakan buku terakhir yang menampilkan Miss Marple.

Sepak terjang The Queen of Crime ini berakhir di usia 86 tahun. Agatha Christie menghembuskan nafas terakhir pada 12 Januari 1976. Nasib “Sang Ratu Kriminal” tak setragis kisah-kisah kematian karyanya. Ia terpaksa menyerah karena flu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s