DAKON

Standard

Berakhir juga masa satu bulan tanpa menyentuh akun pribadi di FB, twitter, blog, dan Path. Rasanya, bisa kok, biasa aja. Sejujurnya karena masih buka-buka media sosial pake akun jualan, jadi nggak terlalu tersiksa. Dan hasilnya, bulan ini sudah baca 7 buku *senyum lebar*. Tujuh buku itu adalah Bliss (Kathryn Littlewood), And the Mountains Echoed (Khaled Hosseini), The Negotiator (Frederick Forsyth), N or M (Agatha Christie), Ledakan Dendam (Agatha Christie), A Dash of Magic (Kathryn Littlewood). Masih 8 buku lagi yang belum kubaca, sebagian beli lima ribuan sih :p.

Sedikit nyombong (iya kok emang pengen nyombong *dikeplak*), semua buku itu aku beli dari keuntungan jualan. Mungkin bulan ini udah abis hampir errrr sejuta. Oh ya, boros sekali, tapi aku kan butuh hiburan, dan kalau punya stok buku yang belum dibaca itu rasanya bahagia. Mungkin, ibuku di sana mengurut dada, satu-satunya orang yang sedikit menentang hobi anaknya koleksi buku ya ibuku ini. Karena apa? Karena anaknya suka kalap hehehe…

Pernah, suatu hari pas aku SMP, ibu marah karena aku beli buku Putri Huanzu (tau kan?), inget banget harganya 25 ribu. Dan akhirnya apa, buku itu hilang, lenyap, tak berbekas. Entah dicuri, entah keselip, pokoknya sampe sekarang ga ketemu. Sejak itu, ya sembunyi-sembunyi beli bukunya hehehe… Hampir semua buku Agatha Christie aku punya, sebagian mungkin masih ada di tangan temen-temen SMA yang pada minjem, ga pa pa, aku udah beli lagi wekekeke… Alhamdulillah adaaaa aja rejekinya. Buku Trio Detektif dan Lima Sekawan sudah tak karuan lagi rimbanya, tapi aku punya buanyaaaakkkk…

Waktu kuliah, ibu juga ingetin untuk ga sering belanja buku. Tapi ya gimana, jaman itu tempat paling nyaman adalah Togamas. Menjelang akhir masa kuliah, sering nulis resensi dan dapet buku gratis sih, udah gitu kalo dimuat di koran dapet 50rb dari kampus, belum lagi honor dari korannya, jadi ga berasa pake uang saku buat beli buku. Tapi yaaaa…. itu deh, kadang kan tetep besar pasak daripada tiang :p. Dulu sih, ga pake mikir yak.

Sekarang kalo beli buku pake mikir, karena satu ilmu yang dikasih sama ibu, dakon. Dakon aka congklak. Belajarnya ga langsung sih, tapi bener-bener berguna buatku yang ga punya penghasilan tetap ini. Liat aja gimana ibu menerapkan ilmu dakonnya selama ini.

Tau kan permainan dakon aka congklak? Kita ambil di satu lubang lalu disebar ke lubang-lubang lain termasuk satu lubang besar yang disebut lumbung. Lumbung itu artinya tabungan, sedangkan lubang-lubang kecil itu artinya kewajiban kita yang harus diisi. Boleh ga lumbungnya ga diisi? BOLEH banget, tapi jarang kan yang ga ngisi lumbung karena pasti kalah maennya😀.

Di kehidupan sebenernya, kehidupan pedagang kayak aku dan ibuku, ilmu dakon ini bisa diterapkan. Kalo dagang kan ada supplier, ada sales, ada pembeli, ada hutang, ada piutang, dan lain sebagainya. Semua poin itu adalah lubang kecil, sedangkan keuntungannya adalah lumbung.

Misal, tanggal 1 ibu saya gajian, artinya dapet duit (yang ga seberapa karena udah dipotong sana sini) tapi juga harus bayar tagihan koperasi. Di saat yang sama ibu harus beli telur bebek mentah buat bikin telur asin, atau harus belanja paku, karbit, atau semen karena stok di toko habis. Di saat yang bersamaan pula, anaknya yang no. 2 waktunya bayar kos, anaknya yang no. 3 minta jatah mingguan. Kalau duitnya banyak sih ga usah pusing, tapi kalau duitnya pas-pasan, dakon ini jawabannya.

Gimana cara ibuku mengakalinya? Ga tau pasti sih, aku cuma kira-kira aja ya. Pertama, orang yang pada bayar koperasi duitnya dipake dulu buat beli telur bebek karena jatuh tempo bayar koperasi biasanya tanggal 10 (kalo ga salah) sementara orang-orang kan bayar setelah gajian. Ada range waktu sekitar semingguan. Sebagian dari uang itu dikirim ke anak-anaknya. Telur asin yang sudah jadi dijual, sebagian buat bayar koperasi (nyicil) dan sebagian lagi buat belanja dagangan buat toko. Uang dari toko ini buat beli kebutuhan sehari-hari (seringnya kurang sih, apalagi kalo aku mudik, ransum buat Vio gede hahah…). Gaji ibu yang sedikit itu, dipake buat kulakan krupuk mentah (buat digoreng lalu dijual atau dijual mentahan). Untungnya ga gede, tapi bisa buat nyicil dagangan ke bulik. Selama 28 tahun aku hidup, menyaksikan jatuh bangunnya ibu ngatur duit kayak gitu, mau ga mau akhirnya bisa juga (terpaksa).

Kasusku, sedikit lebih sederhana karena anak baru satu. Aku punya 3 rekening yang menerima transferan dari customer, satu rekening itu atas nama Vio dan ada limit penarikan karena produk tabungannya taplus anak. Di rekening itulah aku nabung, biasanya yang transfer ke situ diendapkan alias ga diambil-ambil. Jumlahnya ga banyak karena memang bank bersangkutan jarang yang pake. Paling pol, sebulan lalu lintas transfer ke rekening itu cuma 5 jutaan. Marilah rekening Vio itu kita sebut lumbung.

Dua rekening lain, lalu lintasnya padat. Keluar dan ke dalam sama-sama lancarnya hahaha… maksudnya kadang sering kosong gitu loh. Pernah saldo BCA 15ribu saja, dan itu bikin aku nangis bombay, miris :p. Dua rekening inilah yang disebut lubang-lubang kecil dalam congklak, diisi untuk diambil kembali.

Bulan ini, kepala lumayan pusing karena dakon. Ada duit sekian lalu dibayarin ke sana, ada duit segini, lalu dibayarin ke sini. Udah PO ramekin ke pabrik belasan juta, ternyata lagi ada ramekin sisa ekspor yang murah meriah, jadilah kepala pengen pecah rasanya *lebay*. Lagi PO jam dinding rustic, tiba-tiba supplier lain nawarin jam telor ceplok yang lebih laku. Pusing pemirsa, akhirnya memang duit yang masuk itu ga pernah istirahat dengan tenang dan damai hahaha…

Detilnya apa yang aku kerjakan buat dakon? Sehari ini fokus jualan dan packing, setelah uangnya ngumpul lumayan, aku pesen jam dinding telor ceplok, satu masalah selesai. Ehhh… pabrik nagih DP ramekin, yak karena duit di rekening lain sudah ludes, jadi harus buka lumbung, rekening tabungan boleh kok dibobol wkwkwk… Besoknya harus bayar PO jam dinding rustic, marilah kita jualan dulu biar bisa bayar. Sehari ini posting beberapa foto untuk mengumpulkan uang biar bisa transfer tagihan jam dinding rustic. Lalu nasib ramekin sisa ekspor gimana? Dia baik-baik saja, sudah diamankan dengan sisa keuntungan yang telah dibayar ke sana-sini. Sampai gesek kartu debit dua biar tetep bisa bayar, saldonya seminim mungkin.

Selesai? Belum. Tiba-tiba sales buku sms mau nganter buku pesenan. Saldo nol, kewajiban masih ada. Jadi mari jualan lagi, share foto sesekali, bales-balesin komen, posting foto baru dan potret-potret barang yang belum sempat difoto. Alhamdulillah kalo masih ada waktu edit-edit foto.

Mak, nulisnya aja ngos-ngosan. Semuanya dipikirin sendiri, suami bantuin ngambil barang dan packing sesekali. Persis seperti ibuku, bapak bantuin juga masalah kirim-kirim dan transfer-transfer ke anak-anaknya, nyuci telor, ambil telor, nganter belanja. Bagian duit semua urusan ibu. Mengingat kompleksnya variabel keuangan yang diurusin ibuku, jadi aku usahakan ga mengeluh (tapi susahhhhh ya cyin…). Pusing-pusing ya dibawa enjoy aja. Kalo udah mulai pengen istirahat, ya mari kita tidur, kalo pengennya baca buku, ya mari kita baca buku. Dalam kondisi begini, biasanya males kalo tiba-tiba ditanyain tentang dagangan, jadi jauh-jauh dari hp atau matiin wifi :p.

Jadi pedagang itu ga gampang, bener kan? Aku baru menyadari setelah terjun sendiri hihihi… Selama ini ga ngerti jungkir baliknya ibuku. Cuma mengamati dari luar saja bagaimana ibuku lebih cepat menua. Makanya kadang aku sebel to the max kalau ada yang bilang, “Kamu enak ibumu pegawai negeri punya toko pula, masih jualan telor asin yang laris manis pula,” atau, “Mbak sih enak pelanggannya udah banyak, jadi posting apapun laku,” atau kalimat santai dari seorang teman di sosial media yang dengan entengnya bilang, “Ika sekarang bukan Ika yang dulu tapi Ika yang omsetnya 40juta.” Itu jadi pedang yang menusuk ulu hati, mematikan. Itulah yang membuatku akhirnya puasa sosmed untuk akun pribadi hehehe…

Sesungguhnya, selalu ada kesulitan yang tak perlu orang lain tau, bahkan tak perlu diceritakan kepada orang lain. Semua bagian dari proses perjuangan. Tak banyak yang tau, sebelum punya Dapur Hangus, aku udah punya dua usaha yang kolaps. Tapi kolapsnya usaha itu menjadi pelajaran berharga. Semoga ga kejadian lagi. Ketika usaha itu tutup, aku bahkan tak bisa beli satupun buku. Jadi, ketika sekarang aku bisa beli buku dengan nominal ratusan ribu dari keuntungan Dapur Hangus, jangan iri. Untuk bisa membeli buku lagi, ada kerja keras, air mata, doa, letih, dan keringat yang menghiasi dua tahun terakhir. Tapi, masih panjang jalan menuju kesuksesan. Apalagi kalau sukses versi teman-teman MLM, tinggal ongkang-ongkang kaki, wahhh…jalannya masih terjal.

Bagiku, ibuku orang sukses. Setiap orang sukses, pasti punya cerita. Bagaimana Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan P. K. Ojong berjuang. Bagaimana Aburizal Bakrie, Harry Tanoe, dan Surya Paloh bisa punya usaha yang menggurita seperti sekarang. Kebanyakan hanya mengritik ketika Facebook semakin matre atau ketika Harry Tanoe semakin narsis atau ketika Aburizal Bakrie memeluk boneka Teddy Bear atau ketika Kompas menutup Majalah Sekar. Bacalah biografi, bacalah buku, dan jadilah orang yang berbeda sesudah membacanya.

Dari N or M-nya Agatha Christie, aku belajar satu hal yang penting sekali. Di masa perang, perkataan tidak akan menyakitimu. Anggaplah saat ini masa perang aka perjuangan, hanya bom atom yang menyakitimu. Jadi, cuekinlah kalo ada yang komen-komen negatif, ga usah dibaca, skip ke komen positif aja. CATET!

Belajarlah untuk belajar. Dan satu hal yang aku pelajari dari ibuku adalah “dakon” yang sesungguhnya, bukan sekadar dakon alias congklak. Dakon itu ga mudah, Jenderal!

Peace, Love, and Gaul!

Maret

Standard

Hari terkahir di bulan ini, bulan ketiga kalender Masehi. Maret. Tiba-tiba inget kalo Maret banyak banget kenangannya. Pertama ketemu sama Najip tanggal 1 Maret 2007 (lalu menikah 6.5 bulan kemudian :p). Vio lahir bulan Maret, tepatnya tanggal 26. Lalu bikin Dapur Hangus juga Maret, tanggal 15 dua tahun lalu.

Goodbye March…

Rahma dan Rahma, 4 Tahun Sudah

Gallery

Dia Dia Dia

Standard

Dia, bocah cilik yang lahir dengan rambut lebat dan njeprak, membuat aku terharu hari Minggu kemaren. Ceritanya neneknya lagi dateng, jadi aku sama ayahnya keluar beli plastik wrap ke Cihanjuang. Pas pulang, mertua cerita kalau abis bikin nutrijell dan diajarin cara bikinnya sama bocah cilik itu. Mulai dari nyalain kompor (kompor tanem), ngaduknya, takarannya, sampai apa aja cetakannya dan cara nyetaknya. Aku bangga, dan terharu huhuhu…

Dia, bocah cilik yang sebentar lagi TK. Keukeuh ga mau pindah sekolah setelah nanti jadi kakak TK. Bocah cilik, yang menurut cerita ayahnya, disambut temen-temennya dengan senyum merekah ketika datang terlambat ke sekolah. Anak kecil yang menamai tempat perosotan dengan rumah princess, bercita-cita jadi princess dan dokter. Dia, ingin sekolah agar bisa membaca koleksi bukunya sendiri. Aku bangga, dan terharu🙂

Dia, bocah cilik yang sekarang betah sekali di rumah. Jarang mau diajak keluar. Suka sekali main playdoh, dengan kreatifnya menyulap magnet kulkas menjadi cetakan playdoh karena aku tak mengijinkannya membeli mainan kecuali dari tabungannya. Dengan cerdik dia selalu menyimpan uang kertas yang berceceran di rumah, masuk ke celengannya. Seribu, dua ribu, bahkan sepuluh ribu. Semua uang berceceran itu disimpan karena ia tahu uang receh tak cukup untuk membeli mainan di Toys Kingdom. Aku bangga, dan terharu.

Dia, Rahmania Violeta Corleone, besok ulang tahun yang ke empat. Tadi pagi jam tiga, aku terbangun dan mendapatinya tidur di ruang tamu, dengan rok princess warna ungu. Betapa cepatnya waktu berlalu, tiba-tiba sudah 4 tahun aja. Sebentar lagi TK, rasanya tak rela waktu begitu cepat berlalu. Tadi pagi, aku kembali jatuh tertidur dengan memelukmu, Princess🙂.

me and violeta

Matematika Allah

Standard

Di sekolah belajar matematika kan? Tapi yakin deh matematika yang satu ini ga diajarin di manapun. Kalau versi matematika sekolah 1+1 sama dengan dua, versi matematika yang ini belum tentu, bisa jadi sembilan, seratus, seribu, semilyar, dua triliun atau lebih. Matematika Allah.

Kok bisa? Bisa banget kok. Entah gimana ngitungnya, aku nggak tau, tapi rejeki dari Allah kan memang susah ditebak. Ceritanya tahun kemaren aku pengen korban pas Idul Adha, sejak nikah sama sekali belum pernah karena memang nggak ada dana. Patungan sama suami, lalu ya sudah mengalir begitu saja. Gak lama, KPR yang sudah 5 bulan ga ada kejelasan diapprove atau enggak, tiba-tiba diapprove. Subhanallah. Harga kambing paling 1.5 juta, tapi akhirnya bisa tinggal di rumah sendiri itu nggak ternilai harganya *ambil tissue, mewek*. Pengalaman ngajuin KPR buat pasangan yang tidak bergaji tetap itu sungguh wow sebenernya, kapan-kapan cerita lagi deh😀.

Setiap bulan, kalo lagi ada uang, biasanya aku kirimin adek2ku jatah bulanan. Ga gede, 100-300 ribu aja per orang. Waktunya ga jelas sih bisa awal bulan atau akhir bulan, tapi setiap abis ngirimin adekku, selalu ada kepuasaan batin, kelapangan rejeki lain, dan merasa bahagia banget. Kalo menurut ibuku sih karena uang yang aku kasih buat adekku itu bermanfaat buat menuntut ilmu (walopun aku yakin sih adek2ku yang satu kerjaannya makan di resto, satunya beli baju mulu hahaha :p).

Ya pokoknya Amin aja, semoga bener-bener bermanfaat. Kalo diitung materi, kebahagiaan dan kepuasan itu nggak ternilai. ABis ngasih jajan ke adikku, tiba-tiba Vio dihadiahi baju padahal ga lagi ultah, pernah juga kayak gitu. Pokoknya ada aja, ga ketebak, ga bisa diitung. Nyerah deh buat ngitung.

Dulu aku pernah sebel sama tukang parkir di Cibadak, kerjaannya ya nyamperin motor yang mau keluar tapi ga bantuin sama sekali. Pas suatu waktu dia ga ada, aku ga kasih uang parkirnya, seribu perak padahal. Tau ga hari itu aku kehilangan duit berapa? Seratus ribu! Dompet yang ga ada isi duitnya jatuh, tapi ditemuin tukang becak dan 100rb itu adalah uang jasa dia nelpon sana-sini. Kapok setelah itu, kalo sebel sama tukang parkir ya kasih seribu aja, kalo tukang parkirnya baik kasih dua ribu deh.

Duh, pas mau nulis ini takut-takut dibilang riya’. Jadi pengalaman terakhir ini diedit dan tidak akan disebarluaskan hehehe… Intinya, berbagilah dengan sesama, semakin bermanfaat, semakin baik untuk kita dan orang lain.

Aku yakin masa depan anak-anak kita ditentukan sama kebiasaan kita dari sekarang. Kalau dikasih makan pake uang haram, ya anaknya entah gimana. Makasih banget buat bapak dan ibuku udah kerja keras buat aku dan adek-adekku. *loh kok jadi pengen mewek sih, cengenggg…* Pasti bisa seperti sekarang, bisa makan enak, tidur di kasur empuk karena amalan orangtua juga, doa orangtua juga.

Untuk hal ini, sepakat sama Ust. Yusuf Mansur, semakin ikhlas semakin baik. Tapi, semua perlu dipertimbangkan juga. Kalau sama sekali ga ada duit buat makan, ya jangan maksain bersedekah. Apalagi kalo punya tanggungan anak dan istri, kasian kan.

Di twitter sering berseliweran twit-twit kayak begini. Ya aku sih ga sependapat kalo semua disedekahin, punya duit 50 ribu tinggal itu semua dimasukin kencleng masjid, trus anaknya nangis2 minta susu, aduh jangan kayak gitu dong! Percaya sama Allah sih harus, dan pasti, tetep pertimbanganlah, misal 20ribu buat anak, atau fifty fifty kan oke juga. Action katanya, tapi ga pake mikir? Jangan sampeee… Mikir juga bentuk syukur ke Allah.

Bahasannya serius amat? Iya, biar suatu saat kalo lupa, baca lagi trus inget. Jangan ditunda, berbagilah! Matematika Allah itu pasti, hanya kemampuan kita terbatas untuk memelajarinya🙂.

Kupinang Kau dengan…

Standard

Aku lagi seneng banget dengerin lagu Rosa feat Ungu, Kupinang Kau dengan Bismillah. Dulu demen juga nonton sinetronnya, pas awal-awal sih, tapi ga tau sih endingnya piye. Nontonnya berdua dong sama Najip, sampe-sampe dia pengen anaknya dinamain Nirvana. Gara-gara ya tampang Nirvana di sinetron itu pan caem abis yah. Tapi ya layaknya sinetron Endonisi, isinya seputar perempuan ditindas dan tidak bisa berbuat apa-apa, gitulah. Rasa-rasanya di kehidupan nyata kagak ada deh yang separah itu, dramarama doang.

Nah, balik lagi ke lagunya itu. Liriknya begini (sambil dengerin lagunya bo, berasa transkrip wawancara mwahahah

Kupinang Kau dengan Bismillah
Rossa feat Ungu
***
Tuhan berikanku cinta, untuk kupersembahkan hanyalah padamu
Dia anugrahkanku kasih, hanya untuk berkasih berbagi denganmu

Atas restu Allah, kuingin milikimu,
Kuberharap kau menjadi yang terakhir untukku
Restu Allah, kumencintai dirimu, kupinang kau dengan bismillah

Oooo…
Hampa terasa bila ku tanpamu
Hodupku terasa mati jika ku tak bersamamu
Hanya dirimu satu yang aku inginkan
Kubersumpah sampai mati, hanyala dirimu

Ya seperti biasalah ya, aku suka yang liriknya aku ngerti dan ga harus ditranslate. Lagu boso Jowo yang bahasanya aneh-aneh aku nggak suka, nggak ngerti. Lagu bahasa Inggris opo maneh, jarang-jarang yang nyantol. Percayalah aku nggak tau lagunya Adelle dan baru tau pas nonton Endonisi Idol. Lagu dangdut sih malah lebih masuklah hahaha… Suka ada live jaman masih di Ciwaruga, live dari radio tetangga. Trus pas maen ke Taman Safari bareng keluarga besar kemaren juga live dari OM Monata malah kebawa-bawa sampe balik ke Bandung. Maka dari itu kayaknya bakal pilih Bang Rhoma jadi presiden *ihikkk* :p.

Nah, balik lagi ke lagu ini (setelah muter-muter dari tadi), kalo dipikir-pikir enak banget ya meminang dengan bismillah. Cuma bismillah, cukup bismillah. Emang emak bapaknya si cewek mengikhlaskan gitu? KUA ga laku kali *kejauhan mikirnya*. Dan so pasti penjualan seperangkat alat sholat bakal menurun drastis hihihi… So pasti lagi (dan ini paling penting, ga akan ada perempuan yang dipinang dengan seperangkat alat liputan mwihihi *senyum manis*.

Konser Ini, Konser Itu

Standard

Pagi ini, hape bunyi, ada BBM masuk.

Wilda: Mbak, piye lek aku mbok tumbasne tiket konser Bruno Mars? (mbak gimana kalau aku kamu beliin tiket konser Bruno Mars?)
Iko: Ra usum (Ga musim)
Wilda: wkwkwkw… sing penting wis usaha.
Iko: Aku menyesal ibuk ga KB, adekku akeh hahaha..
Wilda: Wis telat menyesali

Berlanjutlah percakapan pagi itu dengan siapa yang akan aku pilih jadi adek di antara mereka bertiga. Ya, adekku tiga. Dan tiga-tiganya cewek. Tiga-tiganya udah pernah minta dibeliin tiket konser. Seminggu lalu, Aping juga minta dibeliin tiket Taylor Swift. Sebagai kakak yang baik, Wilda (akrab dipanggil Dudut) menyarankan adeknya beli es krim Walls saja, siapa tau beruntung hahaha…

Setahun lalu (kalo ga salah), Khansa juga minta dibeliin tiket nonton konser Super Junior. Tentu saja gagal, saking membludaknya para ELF mau nonton pujaan hatinya. Padahal, Najip udah mau berangkat naik travel ke Jakarta khusus buat beli tiket, tapi ceki-ceki timeline kok tampak ga memungkinkan karena dari jam 12 malem aja udah banyak yang pingsan. Okehsip, ga berharap adekku jadi salah satu yang pingsan di antara ELF yang lompat-lompat kegirangan.

Ya ampun adek-adekku, tahukah kalian, mbakmu sudah cukup loh dengerin Evie Tamala di WINAMP hahaha… Ga perlu konser ini konser itu :p. tarik mang…..

Bad News is a Good News? NO!

Standard

Rasanya sampe mau muntah jaman kuliah denger kalimat bad news is a good news. Berita yang buruk selalu dicari. Misalnya berita pembunuhan seorang mahasiwa oleh pasangan kekasih beberapa waktu lalu, hebohnya subhanallah deh. Aku termasuk salah satu yang mengikuti dan yakin kalau dua sejoli yang membunuh itu “terinspirasi” (Naudzubillah) oleh pembunuhan Sisca Yofie yang sadis.

Bad news tentu saja tak selalu laku, tapi selalu dicari. Good news, seperti kemenangan tim Persib selalu berhasil mendongkrak oplah koran lokal sampe hampir dua kali lipat esoknya. Karena itulah, koran lokal selalu berusaha menyajikan foto paling spektakuler dan berita dari berbagai sudut pandang, plus tentu saja headline halaman 1.

Beberapa tahun lalu, saya sempat ngobrol dengan GM Radar Kediri, Pak Sholihudin. Beliau bilang teori bad news is a good news salah besar. Aku ngotot itu benar, tapi dengan kalem beliau menjawab, “Kalau bad news berhubungan dengan keluarga wartawan, atau perusahaannya, atau tim sepakbola kesayangannya, tentu saja itu bukan good news.”

Percakapan itu terhenti, aku udah lupa pula setelah sekian tahun. Sampai kemaren dan kemarennya lagi. Minggu, 16 Maret 2014, terjadi longsor di daerah Alam Sejuk (dulunya), di area warung makan Saung Wargi, Jalan Kolonel Masturi Lembang. Sudah bukan cerita lagi kalo kami lagi puasa TV, jadi liat berita tentu saja dari timeline twitter.

Najip: “Alam Sejuk longosr, satu tertimbun.”
Iko: “Ohhh…” (cuek 100 persen, udah biasa Lembang longsor, jadi ga ada empati blas sama yang tertimbun.)

Esoknya paginya…
Alvin (adekku yang kecil): “Mbak ada anak Fikom tertimbun longsor.”
Iko: “Iyo, udah takdir. aku gak kenal, udah 9 tahun lalu aku kuliah.”
Alvin: “Dia anak SMP 1 dan SMA 2, adek kelasmu pisan.”
Iko: (Panik maksimal, cari-cari berita di twitter, search namanya, dan meledaklah tangis).

See, bad news tak selalu good news. Aku tentu saja tak kenal korban. Tapi, membayangkan dia pernah berlari di lapangan yang sama, maen voli di lapangan sekolah yang sama, makan soto di kantin yang sama, antri pecel di kantin Bu Pin, dan berjalan di Plasa Fikom yang sama membuat aku merasa langsung dekat.

Tentu saja, aku akhirnya tahu dia pergi ke sana untuk “menjamu” temannya yang sengaja datang dari Surabaya. Kami dulu sering melakukan hal yang sama, semasa masih tingkat 1 dan 2. Di Bandung, ada yang namanya Ald_smada (mungkin sekarang jadi ald_kediri?), paguyuban tempat ngumpulnya alumni SMA 2 Kediri dan SMA lain (biasanya sedikit soalnya). Setahun dua tahun pertama di Bandung, kami menjadi panitia study tour (istilahnya SKAL, Studi Kenal Alam dan Lingkunga) yang berkunjung ke Yogya, Bandung, Jakarta selama seminggu penuh. Jadi, wajar kami dekat, tak hanya dengan sesama Unpad, mayoritas kuliah di ITB dan STT Telkom. Wajar juga jika korban yang tertimbun kemaren semuanya alumni SMA 2 Kediri dan ada yang dari ITB.

Anda SMADA KITA SAUDARA, begitulah slogan Ikatan Alumni SMADA (IKASMADA). Terkadang berubah jadi bercandaan ANDA SMADA KITA BERJODOH saking banyaknya yang berjodoh sesama SMADA. Kemaren saya merasakan benar betapa aku merasa dekat dengan korban, merasa sakit, dan merana karena korbannya begitu “dekat” denganku.

Aku masih terus sesenggukan sambil balesin komen-komen di FB, sampai akhirnya nonton streaming di detik.com yang menunjukkan rekaman ibu korban sedang menangis. Ya tentu, aku langsung mewek lagi. Pol-pol an. Kepikiran terus. Menebak-nebak, dia pasti anak yang baik, Allah sayang dia hingga begitu cepat mengambilnya.

Sesiangan itu kerjaanku ya BBMan sama Ajeng, sesama Fikom dan SMADA. Memastikan dia kenal, adiknya si ini atau si itu. Tapi buntu. Oh ya, karena Kediri itu kecil, biasanya adikku temenan sama adiknya temenku, begitulah seterusnya, apalagi kalau sekolahnya masih seputaran SMP 1, SMP 4, MTS 2 atau SMA 1 dan SMA 2 biasanya kenal. Alvin, adekku yang sekarang tingkat 2, otomatis sempat satu sekolah dengan korban, setidaknya 2 tahun di SMP 1 (SMAnya Alvin di Malang, jadi nggak ketemu pas SMA).

Galau mau ke TKP karena cuma 3 km dari rumah kayanya, tapi ujan. Pas sore pengen ke Unpad, masih ujan juga dan packingan setumpuk. Berhasil packing 24 paket sehari, ringsek pula rasanya badanku. Kepala pusing kebanyakan nangis pula.

Abis Maghrib, Canggih, temenku sekelas waktu SMA (kalo ga salah ya Nggih) bilang Meis, korban, adalah adik sepupunya. Dia bilang Meis anak tunggal dan anak baik. Liat kan, dia anak baik, orang baik selalu dipanggil duluan. Allah sayang kamu dhek (sambil mewek ngetiknya). Lalu Iken, temen seangkatan juga cerita kalo dia temen satu kosan adiknya (sama-sama kuliah di Unpad). Ibunya Iken sering dengar suara Meis karena sering nelpon Cyntia dan Meis ikutan urun suara. Ketika jenazah disholati di Unpad, Cyntia adik Iken nggak bisa di telpon. Ibunya panik, dan akupun semakin sedih.

Gabungan capek dan capek nangis, malem itu aku tidur nyenyak. Beberapa kali bilang ke Najip pengen dihibur, tapi sebelum dia buka mulut aku udah nebak dia bakal bilang apa.

Iko: “Hibur aku dong!” (diam sedetik) “Pasti mau bilang aku menghiburmuuuu….”
Najip: “Iya, aku menghiburmu.” (ngakak)
Trus udah gitu doang, ga ada hiburan semacam kata-kata ya udah sih kamu gak kenal atau ya udah sih semua orang pasti mati. Dasar…

Bad news not a good news, akhirnya aku tau maksudnya. Tapi, satu teori lagi, berita akan dibaca jika memiliki faktor kedekatan. Bukan cuma geografis (buktinya aku ga tertarik tuh biarpun tempat longsornya sekecamatan sama rumah), tapi kedekatan emosional. Aku ga kenal Meis, sekali lagi ga kenal, tapi aku begitu sedih dan merana (sambil mewek). Mungkin kami sempat belajar teori komunikasi yang sama, faktor kedekatan objek berita, mengubah segalanya.

Selamat jalan dhek, tenang di sana. Pokoknya doaku untukmu ya Meis, maafkan tak sempat mengenalmu. Semoga tempat barumu menyenangkan. Aminn…

*mau ngelanjutin mewek dulu di kamar mandi*

Kamu Kerja APA

Standard

Kemarin sore sekitar setengah empat, tetangga deket rumahku kebobolan. Pintunya udah rusak, padahal tetangga ini pake pintu dobel loh, pintu kayu plus pintu besi dengan kasa nyamuk. Jendelanya juga udah diteralis. Nggak ada yang ilang, syukurnya. Tapi mengejutkan sekali karena sang empunya rumah baru berangkat 15 menit sebelum kejadian.

Ketika sang empunya rumah berangkat, dia sempat bertegur sapa dengan tetangga sebelah rumahnya. Mengobrol basa-basi karena sudah lama tidak bertemu padahal rumahnya bersisian. Keduanya sering pulang kerja malam hari.Tetangga sebelah rumahnya itulah pada akhirnya yang menggagalkan pencurian karena mendengar suara pintu didobrak.

Seperti biasa, aku punya kebiasaan buruk, kepo kerjaan orang. Si tetangga A berangkat jam setengah sore dan pulang jam 12 atau satu tengah malam. Kerjanya apa? Najip menyimpulkan doi wartawan, redaktur mestinya (teringat masa lalu heeh cyin? :p). Lalu tetangga B yang sebelahnya, berangkat pagi-pagi setengan tujuh paling telat, dan pulang paling cepet sebelum Maghrib. Kepo lagi dong, kerja di mana?

Tapi, Allah langsung membalas kekepoan saya dengan tunai. Ketika pembobolan sudah digagalkan, kami sekompleks berkumpul di depan TKP. Terjadilah percakapan dengan saksi mata, ibu tetangga sebelah rumah TKP yang menggagalkan pencurian.

Tetangga: Saya baru sampe rumah, sempet negor bapaknya juga dan bilang sudah lama nggak ketemu karena pulang malam-malam terus. Khawatir juga kan karena di rumah saya ini cuma ada orang kalau malem. Takutnya dia udah ngamatin
Najip: Berarti cuma kita yang jarang keluar rumah ya
Iko: (Senyum manis sambil manggut-manggut)
Tetangga: (memandang dengan pandangan menyelidik mengapa kami jarang keluar rumah, tapi nggak keluar omongan)
Iko: (Buru-buru ngejelasin) Kami berdua kerja di rumah, saya kerja di balik tembok itu, di luar rumah. Dia (suami) juga sering di rumah kerjanya, kadang-kadang aja keluarnya.

Dan percakapan itu berlanjut dengan menjelaskan kerjaanku apa, dan bagaimana kerjanya. Yoilah, siapa yang kepo, siapa yang dikorek-korek ya bo! KUALAT hahaha….

Sebagai manusia biasa, yang walopun cantik *ngapusi*, setiap blogwalking, selalu pertanyaan pertama yang muncul di benakku adalah, si empunya blog kerja apa, kerja di mana. Turunannya pasti kepo gajinya berapa kok bisa beli ABCD. Dasar!

Aku selalu bingung menjelaskan suami kerja apa, dengan satu kalimat kadang nggak cukup. Menjelaskan ke ibu juga lumayan njlimet, tapi ya ibuku ngerti aja sih. EH, ndilalah besoknya ada tante yang nanya dan ibuku lancar menjelaskannya. Jadi, kerjanya Najip apa? Doi punya Litera Media, Integrated Media Service, di bidang jasa tentunya. Mampir-mampirlah ke webnya yah, itu aku yang bikin *bangga sampe mati*. Sayangnya kalo aku disuruh bikin lagi kagak bisa, mati kutu.

Kerjanya apa aja? Yah siapa tau kantornya ada yang butuh di layoutin majalah, dibikinin web, bikin buku, atau mau bikin majalah internal, atau difotoin pas acara kantor, bisa langsung menghubungi Najip (atau manajernya: akulah :p). Atau kalo butuh jasa ke Najip boleh, bayarnya langsung ke manajer hahah… Misal pengen punya majalah tahunan, setahun sekali, bisa deh cuma kasih data-data gitu, nanti kami (kamiii ceilah) yang ngolahnya sampe majalah itu bisa dibaca. Canggih ya kami (kami lagiiii… :p).

Ya pokokna gitu deh, daripada banyak orang kewpoh, jadi aku tulisin aja di sini pekerjaan suamikuw tercintah🙂

Tiga Lagu

Standard

Di rumah ini lagi ada tiga lagu yang diputer berulang-ulang sepanjang hari. Masing-masing punya favorit sendiri. Makhluk paling kecil, sukaaaaa banget lagu Separuh Aku-nya Noah. Yes, Noah! Dia bisa sepanjang hari nyanyi lagu itu, ga peduli pas mandi, lagi naik motor, atau sambil maen.

Ayahnya lagi suka banget lagunya Ahmad Dhani, ga tau judulnya. Pokoknya dia tahu dari Dahsyat trus langsung download aja gitu. Di playlist-nya cuma ada satu lagu itu. Katanya, ini lagu Ahmad Dhani yang bagus *jadi biasanya jelek*. Ih, tapi aku curiga dia mah jeritan hati gitu deh, secara isinya ngomongin cinta masa lalu gitu wekekeke….

Emak, suka dong lagu-lagu tipe merana, seperti biasa. Tapi bukan jeritan hati ya, cuma suka aja biar sama kayak Raffi Ahmad. Siapa lagi kalau bukan Cakra Khan. Ini aku bingung deh suka karena lagunya apa karena namanya mirip-mirip sama Idolaku Shahrukh Khan. Eh ya ampunnnn… tanggal 6 nanti SK bakal konser di Jakarta, Najipppp, belii tiket dongggg, aku mau ketemu Preity Zinta aw aw aw. Siapa tau ketularan cantik dan lesung pipitnya *uhuk*.

Nah, balik lagi ke Cakra Khan, aku juga liat pertama di Dahsyat. Orang-orang udah pada heboh sih, tapi aku kalem gitu secara emang jarang nonton tipi. Tapi pas dengerin di Dahsyat, lucu juga lagunya, apalagi Vklipnya si doi didandani Korean Look gitu, jadi keinget Winter Sonata *jadi makin ga jelas sukanya karena apa sih, makkkk…*. Eitsss sampe sekarang aku belum liat Vklipnya utuh, baru potongannya aja. Tiap denger lagu itu, Vio heboh sendiri bilang itu lagu ibu wakakak….

By the way, jadi kami ya memang penonton Dahsyat. Jadi, kalau ada yang bilang penonton Dahsyat itu alay, ya kamilah salah tiganya. Yang antialay, silahkan remove friend, unfollow, atau delete contact aja yes, karena katanya yang nonton Dahsyat itu para alay wekekekek… Peace ah😀